by

P.S.I.I. Cabang Palembang, Melanjutkan Perjuangan Sarekat Islam Tahun 1933 (Bagian Kedua)

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

Dudy Oskandar

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

PSII dalam Surat Kabar Pertja Selatan

KOMENTAR kritis lewat surat kabar Pertja Selatan terhadap kelompok Arab yang pernah merebak pada pertengahan 1929 mulai mereda di penghujung 1929.

Namun Bratanata kembali membuat “ulah.” Bersama beberapa kolega PSII dia menyiasati aksi demonstrasi besar-besaran ditujukan kepada kelompok Cina, Asal-muasal aksi bulan Mei 1931 itu berasal dari luar daerah Palembang.

Adalah surat kabar Hoa Kiao terbitan Cirebon yang pada awal Mei 1931 memuat sebuah tulisan yang dianggap menghina Nabi Muhammad.

Reaksi tidak hanya muncul di kalangan kelompok Islam setempat, melainkan juga merebak di tempat atau daerah-daerah lain.

Di Palembang khususnya, para pemimpin pergerakan Islam yang besar seperti PSII mendorong massa untuk turun ke jalan.

Dengan memanfaatkan momentum krisis ekonomi yang melanda Hindia Belanda, Bratanata mengerahkan sekitar 10.000 orang demonstran melalui dewan Committe Al-Islam.

Demonstrasi yang berlangsung sekitar pertengahan Mei 1931 itu menyuarakan pembelaan umat Islam terhadap pemberitaan surat kabar Cina yang menghina agama Islam.

Sikap anti-Cina di Palembang semakin mudah disulut karena dominasi ekonomi kelompok Cina dianggap duri dalam daging oleh sebagian kaum usahawan, utamanya yang beraiiliasi dengan pergerakan politik Islam.

Untuk meredam meluasnya sentimen anti-Cina, persatuan masyarakat Cina Palembang Tiong Hwa Tjong Siang dan beberapa gabungan perusahaan besar Cina seperti The Chinese Rubber Association segera menunjukkan “dukungan” dan “simpati” terhadap kegiatan-kegiatan Committe Al-Islam.

Aksi anti-Cina kelompok Islam tersebut konon amat mengesankan, setidaknya bila dilihat dari segi jumlah peserta demonstran.

Aksi itu dianggap terbesar dari aksi demonstrasi yang pernah terjadi. Terlebih lagi gebrakan awal tahun 1930-an itu secara tidak langsung turut membangkitkan kembali semangat pergerakan yang sedang terbengkalai, yang kebetulan bersamaan waktunya dengan krisis ekonomi akibat depresi.

Kemampuan mengerahkan massa dalam jumlah yang sangat besar kelihatannya memberi keyakinan baru di sebagian kalangan pergerakan dan PSII khususnya bahwa mereka masih memiliki massa pengikut.

Bratanata sekali lagi membuat kejutan pada penghujung bulan Desember 1932. Di muka ratusan orang pengikut PSII, Bratanata menyampaikan sebuah pidato yang amat menyentuh sanubari setiap pendengar:

… Terimalah salam dari seorang yang sengsara, seorang sebangsa yang tidak merdeka, seorang diantara bangsa yang menoeroet katanya directeur B.B. bisa hidoep dengan seringgit sen sehari. Kita katakan sengsara, karena barang siapa melihat sendiri keadaan rakyat yang cilaka ini disebelah loearnya dari kota ini, maka tidak ada yang akan menyalahkan perkataan saya ini. Berpuluh-puluh penduduk dari Talang Batoetoe baru-baru ini mesti dibawa dari tempatnya ke Palembang, akan dimasukkan dalam hotel tikoes, karena tidak membayar pajak. Coba bayangkan sendiri, bagaimana sengsaranya mereka itu, berjalan siang malam, dengan tidak diberikan apa-apa untuk permakanan atau minum…”

BACA JUGA:   16 Oktober 1905: Kontroversi Kelahiran Sarekat Islam dan Hari Kebangkitan Nasional

Pidato yang boleh dikatakan merupakan tanda kebangkitan kembali kaum pergerakan pada awal tahun 1930-an itu tidak dapat berpanjang-panjang karena segera dihentikan oleh polisi yang mengawasi pertemuan.

Rapat dibubarkan dan Bratanata ditangkap serta dikirim ke penjara; karier politiknya di daerah Palembang tertutup untuk selama-lamanya.

Namun sikap keras penguasa kolonial tidak mampu menyurutkan radikalisme politik Islam di Palembang yang justru semakin mengental untuk kembali secara terbuka menyerang kebijakan kolonial.

Kepemimpinan pergerakan berangsur-angsur beralih ke tangan tokoh-tokoh asal Palembang. Posisi Bratanata dan AJ. Patty masing-masing digantikan oleh AS. Matcik dan Samidin.

Matcik adalah pemuda Palembang asal pedalaman Uluan dan seperti Samidin memiliki pengalaman pergerakan di Jawa. Perbedaan di antara keduanya hanyalah dari segi “senioritas” dalam lingkaran pergerakan.

Samidin mengasuh PNI Palembang sejak awal berdiri, sedangkan Matcik merupakan pendatang baru di dalam lingkaran kaum pergerakan Palembang zaman itu. Meski demikian Matcik mampu secara cepat menyesuaikan diri dengan dunia kaum pergerakan. Dia menjalin hubungan dengan keluarga Haji Akil dan Haji Mustafa Nangtjik bin Haji Mohammad Akil, putra Haji Akil. Keluarga pedagang besar asal Palembang pemilik perusahaan keluarga Firma Haji Akil yang bergerak dalam usaha perkapalan dan karet serta barang impor Singapura itu dikenal dekat dengan kaum pergerakan.

Markas mereka yang terletak di 4 Seberang Ulu Palembang dan sebuah sekolah agama milik keluarga Haji Akil merupakan pusat gerakan “reformis” Islam sejak awal tahun 1930an.

PSII tampil sebagai juru bicara kelompok Islam modernis. Hal itu dianggap sebagai jalan terbaik mengingat tindakan represif pemerintah terhadap partai-partai politik sejak Pemberontakan 1926-1927.

Selain itu Surat Kabar Pertja Selatan sempat menurunkan berita “Seorang Lagi Anggota PSII Air Itam Djadi Korban 153 bis” (Pertja Selatan, 5, 6,7.9,10 September 1940/ I V/Penoetoep).

BACA JUGA:   Batik sebagai Alat Pemersatu Bangsa pada Masa Penjajahan Belanda

Teks berita ini mengenai anggota PSII Air Itam yang dituduh merongrong dan mengusik kekuasaan pemerintahan Hindia Belanda, juga mengganggu ketertiban dan keamanan umum.

Tuduhannya adalah mengeluarkan pernyataan, seperti parlemen, berubah raja, ganti raja, tidak beraja Belanda.Kali ini, anggota yang diancam atas tuduhan itu adalah Hijab bin Napsin. Umurnya 26 tahun dan tinggal di dusun Tanding Marga, Marga Penukal. Sejak 4 Juni 1940, ia telah dijebloskan ke penjara sebelum diadili di muka pengadilan.

Koran ini mendukung reaksi penolakan yang dituduhkan dari Hijab Bin Napsin. Apalagi pemilik Pertja Selatan Kiagus Mohammad Adjir pertengahan tahun 1930 an sampai 1940 dia mendukung pergerakan PSII.

Di luar redaksi dan bisnis surat kabar Pertja Selatan, Adjir terlibat dalam aksi-aksi pendanaan dan kontributor logistik yang dihormati dan disegani oleh kaum pergerakan PSII. Ia turut mendanai kongres-kongres partai baik yang diadakan di kota dan daerah Palembang maupun di luar Sumatra. Selain itu, ia juga membantu pencctakan propaganda Partai PSII melalui drukkerij Meru, seperti buku, brosur, pamflet, dan kartu anggota.

Aktivitas Adjir tersebut dilakukan secara diam-diam dan tidak kentara. Ia menggunakan pembantu kepcrcayaannya untuk memberikan dana kepada aktivis-aktivis yang jelas-jelas membutuhkannya. Aktivitas masalah pendanaan atau perbincangan dapur logistik tidak dilakukan di kantor Pertja Selatan maupun di drukkerij Meru. Komunikasi dilakukan dengan pesan-pesan pendek melalui mediator. Cara ini dipakai untuk menghindari kecurigaan para pembesar kolonial yang suka memantau atau berkunjung ke kantornya dan terutama polisi-polisi kolonial dan Dinas Intelijen Belanda (PID), yang sering berkeliaran di sekitar kantor Meroe dan Pertja Selatan.

Sumber:

1. Maya Yunita Alumni Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Sriwijaya (Unsri) Alian Sair, Hudaidah Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Unsri , Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) dalam menghadapi krisis malaise di Palembang tahun 1930-1940.
2. Republik Indonesia, Propinsi Sumatera Selatan, Kementrian Penerangan, Siliwangi-Jakarta, Agustus 1954
3. Kepialangan Politik dan Revolusi ; Palembang 1900-1950, Mestika Zed, LP3ES, Jakarta , April 2003
4. Sarekat Islam dan Pergerakan Politik di Palembang, Dra. Triana Wulandari, Muchtaruddin Ibrahim, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta , 2001
5. Pers Perlawanan, Politik Wacana Antikolonialisme Pertja Selatan, Basilius Triharyanto, September – 2009

sumber: palpres.com

News Feed