by

Ulama-ulama Sumatera Selatan Dimasa Lalu

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

Dudy Oskandar

Oleh: Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

KAPAN masuknya Islam ke daerah Palembang belum dapat ditentukan secara pasti, dengan kata lain masih merupakan perdebatan karena adanya perbedaan pendapat.

Pertama ada yang menyatakan bahwa Palembang katanya, diislamkan dari Malaka, dan Lampung diislamkan dari Sultan Maulana Hasanuddin dari Banten.

Sumber ini membuat perpetaan yang menyatakan: bahwa semenjak tahun 1290 Sumatera Utara sudah menganut Islam.

Selanjutnya menjalar ke Kerajaan Samudra yang menganut Islam pada tahun 1297.

Dari sana menuju Aceh Utara, yaitu pada tahun 1400. Setelah itu berkembang di Malaka tahun 1414.

Dari Malaka menuju ke Malayu (Jambi) dan Palembang. Sayangnya tidak dijelaskan pada tahun berapa kiranya. Sumber lain menjelaskan bahwa penyebaran Islam mengikuti jalan perdagangan.

Jadi dari Malaka terus menuju ke Jawa Timur, lalu ke Maluku dan sebagainya. Pada umumnya seruan Islam ini berkembang disekitar kota dagang yang penting.

Palembangpun adalah kota penting. Sebab terletak dipersimpangan jalan perniagaan itu. Tetapi bagaimana juga pentingnya, buat pedagang Jawa dan pedagang India yang mengambil hasil bumi dari Maluku dan sekitarnya, menjadikannya hanya sebagai tempat perhentian saja.

Jadi bukan kota yang dituju. Yang dituju mereka benar adalah Jawa Timur, sebab menjadi pangkalan perniagaan itu.

Dari Jawa Timur dapat lepas kedaerah penghasil bahan penting perdagangan. Oleh karena itu maka agama Islam mula timbulnya dengan nyata adalah dipelabuhan Jawa Timur.

Ini tidak berarti menyangkal kenyataan bahwa Palembangpun mendapat agama Islam dari pedagang yang datang dari Malaka.

Hanya perkembangannya tidak sehebat seperti di Jawa Timur itu. Sedangkan sumber kedua mengatakan bahwa agama Islam datang ke Palembang pada tahun 1440 Masehi dibawa oleh Raden Rahmat, yang terkenal dengan Sunan Ngampel, salah seorang dari Wali Sembilan di Jawa.

Namun secara umum Islam sudah ada di Palembang pada abad VII M. Pada awal abad VII M ini kedua tempat yakni Palembang dan Kedah berdasarkan pendapat beberapa ahli.

Hal ini dimungkinkan karena Palembang sebagai ibukota Kerajaan Sriwijaya pada masa itu telah terdapat sejumlah muslim pribumi di kalangan penduduk kerajaan.

Hal tersebut sebagai konsekuensi dari interaksi antara penduduk Sriwijaya dengan kaum muslimin Timur Tengah yang sudah berlangsung sejak kelahiran Islam. Meskipin Sriwijaya merupakan pusat keilmuan agama Budha terkemuka di Nusantara, Sriwijaya merupakan kerajaan yang kosmopolitan.

Proses Penyebaran Islam di Palembang dilakukan dengan jalan damai dan berlangsung dalam 31 Naskah Maulid Syaraf al-Anam tersimpan dan dapat dilihat di tempat Kemas Andi Syarifuddin. Beberapa tahap

Proses Islamisasi dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya adalah melalui saluran perdagangan (ekonomi), perkawinan (akulturasi), tasawuf.

Jeroen Peeters mengintroduksi ulama organisasi di Sumatera Selatan termasuk Palembang, pada abad XX M ke dalam dua kategori, yaitu ‘ulama tradisionalis (kaum tuo) yang terlembaga dalam organisasi NU dan ‘ulama modernis (kaum mudo) yang terlembaga dalam organisasi Muhamammadiyah (Peeters, 1998).

Di Palembang sediri terkenal seorang ulama besar, bernama Kiyai Syech Kemas H. Muhammad Azhari ibnu Abdullah, yang belajar dan menjadi ahli agama Islam di Mekkah.

Di Palembang orang menyebutnya Kiyai Syech. Beliau juga sempat mengembara kebebarapa negeri Islam yang lain. Pernah juga ke Mesir, Turki, India, Afganistan dan lain-lain.

Beliau lahir di Palembang, Kampung Pedatuān 12 Ulu tahun 1806. Di Mekkah beliau menjadi pengasuh putera Islam yang datang dari daerah Sumatera Selatan.

Dan kepada beliau juga masyarakat Islam terutama dari daerah ini dikala itu menyerahkan putera-puteranya untuk dididik. Beliau meninggal pada tahun 1888, dalam usia ± 65 tahun.

BACA JUGA:   Pergerakan Nasional: Dampak dari Politik Etis

Salah seorang anaknya yang mewarisi keahlian agama Islam, adalah Kiyai Kemas H. Abdullah Azhari.

Beliau lahir di Kampung Pedatuān, 12 Ulu Palembang, pada tahun 1859 M. Semasa kecilnya beliau sudah dibawa ayahnya ke Mekkah. Beliau meninggal pada tahun 1939 setelah menyebarkan agama puluhan tahun lamanya di Palembang.

Terkenal pula Kiyai Mesagus H. Abd. Hamid, lahir ditahun 1825 Masehi di Palembang. Beliau terkenal dengan nama Kiyai Merogan atau Kiyai Mesagus Adji. Untuk menyiarkan agama beliau menyediakan biduk-biduk dan pencalang.

Menurut sejarah, pada mula pertama beliau memasuki sungai dari Batanghari Sembilan, beliau disambut dengan tombak dan lembing. Tetapi penderitaan demikian diterimanya saja dengan tabah. Di Palembang beliau mendirikan dua buah mesdjid : Mesjid Merogan, yang kini terletak didaratan muara Sungai Ogan, dekat Kertapati, dan Mesjid Lawang Kidul, terletak di Kampung 5 Ilir.

Pada tahun 1899 beliau wafat dan dimakamkan disamping Mesjid Merogan. Oleh karena beliau terkenal juga sebagai wali yang sangat diagung dan dibesarkan penduduk Palembang dan daerah yang pernah mendapat pelajaran agama dari beliau, makam beliau mendapat kunjungan yang ramai sekali, hingga kini.

Salah seorang muridnya yang terkenal pula adalah Kiyai Dulamat. Lahir di Palembang Kampung 30 – Ilir Suro.

Nama beliau sebenarnya adalah Kemas H. Abdurrahman. Beliau juga terkenal sebagai wali, dan menyebarkan Islam sampai jauh ke daerah uluan Palembang. Beliau mendirikan Mesdjid Suro, bersama-sama dengan Kgs. H. Mahmud Chotib, yang kini dinamakan Mesdjid Mahmudiyah, terletak dikampung 30 Ilir Suro.

Selain itu masih banyak lagi ulama Islam yang Lahir diabad ke-19. Pada umumnya mereka menganut mazhab Sjafi’iyah. Sistim pengajaran pada umumnya dilakukan melalui mesdjid, langgar, dan surau (tempat kiyai itu tinggal).

Di zaman itu belum dikenal orang madrasah (sekolah agama). Baru dipermulaan abad keduapuluh, Sumatera Selatan mengenal sekolah agama yang bernama madrasah.

Aliran Islam yang diajarkan oleh para penganjur dan kiyai sejak dari zaman mula kembangnya sampai saat kehebatannya itu, adalah pada umumnya menurut mazhab Sjafi’iyah, sebagai yang telah diuraikan sebelumnya.

Dan aliran ini disebut orang juga disini Tuwa. Penganutnya disebut kaum-tuwo. Memanglah patut diakui bahwa meskipun bagaimana juga pesatnya Islam itu berkembang, tetapi agama baru ini masih belum dapat mengikis habis pengaruh kepercayaan kuno, animisme, Hindu dan Buddha.

Dilingkungan desa misalnya, dibalik pengaruh Islam yang makin hari makin meluas dan membesar itu, kepercayaan lama masih juga tetap terhunjam teguh. Akibat dari percampuran ini, menimbulkan beberapa paham dan keyakinan yang dikatakan berasal dari ajaran Islam, tetapi sebenarnya tidak demikian halnya, malahan bertentangan dengan Islam. Tidak saja hal seperti itu terjadi disini.

Tetapi pun hampir diseluruh dunia Islam. Di Jazirah Arabia, pusat perkembangan Islam yang pertama, faham? Islam banyak bercampur baur dengan kepercayaan kuno dizamannya Jahiliyah. Begitulah seterusnya.

Semenjak negeri Arab banyak yang dikuasai oleh orang Barat, maka Paham Islam itupun kini sudah dapat berkenalan dengan peradaban Barat.

Hasil dari perkenalan ini, menimbulkan daya baru dalam penyelidikan terhadap paham Islam. Ke arah ini, sejarah mengenal nama Ibnu Taimiyah yang hidup diabad ke-14 Masehi. Lahir di Syria. Diabad ke-18 Masehi terkenal pula nama Muhammad ibnu Abdulwahab, lahir dan hidup di Arabia Tengah. Kemudian didukung pula oleh Muhammad ibnu Su’ud, yang datang kemudiannya. Di Mesir pada abad ke 19 terkenal Jamaluddin Al Afghani.

BACA JUGA:   Peristiwa 10 September: HUT TNI Angkatan Laut

Kemudian pahamnya dilanjutkan oleh muridnya Muhammad Abduh, yang lebih banyak menitik beratkan usahanya dilapangan analisa baru mengenai kebudayaan dan keagamaan Islam.

Pekerjaan Abduh dilanjutkan pula oleh muridnya lagi, bernama Rasyid Ridha. Rasyid Ridha telah berhasil membukukan pelajaran dan analisa tentang Islam dari Abduh.

Tafsir Qur’an yang dinamakan kepada Abduh, adalah susunan dari Rasjid Ridha, yang diambilnya pada waktu gurunya Abduh menguraikan tafsir itu.

Buku tafsir Abduh yang sangat tebal itulah menjadi pedoman bagi pengikut alirannya dalam membuat kupasan dan Pahaman tentang Islam. Aliran mereka, memang banyak juga selisihnya (bedanya) dari aliran tuwa, teristimewa mengenai soal ketauhidan dan kepahaman dalam hukum fikih.

Di India pun pokok fikiran baru ini menjalar. Terutama dalam lapangan tasawwuf dan falsafat. Aliran baru ini disebut juga aliran muda. Maksud aliran ini, adalah untuk membersihkan paham Islam dari paham bukan Islam, dan ingin mengembalikan Islam kepada aslinya. Juga akan berusaha meniupkan jiwa baru kedalam jiwa penganut Islam, yang sudah sejak beberapa lama ini seakan tidur dan tak berdaya. Jadi, bermaksud membangunkan jiwa Islam kembali. Aliran baru ini banyak mendapat pengikut.

Disekitar Hijaz, banyak sekali pengikutnya. Putera Indonesia Sumatera yang sedang menuntut ilmu di Mekkah banyak juga yang mengikuti aliran baru ini.

Penyebaran aliran baru ke Sumatera Selatan diketahui sejak permulaan abad kedua-puluh. Masuknya aliran ini berbarengan pula dengan masuknya Serikat Islam disini. Serikat Islam yang berpusat di Jawa, dibawah pimpinan Haji Umar Sa’id Tjokroaminoto, tidak lama bangunnya, berkembang pula di Palembang. Pada tahun 1914 Serikat Islam yang baru berdiri ini dibawah pimpinan R. Nangling.

Disaat itu, Serikat Islam (SI) tidak saja berjuang dilapangan politik. Disaat itu, S.I. juga memasuki lapangan pelajaran agama.

Begitu besar pengaruhnya S.I. dikala itu, sehingga tindakan dan perjuangannya banyak menggegerkan Pemerintah Hindia Belanda.

Aliran baru dari Islam yang dibawa oleh S.I. adalah dititik beratkan kepada perjuangan politik. Adapun perkembangan aliran baru Islam yang khusus mengenai lapangan keagamaan, baru kenyataan positipnya kira ditahun 1925.

Pada masa itu telah terdapat beberapa orang kiyai yang terkenal dengan kaum-mudo dibeberapa tempat didaerah ini.

Di Palembang sendiri terkenal Kiyai H. Husin dan di Ogan Ilir terkenal Kiyai H. Hamdan, di Ogan Ulu terkenal pula Kiyai H. M. Nawawi Thayib dan Kiyai H. Hakki.

Didaerah Musi Ilir terkenal Kiyai H. Basri dan Anang Abdulkarim (Kiron). Dua orang yang tersebut. terakhir, adalah murid dari Syech Ahmad Syurkati, yang dikala itu mengajarkan Islam dipulau Jawa.

Sedang yang lainnya menjadi pengikut Syech Ahmad Chatib di Mekkah. (Juga putera Indonesia berasal dari Minangkabau). Pendukung aliran baru ini tidak tinggal diam saja.

Mereka mengadakan penerangan diberbagai tempat. Akibat penerangan mereka, timbullah suatu pergolakan besar didaerah ini. Pada mulanya aliran muda ini menyebarkan pahamnya hanya dengan penerangan biasa saja. Akan tetapi sesuai dengan kebangunan baru dilapangan organisasi, maka kira pada tahun 1929 dibangunkanlah didaerah ini organisasi bernama Muhammadiyah” yang berpusat di Jawa. ***

Sumber :

1. Endang Rochmiatun Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah Palembang, Bukti-Bukti Proses Islamisasi di Kesultanan Palembang
2. Republik Indonesia, Propinsi Sumatera Selatan, Kementrian Penerangan , Siliwangi-Jakarta, Agustus 1954
3. Jeroen Peeters , Kaum Tuo-Kaum Mudo: Perubahan Religius di Palembang, 1821-1942, Indonesian-Netherlands Cooperation in Islamic Studies (INIS), 1997

sumber: palpres.com

News Feed