by

Homeschooling Ala Agus Salim di Tengah “Pandemi” Kolonial

Print Friendly, PDF & Email

Kronologi, Gorontalo – Tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Momen Hari Pendidikan Nasional tahun ini sangat spesial, karena bertepatan dengan bulan suci Ramadan. Di tahun 2020, masyarakat dipertemukan dengan dua momen yang sama-sama mengandung nilai-nilai pendidikan bagi kehidupan manusia.

Namun menjadi sangat berbeda, ketika momen yang mencerahkan dirasa suram akibat pandemi corona yang melanda Indonesia sejak awal tahun kemarin.

Tidak ada upacara, tidak ada perayaan Hardiknas seperti tahun-tahun sebelumnya. Sejak pemerintah menetapkan status siaga darurat pandemi corona, masyarakat diminta untuk stay at home atau di rumah saja.

Aktivitas masyarakat di luar rumah menjadi terbatas. Aktivitas ibadah di bulan Ramadan yang biasanya dilaksanakan di masjid-masjid penuh suka cita, harus diganti di rumah masing-masing diselimuti rasa duka cita.

Begitu pun aktivitas di sekolah. Guru dan siswa dianjurkan untuk belajar dari rumah.

Aktivitas belajar di rumah diharapkan tetap optimal dengan hadirnya orang tua di samping anak ketika belajar. Selain itu, pelaksanaan belajar melalui media daring juga diterapkan sebagai ruang untuk guru dan siswa bertatap muka layaknya di kelas. Meskipun, ada sebagian yang belum bisa merasakan dan memanfaatkan fasilitas ini.

Berbicara soal belajar di rumah, puluhan tahun yang lalu, salah satu proklamator bangsa Indonesia, telah melaksanakannya lebih dulu.

Dari delapan anak sang Proklamator, tujuh di antaranya dididik dan diajar sendiri oleh sang proklamator di rumah dengan bantuan sang istri. Bahkan ketujuh orang anaknya itu, tidak dimasukkan ke sekolah formal.

Dialah diplomat jenaka penopang bangsa asal Koto Gadang, Sumatra Barat, Haji Agus Salim.

Jika dikaitkan dengan masa pandemi yang terjadi sekarang, pria kelahiran 8 Oktober 1884 ini jauh lebih dulu me-lockdown anak-anaknya. Dia tak mengizinkan ketujuh anaknya untuk menempuh jalur pendidikan lewat sekolah formal di masa kolonial dulu.

“Jadi Agus Salim itu pandemi untuk anak-anaknya. Anak-anaknya di-lockdown di rumah, belajar di rumah. Jadi relasinya adalah lockdown itu ternyata tidak membatasi untuk bisa belajar. Karena di musim yang tidak ada wabah saja, Agus Salim sukses melaksanakan pendidikan di dalam rumah. Semua berangkat dari kemauan,” kata Akademisi FEBI IAIN Sultan Amai Gorontalo, Supandi Rahman.

Kenapa hal ini ia lakukan, dan bagaimana cara Haji Agus Salim sukses menjalankan homeschooling?

Pendidikan tanpa sekolah formal

Jalan Agus Salim memilih untuk tidak memasukkan anak-anaknya ke sekolah formal sudah kuat sejak dulu. Keinginan yang kuat itu dia sampaikan kepada Istrinya, Zainatun Nahar, saat mereka belum memiliki anak.

“Nanti kalau kita punya anak, kita tidak akan sekolahkan mereka,” demikian salah satu anak Agus Salim, Siti Asiah atau Bibsy mengingat ucapan sang ayah yang dituturkan ibunya dalam serial buku tempo: Agus Salim Diplomat Jenaka Penopang Republik.

Apa yang dikatakan Agus Salim bukan sebatas retorika saja. Keinginannya benar-benar dilaksanakan. Bibsy sukses menjadi “alumni” homeschooling sang ayah bersama keenam saudaranya yang lain.

Kesuksesan Agus Salim mendidik anak-anaknya di rumah dengan bantuan sang istri bisa dilihat dalam diri Bibsy. Sejak kecil Bibsy sudah fasih berbicara menggunakan bahasa Belanda. Bagaimana tidak, sejak lahir, Bibsy dan keenam saudaranya sudah diajak berbicara menggunakan bahasa negara Kincir Angin itu.

Melihat Agus Salim sebagai pribumi yang terpelajar dan berpendidikan tinggi, kerabat serta tetangganya menilai aneh keputusan tidak menyekolahkan anaknya di sekolah formal.

Sang kakak, Jacob Salim juga tak pernah menyerah mendorong saudaranya itu untuk mengubah keputusannya. Apalagi, pada masa itu, anak-anak yang tidak bersekolah lewat jalur formal dirasa aneh dan dipandang tidak wajar.

BACA JUGA:   Kisah para Pemimpin Islam yang berasal dari Pengusaha Kretek di Kudus

Namun bukan Agus Salim sang diplomat ulung namanya, jika tak mampu menjawab penilaian itu. Agus Salim memiliki landasan ideologis yang amat kuat atas keputusannya.

Kenapa hal itu dilakukan, sebab Agus Salim tak ingin isi kepala anak-anaknya dipenuhi pemikiran dan kebudayaan penjajah. Dia tak ingin jiwa anaknya tidak mendapatkan kebebasan untuk tumbuh sesuai dengan jiwa anaknya.

Ouder Heer (sang lelaki tua) menilai, sekolah formal saat itu menganut sistem pendidikan kolonial. Sistem pendidikan yang amat diskriminatif terhadap kaum pribumi. Sekalipun anak-anak pribumi memiliki pengetahuan atau kemampuan yang sama bahkan melebihi anak Belanda, mereka tetap mendapatkan nilai yang rendah.

Lebih dari itu, Pak Tua dengan keahlian berbicara dalam sembilan bahasa ini menilai, sekolah formal saat itu hanyalah cara Belanda demi kepentingan penjajahan, bukan tempat mendidik jiwa agar mandiri.

Homeschooling ala Agus Salim

Bibsy memang tidak pernah dididik di sekolah formal seperti anak-anak lain pada masanya dulu. Dirinya tumbuh dan berkembang lewat bimbingan orang tuanya, Agus Salim dan Zainatun Nahar.

Dalam pelaksanaannya, Agus Salim dan Zainatun Nahar berbagi tugas. Sang ibu bertugas mengajari anak-anaknya membaca, menulis, dan berhitung . Sedangkan Agus Salim mengajarkan segala hal. Terutama yang berkaitan dengan adab dan akhlak menuntut ilmu. Sungguh perpaduan ciamik antara ibu-bapak yang jarang kita temukan saat ini.

“Tidak ada kelas dan jam pelajaran mengikat,” kata Bibsy yang dikutip dari wawancaranya bersama Tempo dalam buku Agus Salim: Diplomat Jenaka Penyangga Republik.

Hal pertama yang diajarkan Agus Salim dan istrinya adalah berbicara bahasa Belanda sejak bayi. Sebab menurut Agus Salim, bahasa Belanda saat itu sangatlah penting untuk pengetahuan. Apalagi, bagi keluarga terpelajar. Betapa eksklusifnya homeschooling ala Agus Salim ini. Meskipun dari rumah, tapi standar pengajarannya bukan main-main.

Saat homeschooling berlangsung, kata Bibsy, keadaannya mengalir begitu saja, tanpa ada aturan yang mengikat soal waktu dan tempat. Agus Salim dan istrinya mengajari anak-anak mereka dengan memperhatikan sisi kenyamanan mereka agar tidak bosan.

“Pelajaran membaca dan berhitung disampaikan dengan santai seolah-olah kami sedang bermain,” kata Bibsy.

Ayah dan ibunya, kata Bibsy, mengajar dengan selalu menyisipkan pesan-pesan penting saat bercerita. Tak jarang, pesan-pesan penting itu disampaikan lewat sebuah lagu yang liriknya berasal dari sajak-sajak pujangga kelas dunia.

Bukan hanya itu, Encik Agus Salim sudah membiasakan anak-anaknya dengan buku. “Di rumah selalu ada buku, karena kakak-kakak saya adalah anggota perpustakaan.”

Melihat karier Agus Salim di masa merebut kemerdekaan, sama seperti melihat taburan bintang di langit. Sangat banyak. Penerjemah, aktivis politik, wartawan, diplomat ulung, negarawan, alim, dan intelektual kelas wahid.

Akan tetapi dia selalu memastikan, waktunya selalu tersedia untuk mengajar anak-anak. Saat memberikan bimbingan, Agus Salim tidak pernah keberatan dibantah. Jika menerangkan sesuatu, dia tidak akan berhenti berbicara sebelum apa yang diajarkan benar-benar dipahami oleh anaknya.

Jika dibayangkan, cara itu pasti membosankan. Tapi berbeda dengan anak-anak Agus Salim. Mereka malah antusias dan tidak bosan dengan gaya ayahnya mengajar yang benar-benar disesuaikan dengan kenyamanan sang anak. Kadang sambil makan dia bercerita hingga berjam-jam. Karena kepiawaiannya berhumor, dia selalu menyelipkan humor di setiap apa yang dibahas. Sehingga apa yang dibicarakan memikat.

Hal penting yang perlu kita petik dari Agus Salim selama menjalankan homeschooling adalah prinsip dasarnya membuat anak-anaknya senang, bukan semata-mata membuat pintar namun melupakan kondisi batin mereka.

Dalam buku Hadji Agus Salim: Pahlawan Nasional, istri Agus Salim menuturkan, sikap sang suami yang tidak pernah marah dalam mendidik anak-anaknya. Bahkan sikapnya dalam membimbing atau mendidik anak-anaknya sangat indah.

BACA JUGA:   Saat Agus Salim Jadi Intelijen Belanda & Memata-matai Sarekat Islam

“Kami dilarang memberikan kualifikasi kepada anak-anak, misalnya kamu nakal atau kamu jahat. Itu tidak boleh,” ujar dia.

Agus Salim sebenarnya telah memberikan dua kemerdekaan semasa hidupnya. Pertama kemerdekaan bangsa Indonesia, yang kedua kemerdekaan bagi anak-anaknya untuk tumbuh dan berkembang sesuai jiwanya masing-masing secara wajar. Tidak terkekang oleh kehendak dan perintah orang tua. Bagi Agus Salim, tugas orang tua hanya sebatas membimbing dan menuntun bukan menuntut.

Lalu apakah dengan model pendidikan seperti itu anak-anak Agus Salim tumbuh sukses? Jawabannya sudah pasti iya. Putri sulungnya, Theodora Atia tumbuh menjadi wanita yang aktif dalam gerakan Wanita Islam dan organisasi Lembaga Indonesia Amerika. Anak keduanya, Jusuf Taufik pernah bekerja disebuah biro iklan, kemudian menjadi penerjemah. Islam Basari Salim, anak keenamnya menjadi tentara dengan pangkat kolonel dan menjabat atase militer Indonesia di Cina.

Sedangkan Bibsy, putri bungsunya bekerja di sebuah perusahaan asuransi. Dia menikah dengan seorang mantan konsul di Jepang. Ia juga dikenal sebagai penyair. Di tahun 1998 ia menulis antologi Heart & Soul.

Kumpulan puisi yang ditulis sepanjang tahun 1962 sampai dengan 1998 itu memiliki 50 sajak. 11 di antaranya ditulis dalam bahasa Indonesia, 2 di antaranya dalam bahasa Prancis, dan sisanya dalam bahasa Inggris. Seperti bapaknya, Bibsy tumbuh menjadi seorang poliglot (mampu menguasai banyak bahasa) seperti sang ayah Oude Heer (sang lelaki tua) yang menguasai sembilan bahasa dunia.

Memang benar kata Tan Malaka: Yang mustahil hari ini akan menjadi hal yang biasa-biasa saja hari esok. Sesuatu yang dianggap aneh dan mustahil dari Agus Salim saat itu, hari ini menjadi hal yang biasa ketika masa pandemi.

Dua situasi yang berbeda namun mengharuskan anak-anak bersekolah di rumah. Agus Salim karena ingin menghindarkan anak-anaknya dari paham kolonial, orang tua sekarang menuntut anaknya belajar di rumah untuk menjaga sang anak dari wabah virus corona. Dua kondisi ini jelas berbeda, iya, tapi sama-sama membahayakan orang banyak di masanya masing-masing.

Akan tetapi, kita perlu belajar dari kesuksesan Agus Salim mendidik anak-anaknya dari rumah. Tanpa internet, tanpa fasilitas pendukung lainnya, yang ada hanya buku, Agus Salim berhasil membuat anak-anaknya merasa nyaman, senang, tidak tertekan selama belajar di rumah.

Di masa lockdownnya, Agus Salim berhasil membuat rumahnya menjadi tempat untuk mengasah mental, pengetahuan, dan akhlak dengan cara mengasuh dan mengasihinya lewat cinta Sang Istri. Rumahnya menjadi sebuah ruang yang lebih berarti dari sebuah ruang kelas saat itu. Dan Agus Salim berhasil menunjukkan bahwa orang tua sebagai jalan yang menuntun anaknya menemukan jiwa berdasarkan minat dan bakatnya masing-masing dengan cara yang wajar. Bukan jalan yang menuntut keras lalu kemudian memaksa anaknya tumbuh di bawah tekanan “kalau tidak belajar, pukul, kalau tidak belajar, marah”

Semoga Pandemi ini akan segera berhenti. Kemudian siswa-siswi akan kembali menginjakkan kakinya di sekolah dengan segudang pengetahuan yang diperoleh dari rumah lewat bimbingan orang tua.

Layaknya Agus Salim yang memasukkan anak bungsu laki-lakinya, Mansur Abdur Rachman Ciddiq ke sekolah formal setelah Belanda meninggalkan Indonesia. Sebab menurut penilaian Ouder Heer (si lelaki tua) Agus Salim, sekolah Indonesia saat itu telah bebas dari “pandemi” kolonial, khususnya di bidang pendidikan.

Penulis: Yakub Kau
Editor : Zulhamdi

sumber: kronologi.id

News Feed