by

Syekh Abbas Qadhi Ladang Laweh: Sejak Arabiyah School Hingga Landraad Bukittinggi

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

Langgam.id – Abbas bin Wahab lahir di Ladang Laweh, Banuhampu, Agam pada pertengahan abad ke-19. Dalam perjalanannya, ia kemudian dikenal sebagai Syekh Abbas Qadhi Ladang Laweh, salah satu ulama tradisional Minangkabau yang berpengaruh memperbarui sistem pendidikan Islam.

Tahun kelahirannya tak diketahui pasti. Nur’aini Ahmad yang menulis profil Syekh Abbas di Buku “Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat” (1981) memperkirakan sekitar tahun 1285 Hijriah atau 1860-an Masehi.

Syekh Abbas terlahir dari keluarga terkemuka. Ia adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Saudara seibu sebapaknya Haji Muhammad Datuk Bagindo. Sedangkan saudara seibu lain ayah adalah Syekh Abdul Hamid (tokoh tarekat Syattariah di Ladang Laweh).

Masoed Abidin dkk dalam “Ensiklopedi Minangkabau” (2010) menulis, di masa kecil, Syekh Abbas belajar mengaji dan agama pada Syekh Angku Mudo di Ladang Laweh. Kemudian melanjutkan ke salah satu guru di Biaro dan selanjutnya ke Mekkah.

Syekh Abbas kemudian mengajar mengaji di Ladang Laweh. Anak didik beliau datang dari berbagai kampung sekitar. Beberapa murid yang sempat belajar padanya kemudian juga menjadi ulama, yakni Syekh Ibrahim Musa Parabek, Akhmad Khatib (menjadi mufti di Thailand), Syekh Abdul Malik, Haji Sulta’in Maninjau, Haji Mustafa Salim dan juga anak-anaknya sendiri. Salah satu anak Syekh Abbas yang kemudian jadi ulama adalah KH Sirajuddin Abbas.

BACA JUGA:   Turut berduka cita atas wafatnya Ir. H. Adi Darma, M.Si Ketua Dewan Wilayah Syarikat Islam Kalimantan Timur

Pada 1912, Syekh Abbas menjadi ketua Syarikat Islam di Kabupaten Agam. Khawatir akan memunculkan perlawanan, pemerintah Hindia Belanda melarang aktivitas tersebut. Ia dilarang berhubungan dengan para aktivis SI di Pulau Jawa.

Ia kemudian lebih berkonsentrasi pada dunia pendidikan. Pada 1916, ia mendirikan madrasah di Ladang Laweh. Dua tahun berikutnya, pada 1918, sekolah agama Arabiyah School di Gobah, Banuhampu.

Menurut Djohan Effendi dalam “Pembaruan Tanpa Membongkar Tradisi” (2010), Syekh Abbas Qadhi memainkan peranan dalam mengadakan reformasi sistem pendidikan. “Tidak seperti ulama tradisionalis lain yang mendidikan surau, ia adalah ulama tradisionalis pertama yang mendirikan lembaga pendidikan dengan sistem sekolah,” tulisnya.

Ia menulis, Syekh Abbas memainkan peranan yang berbeda dengan rekannya Syekh Khatib Muhammad Ali di Padang. Syekh Khatib, menurutnya, memainkan peran sehingga ulama-ulama tradisional bisa terlibat dalam gerakan politik.

“Tantangan muncul, ketika sejumlah murid (Syekh Abbas) menyelesaikan pendidikan di Arabiyah School dan bermaksud melanjutkan pendidikan mereka ke madrasah yang lebih tinggi,” tulis Djohan.

Karena itu, kemudian Syekh Abbas meminta Syekh Sulaiman Ar-Rasuli mendirikan madrasah yang lebih tinggi. Syekh Sulaiman yang akrab dengan sapaan Inyiak Canduang itu kemudian pada 1926 mendirikan Madrasah Tarbiyah.

Syekh Abbas sendiri pada 1922, sempat menggagas berdirinya Persatuan Ulama Sumatra dan sekaligus diangkat menjadi ketua perkumpulan ini. Namun, organisasi ini hanya bertahan hingga 1928.

BACA JUGA:   Tasyakkur Milad ke-115 Syarikat Islam melalui virtual pada hari Jumat, 16 Oktober 2020 pukul 19.00 WIB

Berbagai aktivitas Syekh Abbas dinilai Pemerintah Hindia Belanda cukup mengkhawatirkan. Ia kemudian didekati dan diangkat jadi Qadhi di Landraad Bukittinggi. Dengan tugas ini, ia memiliki wewenang mengurus dan menyelesaikan masalah-masalah masyarakat yang berhubungan dengan pengadilan Belanda.

Buku “Ensiklopedi Minangkabau” menulis, kesediaannya diangkat menjadi Qadhi Landraad karena ingin mewarnai pengadilan Hindia Belanda dengan ajaran Islam. Selain itu, juga untuk membela kepentingan masyarakat. Meski demikian, jabatannya tersebut dikritik sejumlah tokoh dan ulama. Ada pula yang mendukung, salah satunya adalah Syekh Sulaiman Ar-Rasuli.

Kesibukannya sebagai Qadhi, kemudian membuat Syekh Abbas tak punya banyak waktu untuk mengajar di madrasah Ladang Laweh. Pada 1924, ia kemudian mendirikan Islamic School di Aua Tajungkang, Bukittinggi.

Pada 1928, Syekh Abbas bersama Syekh Sulaiman Ar-Rasuli, Syekh Muhammad Djamil Djaho Padang Panjang, Abdul Hamid Tabek Gadang Suliki dan Mohammad Arifin Batur menggagas berdirinya organisasi Madrasah Tarbiyah Islamiyah (persatuan madrasah-madrasah agama).

Di madrasah ini, meski tidak menggunakan sistem halaqah, murid-murid tetap diajarkan pada kitab-kitab lama dan konsisten mempertahankan I’tiqad ahlusunnah wal jama’ah dan mazhab Syafi’iyah.

Syekh Abbas Qadhi Ladang Laweh wafat pada 21 Sya’ban 1370 Masehi atau bertepatan dengan 27 Mei 1951, dalam usia 85 tahun (hitungan tahun hijriah). (HM)

sumber: langgam.id

News Feed