by

Rasyid Ridla (8): Tragedi Mahmal, KH Mas Mansur, dan Tjokroaminoto dalam Muktamar Alam Islami 1926

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

Kota Suci Makkah yang jatuh ke tangan Ibnu Sa’ud baru pada akhir tahun 1924. Ali bin Syarif Husein baru setahun kemudian melarikan diri dari Jeddah, sudah tentu keadaan di Makkah belum aman benar. Masih amat dikhawatirkan adanya gerakan gelap dari bekas pengikut Syarif Husein untuk menggulingkan Ibnu Sa’ud. Kabar Pembrontakan Maka menjelang musim Haji tahun 1926, yaitu pada bulan Dzulqadah, pemerintah Ibnu Sa’ud memperoleh berita bahwa beberapa pejabat di Hijaz telah bermufakat rahasia untuk melancarkan pemberontakan pada waktu berlangsungnya ibadah Haji itu. Rencana itu telah gagal dengan ditangkapnya kurang lebih 50 orang yang terlibat dalam aksi itu. Orang menyangka bahwa kejadian itu adalah hasil adu domba yang dilakukan pihak Inggris. Persangkaan itu bertambah kuat dengan datangnya surat dari Raja Fuad kepada Ibnu Sa’ud yang mengkhabarkan bahwa Kerajaan Mesir akan mengirimkan kelambu Ka’bah sebagaimana biasanya. Tragedi Mahmal Kali ini pengiriman kelambu dengan pengiring sejumlah 3.000 tentara bersenjata lengkap dan membawa seperangkatan musik agar supaya kelihatan bertambah semarak. Ibnu Sa’ud mengirimkan surat balasan yang menyatakan tidak berkeberatan menerima iringan itu dan akan disambut dengan segala kebesaran. Namun, ia tak dapat mengizinkan pasukan sebesar itu masuk ke tanah Hijaz dalam jumlah yang melewati dari biasanya. Demikian pula perangkatan musik tidak diperkenankan memasuki kota Makkah. Karena menurut agama hukumnya, haram jika dipersamakan dengan upacara ibadah. Maka tentang ini, hendaknya Pemerintah Mesir meminta fatwa kepada Ulama Al-Azhar. Tentang orang Mesir yang akan naik Haji, Ibnu Sa’ud tidak keberatan berapa pun besar jumlahnya. Surat Ibnu Sa’ud tersebut disampaikan kepada ulama Al-Azhar dan ternyata mereka menyetujui pendapat Ibnu Sa’ud. Mahmal dari Mesir yang membawa kelambu Ka’bah pada tanggal 11 Juni 1926 telah sampai di dekat Mina dan tentara Mesir yang mengawal membunyikan terompetnya. Beberapa orang Arab dan Nejed tidak senang mendengar bunyi itu karena dianggap haram hukumnya. Mereka berkerumun dan mengganggu, di antaranya melempar dengan batu. Karena diserang itu tentara pengawal mahmal membalas dengan panah dan senjata api yang dibalas pula oleh tentara Nejed yang bertugas menjaga keamanan. Maka terjadilah tembak-menembak yang mengakibatkan tewasnya beberapa puluh orang dari kedua belah pihak dan jamaah Haji. KH Mas Mansur dan Tjokroaminoto Pangeran Faisal putra Ibnu Sa’ud datang membawa sepasukan lasykar untuk mengembalikan keamanan. Setelah aman kembali iringan mahmal melanjutkan perjalanan dengan selamat. Pangeran Faisal kelihatan sedang bercakap-cakap dengan seorang jamaah Haji dari Indonesia. Orangnya pendek dan gemuk, kulitnya hitam manis. Amat lancar berbahasa Arab. Keduanya sangat asyik berbicara. Orang Indonesia itu tidak lain adalah KH Mas Mansur, Konsul Hoofdbestuur (Pengurus Besar) Persyarikatan Muhammadiyah untuk Jawa Timur. Percakapan itu terjadi di Mudzalifah, sementara iringan mahmal berjalan aman dikawal keras oleh tentara Sa’udi. Tahun itu, sedianya di Makkah akan diadakan Muktamar Alam Islam atas undangan Ibnu Sa’ud. Utusan dari Indonesia ialah KH Mas Mansur dan Oemar Said Tjokroaminoto dari Partai Sarekat Islam, bertiga dengan KH. Muhammad Baqir yang sudah lama menetap di Makkah. Utusan itu disambut serta dijamu oleh Ibnu Sa’ud sebagai tamunya dan diterima pula menghadap secara khusus. Tjokroaminoto menerangkan segala sesuatu tentang partainya, Sarekat Islam. Sedang KH Mas Mansur memaparkan maksud dan tujuan organisasinya, Muhammadiyah, yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada tahun 1912. Kemudian, mereka bertiga membicarakan hal-ihwal umat Islam dan masalah Khilafat Islam. Diplomasi Rasyid Ridla Waktu itu, Rasyid Ridla juga sedang berada di Makkah. Selain untuk menunaikan ibadah Haji juga untuk menghadiri Muktamar itu serta menemui Ibnu Sa’ud. Alangkah sedih hatinya menyaksikan insiden yang terjadi itu. Insiden atau tragedi pengiriman mahmal menyebabkan putusnya hubungan diplomatik antara Mesir dan Hejaz. Sehingga pengiriman mahmal selanjutnya terhenti selama sepuluh tahun. Segala ikhtiar yang mungkin telah dilakukan oleh Rasyid Ridla untuk menyambung ukhuwwah antara kedua negara Islam itu. Sembilan tahun sudah hubungan kedua negara itu tidak serasi. Maka pada suatu ketika, putra mahkota Amir Sa’ud kembali dari lawatannya ke Eropa dan singgah ke Mesir. Anjuran memperbaiki hubungan sangat berkenan di hati putra mahkota itu. Dengan harapan yang besar Rasyid Ridla mengantarkan dia sampai ke Suez. (Bersambung)

BACA JUGA:   3 Tokoh Pergerakan Nasional yang Menginspirasi

Editor: Arif.

sumber: ibtimes.id

News Feed