by

Kejenakaan Haji Agus Salim

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

Kenangan lucu tentang Haji Agus Salim dari orang-orang yang mengenalnya secara dekat.

header img
 Haji Agus Salim di tengah sahabat (wikimedia commons)
Dikenal sebagai seorang intelektual dan diplomat handal, tidak menjadikan Haji Agus Salim (HAS) melulu berurusan dengan hal-hal serius. Bahkan bisa dikatakan keseharian mantan menteri luar negeri Republik Indonesia itu sejak mudanya memang selalu dipenuhi kisah-kisah jenaka.Almarhumah Bibsy Soenharjo (Siti Asia), salah satu putri HAS, mengakui kebiasaan melucu dari sang ayah. Selain itu hal yang disenangi Bibsy dari HAS adalah kebiasaanya untuk memberikan kebebasan berkespresi kepada anak-anaknya. Kendati sebagian besar putra dan putri HAS tidak pernah mengeyam bangku sekolah formal, namun  itu tidak menjadikan mereka kuper. Bahkan sebaliknya, di bawah didikan langsung sang ayah mereka justru tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan berpengetahuan terutama dalam penguasaan bahasa asing.

Patjee (panggilan akrab keluarga untuk HAS) tak pernah memerintahkan atau memaksa kami untuk belajar. Kalaupun ia ingin memberitahu sesuatu, pasti dilakukannya dalam suasana santai dan penuh jenaka,”ujar perempuan sepuh yang menguasai secara baik beberapa bahasa Inggris, Belanda dan Jepang tersebut.

Mantan diplomat sekaligus tokoh Masyumi Mohamad Roem, mengakui asyiknya belajar dari HAS. Berbeda dengan guru-guru pada umumnya, HAS selain jenaka juga selalu tak menampilkan dirinya sebagai seorang yang paling tahu. Materi pengajaran pun akan mengalir begitu saja laiknya momen obrolan biasa.

“Dia selalu tanamkan kemauan untuk mencari sendiri pengetahuan lebih lanjut,”ungkap Roem dalam buku Manusia dalam Kemelut Sejarah.

Ada kejadian lucu yang selalu dikenang oleh Roem dari HAS. Ketika tinggal di Tanah Tinggi,Jakarta, jalan menuju rumah HAS selalu becek jika turun hujan. Situasi tersebut tak jarang  menjadikan para pemuda pergerakan yang kerap mengunjungi rumah HAS harus turun dari sepeda dan mengangkatnya ke atas guna menghindari lumpur yang memenuhi ban sepeda.

BACA JUGA:   MTs Cokroaminoto Madukara Kabupaten Banjarnegara memulai implementasi KBM Tatap muka dengan Adaptasi Kebiasaan Baru

Kondisi itu kadang menjadi bahan ejekan HAS jika para pemuda itu datang dalam kondisi sangat payah dan kotor karena harus menangani sepedanya. Dalam suatu pertemuan dengan Mohamad Roem dan kawan-kawan, HAS sempat melontarkan leluconnya tentang itu:

“Hari ini anda datang secara biasa. Kemarin peranan sepeda dan manusia terbalik: manusia justru yang ditunggangi sepeda…”

Bukan hanya orang Indonesia saja yang merasakan hal tersebut. Jeff Last, salah satu tokoh sosialis Belanda, termasuk manusia yang sangat mengagumi HAS. Jeff mengakui dari HAS-lah ia mendapatkan penjelasan yang mengesankan tentang Islam.

“Dalam kebijaksanaannya yang riang, beliau telah berhasil menghilangkan prasangka-prasangka yang bukan-bukan mengenai Islam yang saya peroleh ketika menjadi murid HBS Kristen…”tulis Jeff Last dalam buku Seratus Tahun Haji Agus Salim.

Begitu kagumnya Jeff kepada HAS hingga seusai orang tua tersebut menyampaikan ceramahnya di depan anak-anak muda marxis Belanda di Kijkduin pada 1929, ia nekat mengajak HAS untuk mengunjungi rumahnya di Jalan Baarsjes. Tanpa diduga HAS menyambut baik ajakan Jeff itu.

BACA JUGA:   Modernisasi Islam di Jawa, Berawal dari Para Haji yang Reformis

Hanya dalam waktu semalam saja, HAS telah berhasil menarik hati seluruh keluarga Jeff. HAS dengan gayanya yang santai berbicara akrab dengan seluruh anggota keluarga Jeff dan bercanda dalam cerita-cerita jenaka dengan anak-anaknya Jeff.

“Dalam waktu satu jam, ia telah berhasil menarik hati anak-anak saya,” kenang Jeff.

Femke, salah satu putri Jeff sangat menyukai HAS. Begitu berkesannya Femke kepada HAS sampai dalam suatu kesempatan ia bertanya kepada ayahnya apakah HAS merupakan sinterklaas dari Indonesia?

Kedekatan jiwa HAS dengan anak-anak menjadikan ia mudah sekali mengajarkan apapun kepada putra-putrinya. Ketika Jeff mengungkapkan rasa heranya atas kefasihan Islam (nama salah satu putra HAS) dalam berbahasa Inggris, ia bertanya kepada HAS:

“Bagaimana mungkin anak itu menguasai bahasa Inggris begitu bagus tanpa bersekolah?”

Menjawab pertanyaan itu, dalam nada santai seperti biasa, HAS menyatakan kepada Jeff: “ Apakah kamu pernah dengar tentang sebuah sekolah di mana kuda diajari meringkik? Kuda-kuda tua meringkik sebelum kami, dan anak-anak kuda tentunya akan ikut meringkik. Begitu pun saya meringkik dalam bahasa Inggris dan otomatis si Islam pun ikut meringkik juga dalam bahasa Inggris.”

HAS memang selalu istimewa di mata siapa pun. Uniknya, kendati dia seorang diplomat, sesepuh bangsa dan tentunya seorang yang sangat cerdas, tidak menjadikannya silau terhadap materi.  Sampai akhir hayatnya, mantan jurnalis itu tetap memilih kesederhanaan sebagai jalan hidupnya.

sumber: historia.id

News Feed