by

MENGETUK PINTU LANGIT MU

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

MENGETUK PINTU LANGIT MU

Bumi yang menuai kagum kini terasa sepi mencekam
tak lagi indah gemerlap…

kemegahan lampu kota yang terus menyala..
namun lorong dan jalan demikian hening beku
tak terdengar hingar bingar
ketegaran gedung menjulang
dengan taman kota dunia,
kini membisu…
enggan menyapa..

bandara dan dermaga
sepi langkah manusia
gemercik air sungai dan indahnya kolam
kini diam menyepi
Ikan dan burung pun berkedip tak bergairah

semua,…
menyimpan isyarat tersembunyi…
Pintu langit tak bergeming

bumi nestapa
alam meradang….
langit mendung kelabu..
manusia hiruk pikuk
tapi dalam kegalauwan..

ini bukan bencana alam..
hanya kuman kecil
divisi halus..
batalyon thaun datang
berbaris senyap
menyusup lubang hidung
rongga mulut manusia..
hingga paru paru merana

Thaun…
tak bisa dilawan dengan peluru dan senjata
bukan bencana alam
tapi banjir kiriman dari langit

geger..
geger jiwa…
geger fikiran…
geger perasaan…
geger..
geger perbingcangan
belum runtuh juga keangkuhan manusia
belum thobatkah para penguasa…

Pintu langit tak bergeming….

Hari…hari..
setiap menit waktu berlalu
siaran media cerita corona…
suara radio bicara corona..
gambar tv berwajah corona
bicara di medsos tentang corona…

BACA JUGA:   Sandiaga Ramal Ekonomi RI Minus 2% di Kuartal III

Pintu langit tak bergeming

Fikiran manusia
melambung tinggi..
mencari jawab corona..
polemik budaya terus bersuara
polemik biaya terus dihitung berapa
polemik cara diperdebatkan diberbagai media
hingga ketersediaan sarana
semua bertanya..

semua bicara….
berapa butuh ventilator
berapa manusia yang disapa corona..
berapa dana harus tersedia

Tapi,
tak ada gema suara berapa kesalahan yang manusia perbuat….
berapa do”a munajat sudah diperbanyak

Pintu langit takkan bergeming

manusia bangga
melawan kodrat
mencinta bumi…
tapi berpaling dari pintu langit…

Pintu langit tak bergeming..

Kini..
penguasa tak lagi bicara
kemegahan dan keunggulan
penguasa lupakan capaian pertumbuhan…
karena Tuhan rupiah kini terpuruk parah…
uang yang di pertuhankan
bergandeng kursi jabatan
telah lunglai hilang wibawa
tertutup pintu hati..
wajah penguasa tampak kecut…
plintat plintut
kata tak lagi bertuah
meratap pilu tersenyum ragu

Pintu langit tak bergeming..

Wahai manusia..
abdi,…
panjenengan,..
sadonyo…
hanyalah hamba
dari Pemilik pintu langit
Insan mulia
kini layu tak berdaya..

BACA JUGA:   Perjuangan Bung Karno Meracik Kemerdekaan RI Sejak di Peneleh

patut,
bertanyalah..
bangunkan sukma…
buka pintu hati dalam nafas fikiran dan jiwa yang dalam

tafakur….
muhasabah…
basahi tubuh dan tapak bumi
dengan air suci

rendahakan hati..
ruku dan sujud
luluh lantahkan kesombongan jiwa
keangkuhan raga
agar Pintu langit terbuka..
menarik wabah ini..
memanggil ribuan batalyon thaun kembali meninggalkan bumi….

tak ada lagi
nafas yang terengah..
tak ada lagi
manusia menggigil tak berdaya
tak terlihat lagi orang menggelepar tiba tiba
atau….
terkurung dalam karantina
karena corona…

sudahkah kita tobat
sudahkah runtuhkan keangkuhan jabatan..
dan keranjingan pesona dunia
mempertuhankan uang dan popularitas…..
karena itu….bala datang
batalyon thaun menyerang
menampar untuk setiap pendusta..

Ya Allah…
hamba ketuk
pintu langit Mu
maaf dan ampun
silap hamba..

turunkan
rahman dan rahim Mu
datang menyapa manusia..
agar dunia pun..
tersenyum kembali…..
bagai bayi baru terlahir..
bagai mawar mekar di pagi hari….

💪🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🙏

Firdaus Syam
Pagar Alam
20/3/020

News Feed