by

Pewaris Masyumi Dalam Alam Demokrasi Indonesia, Dimanakah Berlabuh?

Print Friendly, PDF & Email

ISLAM merupakan sumber ajaran hidup yang mengajarkan manusia mencapai derajat kemuliaan disisi Allah SWT, yang merupakan ideologis perspektif aspek moralitas dan Iman.

Dalam perkembangannya di tanah air, Ideologi Islam menjadi salah satu sumber asas Partai demi mewujudkan cita-cita luhur membangun bangsa dan negara yang “Baldatun thayyibatun wa rabbul ghafuur”.

Adalah Sarekat Dagang Islam, Organisi Islam Pertama yang kemudian berganti menjadi Sarekat Islam (SI) sebagai organisasi yang menghimpun seluruh kekuatan Islam dalam menabur benih ideologi, sekaligus wadah perjuangan dalam membangun kekuatan ideologi bangsa yang saat itu dikuasai oleh penjajah.

H.O.S Cokroaminoto sebagai ketua sekaligus pendiri SI yang merupakan Bapak Bangsa nan Agung dalam pergerakannya membangun peradaban Bangsa Indonesia.

Sarekat Islam mulai berganti warna namun tetap ber idelologi islam idealis yang kemudian berubah menjadi Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) . Banyak tokoh-tokoh besar yang terlahir dari Masyumi seperti KH.Hasyim Asy’ari sebagai Ketua Masyumi pertama, Mr.Kasman Singodimedjo yang merupakan bapak Pendiri BKR (Cikal Bakal TNI), dan Mohammad Natsir sebagai Bapak NKRI (Mosi Integral).

Dalam masa perjuangan Politik Partai Masyumi tentu seringkali terjadi gejolak dan silang pendapat didalam internal partai, namun tetap memperlihatkan intelektualitas dan kearifan dalam menyampaikan ide dan gagasan politik. Seiring perjalanan waktu, NU memilih keluar dari Masyumi dikarenakan sudah tidak adanya kesepahaman politik, namun tetap saling menghormati dalam perbedaan demi terwujudnya kemuliaan berbangsa dan bernegara.

Kemenangan Masyumi dengan posisi suara terbesar kedua pada pemilu tahun 1955, rupanya menjadi sebuah kengerian hebat yang dipandang serius oleh imperialis barat, yang merupakan kengerian lanjutan dari Mosi Integral. Dimana Mosi Integral menghasilkan satu nama besar revolusi Indonesia menjadi NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Bagaimanapun pasca kemerdekaan, imperialis barat dengan beragam cara tetap ingin memiliki kekuasaan di tanah air. Pengaruh politik barat masih tetap besar terhadap perpolitikan Indonesia saat itu.

Ideologi Islam inilah yang sangat dikhawatirkan oleh barat, karena merupakan pondasi kuat yang tentunya akan menjadi pedoman bagi sebagian besar rakyat Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah Islam. Sebuah kekuatan yang berlandaskan keimanan adalah lebih kuat dari berjuta pasukan. Sehingga diperlukan langkah-langkah strategis dan politis agar Masyumi dapat dibubarkan.

Waktu berganti, Orde Lama beralih kuasa menjadi Orde Baru. Namun Cita-cita luhur nan agung perjuangan Partai Masyumi pasca pembubaran tahun 1960, ghirahnya tetap hidup bahkan sampai sekarang. Para tokoh mendirikan Dewan Da’wah sebagai rumah baru dalam berjuang menegakkan Syari’at Islam melalui Da’wah.

BACA JUGA:   4 November 1954 Agus Salim Meninggal Dunia

Pada tahun 1998, Partai Bulan Bintang didirikan oleh Keluarga Bulan Bintang sebagai Partai Baru Representatif Masyumi dengan logo yang hampir sama. Adalah Yusril Ihza Mahendra, Murid Politik Mohammad Natsir yang dipercaya memegang amanah meneruskan perjuangan politik dalam menegakkan Syareat Islam. Namun tokoh muda ini ditentang oleh sebagian Politikus senior karena dianggap terlalu muda dan belum memiliki kapabilitas dalam memimpin sebuah partai ummat yang terbentuk dari berbagai Ormas Islam di tanah air. Sehingga dikarenakan adanya ketidaksepahaman, maka beberapa tokoh ormas islam memilih mendirikan partai islam lain dengan berbeda warna dan lambang, namun tetap mengaku sebagai pewaris masyumi.

Foto: Istimewa

Pemilu 1999, merupakan sebuah fenomena langka dalam dunia perpolitikan. Dikarenakan mundurnya Yusril dari bursa Capres, yang padahal saat itu didukung kuat oleh BJ.Habibie dan tokoh PBB. Akibatnya, terpilihlah KH.Abdurrahman Wahid sebagai Presiden dan Megawati Soekarno Putri sebagai Wakil Presiden Indonesia.

Ternyata bukan sekedar pilihan politis, namun ada Nilai Luhur yang ingin ditunjukkan Yusril bahwa “PERSATUAN UMMAT” adalah yang utama dan itulah salah satu Cita-Cita Masyumi. Disebut pula sebagai penebusan hutang politis Masyumi kepada NU.

Jarang sekali bahkan mungkin bisa dikatakan mustahil keputusan itu diambil bila seseorang dalam hatinya terbersit haus akan kekuasaan.

Sepak terjang PBB mendapat perhatian serius dalam perpolitikan Indonesia, terbukti dengan begitu gigihnya para wakil rakyat dari PBB yang sangat lantang menyuarakan Syari’at Islam, dan ini tentunya dilihat dan diawasi bukan hanya oleh lawan ideologis dalam negeri namun juga oleh dunia internasional. Kepentingan bisnis para investor asing yang memprediksikan Indonesia sebagai pasar masa depan adalah yang utama, khususnya target orientasi pada generasi penerus (liberalisme kaum muda).

Perlahan namun pasti pengaruh politik barat mempengaruhi kehidupan berbangsa dan bernegara. PBB semakin hari semakin dihimpit oleh kekuatan besar yang tak ingin PBB berjaya sebagaimana dahulu masyumi. Sehingga semakin sangat terlihat adanya kesamaan antara Masyumi dahulu dengan PBB saat ini. Disinilah ternyata arah perjuangan Masyumi berlabuh.

Yusril dkk berjuang diluar parlemen pasca 2009 PBB tidak bisa lolos ke DPR, menggunakan Ilmu nya sebagai seorang pakar Hukum dalam membantu persoalan bangsa . Membela Kasus tanah di Luar Batang. Membela Honorer. Membela Guru Paud. Membela TKI. Dan masih terlalu banyak untuk saya sebutkan.

BACA JUGA:   Batik sebagai Alat Pemersatu Bangsa pada Masa Penjajahan Belanda

Pada pemilu lalu dalam analisa saya Yusril Ihza Mahendra tentu berfikir, dalam meloloskan dan menjaga PBB ini untuk tetap eksis dalam ranah perpolitikan Indonesia, tentu tidak bisa dilakukan dengan cara-cara biasa. Setelah berharap saat pemilu 2019 melalui Ijtima Ulama dapat membuahkan sebuah keputusan dalam menentukan Calon Pemimpin dengan kriteria Islam, namun ternyata harus menelan pahit karena keputusan tersebut hanyalah lanjutan dari kontrak politis yg sebelumnya sudah disepakati secara tersirat. Tidak dilibatkannya PBB dalam urun rembug pemilihan capres, Disetujuinya PT 20% DPR syarat pencalonan yang disetujui oleh seluruh anggota DPR, merupakan awal hipotesa politis bahwa derby Capres 2014 akan terulang pada pemilu 2019. Hal ini tentunya sudah terbaca oleh Yusril begitupun saya selaku kader muda PBB,karena dengan aturan itu akan mempersempit Tokoh Islam untuk dapat diusung menjadi Capres. Dan karena itulah beliau sampaikan dalam setiap kegiatan PBB, jangan pernah menggantungkan harapan kepada orang lain.

” Karena sebuah kemenangan dihasilkan melalui perjuangan gigih, bukan sebuah pemberian” (shalahuddin)

Lalu dimanakah suara Ummat???

Yusril harus menceburkan dirinya pada perspektif negatif ormas islam dan tokoh-tokoh central dengan memilih posisi sebagai Lawyer . Padahal sejatinya beliau ingin berjuang menyelamatkan cita-cita ummat dari dalam, mengingat beliau juga sudah mengukur bahwa PBB akan kesulitan lolos PT 4%, dan beliau paham betul bagaimana peta politik pra pemilu 2019 bahkan pasca Pilkada DKI, bahwa sekalipun Elektabilitas Yusril saat itu nomor 2 dalam bursa Cagub, namun tetap tidak didukung oleh parpol lain.

Namun dengan melihat keseriusan kepengurusan PBB saat ini setelah melalui beragam evaluasi, memberikan sebuah semangat baru yang begitu besar kepada kader partai. Bahwa PBB akan bangkit menjadi Partai Islam yang menginspirasi Rakyat Indonesia. memberikan Nilai-nilai islami dalam berbangsa dan bernegara, serta memberi manfaat dan solusi terbaik dalam menyelesaikan berbagai persoalan.

Dengan Berkat dan Rahmat Allah SWT, cita-cita Masyumi insyaallah akan tercapai melalui Partai Bulan Bintang.

Oleh: Muhamad Shalahuddin Jamil
Ketua DPW Partai Bulan Bintang Provinsi Bali.

sumber:

News Feed