by

Inilah Singa-singa Podium yang Pernah Dimiliki Indonesia

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

BANYAK pemimpin Indonesia yang memiliki kemampuan berpidato sangat hebat. Ketika berbicara, mereka seakan mampu menghiptonis khalayak. Di masa prakemerdekaan, pidato-pidato mereka membakar api perjuangan dan membangkitkan semangat nasionalisme.

1. HOS Tjokroaminoto
Raden Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto adalah seorang tokoh pahlawan Indonesia. Di era penjajahan, dengan keberanian berorasi menentang pemerintahan Belanda, Cokroaminoto berhasil memengaruhi anak-anak muda Indonesia pada saat itu untuk menentang keberadaan Belanda di Indonesia. Ketika dirinya berpidato, masyarakat saat itu banyak berbondong-bondong mendengarkannya di atas panggung.

2. Sukarno

Inilah Singa-singa Podium yang Pernah Dimiliki Indonesia

Berikut dua kutipan pidato Sukarno yang membakar semangat :
“Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”.

“Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.”

3. Jenderal Soedirman

Inilah Singa-singa Podium yang Pernah Dimiliki Indonesia

Taktiknya melakukan perang geriliya Jenderal Soedirman membuat penjajah ketar-ketir tidak karuan. Bahkan ketika dalam keadaan sakit dan ditandu, Soedirman masih semangat dalam melawan penjajah. Berikut salah satu pidaonya yang terkenal: “Hendaknya perjuangan kita harus kita dasarkan pada kesucian. Dengan demikian, perjuangan lalu merupakan perjuangan antara jahat melawan suci. Kami percaya bahwa perjuangan yang suci itu senantiasa mendapat pertolongan dari Tuhan.”
4. Bung Tomo

Inilah Singa-singa Podium yang Pernah Dimiliki Indonesia

Pemimpin pergerakan 10 November di Surabaya ini dalam pidatonya mampu memotivasi rakyat bertempur sampai titik darah penghabisan. Berikut salah satu pidato terbaiknya. “Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih menjadi merah dan putih, maka selama itu tidak akan Kita mau menyerah kepada siapapun juga. Kita tunjukken bahwa Kita ini benar-benar orang-orang yang ingin merdeka. Dan untuk kita saudara-saudara, lebih baik hancur lebur daripada tidak merdeka. Semboyan kita tetap “Merdeka atau Mati”. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!! Merdeka!!”
5. Jenderal AH Nasution

Inilah Singa-singa Podium yang Pernah Dimiliki Indonesia

Berikut cuplikan pidato menggetarkan Jenderal AH Nasution setelah terjadinya peristiwa G30S/PKI.
Bissmillahirrahmanirrahiim…
Jenderal Suprapto, Jenderal Hartono, Haryono, Jenderal Parman, Jenderal Panjaitan, Jendral Sutoyo, Letnan Tendean.
Kamu semua mendahului kami, Kami semua yang Kamu tinggalkan punya kewajiban meneruskan perjuangan Kita, meneruskan tugas angkatan bersenjata Kita, meneruskan perjuangan TNI Kita, meneruskan tugas yang suci.”

Cara berpidato yang dapat memengaruhi audiens

1. Pertimbangkan kebutuhan audiensNick Morgan, seorang pelatih pidato dan penulis buku The Subtle Science of Leading Groups, Persuading Others, and Maximizing Your Personal Impact, mengatakan bahwa pembuat pidato yang baik umumnya merupakan orang bijak. Pidato yang baik hanya sebagian berbicara tentang diri sendiri karena Anda harus memikirkan audiens. Siapa mereka? Apa yang mereka inginkan? Mengapa mereka mau datang melihat Anda? Tanyakan hal-hal tersebut pada diri Anda saat menciptakan pidato.
2. Beritahu hal yang akan Anda sampaikan
Sebelum memulai pidato, jelaskan kepada audiens Anda tentang hal-hal yang akan dibahas. Lalu, pada akhir sesi, sampaikan kesimpulan dari hal-hal yang baru saja dibahas tersebut. Cara ini dapat memudahkan audiens mengikuti setiap detail dari pidato Anda. Jika khawatir akan lupa, tidak ada salahnya untuk menuliskan poin-poin tersebut pada selembar kertas.

3. Berbicara kepada individu, bukan grup
Saat menyampaikan pidato kepada audiens, lakukanlah seolah-olah Anda sedang berbicara secara individu. Tatap satu orang di audiens ketika memulai pidato, bisa jadi orang yang memang Anda kenal atau seseorang yang terlihat ramah di mata Anda.

4. Tahu kapan harus berhenti berbicara
Public speaker yang baik tidak hanya mampu menyampaikan pidato secara kuat, tetapi juga harus tahu kapan berhenti berbicara. Beberapa public speakers terus berbicara melantur tentang hal yang sama, sedangkan public speakers lain berbicara terlalu cepat karena ingin menyampaikan hal sebanyak mungkin dalam waktu singkat. Ciptakan jeda-jeda singkat untuk membiarkan audiens menyerap apa yang Anda sampaikan.

5. Tutup pidato dengan Call-to-Action (CTA)
Cara terbaik menutup pidato adalah dengan memberikan sesuatu untuk dilakukan oleh audiens. Penutupan pidato merupakan waktu terbaik untuk membiarkan mereka menyerap pesan secara aktif. Di sinilah CTA menjadi senjata ampuh untuk digunakan. Temukan hal yang relevan dengan pesan pidato Anda. Tanyakan pada diri sendiri, “Setelah pidato selesai, hal apa yang saya ingin audiens lakukan?”

(poe)

sumber: sindonews.com

BACA JUGA:   Kiprah Haji Samanhudi, Pedagang Batik dan Perintis Sarekat Islam

News Feed