by

Sarekat Islam (SI) Palembang, Semangat Perjuangan Melawan Penjajahan (Bagian Lima)

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

Dudy Oskandar

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan )

Akhir Pemberontakan Sarekat Abang

AKHIR pemberontakan Sarekat Abang (SA) yang telah dipersiapkan oleh Depati Abdul Hamid Bin Setipal, ternyata sudah diketahui oleh pemerintah kolonial Belanda melalui mata-matanya.

Pemerintah kolonial Belanda segera mempersiapkan serdadu marsose yang didatangkan dari Jawa.

Pemerintah kolonial Belanda berusaha menggagalkan rencana pemberontakan dengan cara mencegat kurir yang diutus oleh Depati Abdul Hamid ke Jambi.

Dalam perjalanan pulang kurir yang bernama H. Lasyim dicegat pasukan Belanda lalu ditangkap, dan akhirnya dipenjarakan di Benteng Surolangun dengan suatu penjagaan ketat.

H. Lasyim menyadari bahwa berhasil atau tidaknya perlawanan berada ditangannya, karena itu ia nekad melarikan diri untuk menyampaikan berita kepada Depati Abdul Hamid.

Tetapi sayang usahanya tidak berhasil, ia tertembak mati serdadu Belanda dan gugurlah ia sebagai seorang kesuma bangsa. Kematian H. Lasyim makin mengobarkan semangat para pemuka-pemuka Sarekat Islam (SI) yang menamakan diri pasukan Kelambit untuk dapat membalas kematiannya dan melanjutkan perjuangannya.

Pasukan Kelambit kemudian dipersiapkan untuk menyerang benteng Belanda di Surolangun dipimpin langsung oleh Pesirah Abdul Hamid.

Persiapan penyerangan dimulai di daerah Bingin Teluk dan dari sini pasukan Kelambit mulai melakukan gerakan, hampir seluruh masyarakat Bingin Teluk turut menggabungkan diri dalam pasukan itu untuk menyerbu benteng Belanda di Surolangun.

Dari berbagai jurusan pasukan berkumpul di Muara Rupit yang terletak + 25 km dari Surolangun Rawas. Sambil menunggu kabar dari Jambi, Pasukan Kelambit mulai mengatur siasat untuk masuk ke benteng Belanda. Setelah tujuh hari lamanya di Muara Rupit, datanglah H. Zakaria membawa berita dari Jambi, bahwa Raden Toha dan Raden Mongong sanggup memberikan bantuan.

Kemudian diputuskan untuk menyerang benteng Belanda tanggal 31 Oktober1916 pukul 06.00 pagi.

Pada waktu yang telah ditentukan itu secara bersamaan semua pasukan yang telah dipersiapkan akan menyerbu dari berbagaijurusan benteng Surolangun.

Sehubungan dengan itu sejak tanggal 30 Oktober 1916 pasukan telah bergerak dari tempat peristirahatan di Muara Rupit menuju ke Surolangun.

Namun, rencana penyerbuan benteng Belanda di Surolangun ini tercium oleh Belanda. Belanda kemudian mempersiapkan pasukannya dengan baik. Dimana sebagian serdadu marsose ditempatkan di kiri dan kanan jalan untuk menghadapi serangan pasukan Depati Abdul Hamid.

Karena itu ketika pasukan Kelambit menyerbu benteng, dengan mudahnya serdadu Belanda yang bersembunyi di kiri dan kanan jalan menembaki pasukan Kelambit. Serangan rakyat dengan mudah dapat dipatahkan dan sebagian yang masih hidup melarikan diri.

Sebagian marsose dikirim ke luar kota untuk mencegat bantuan yang datang dari Jambi, sehingga terjadilah perang yang cukup seru di daerah perbatasan. Pertempuran tersebut tidak seimbang, marsose Belanda adalah pasukan yang telah terlatih dan telah berpengalaman.

Mereka juga mempunyai senjata yang modern seperti pistol, senapan dan lain-lain.

Sebaliknya pasukan Kelambit memiliki 63 prajurit yang kurang terlatih dan belum berpengalaman serta mempergunakan senjata yang sangat sedehana seperti: kujur, pedang, keris dan lain-lain.

BACA JUGA:   MTs Cokroaminoto Madukara mengucapkan Selamat Milad ke-115 Tahun Syarikat Islam

Menyadari kekurangannya pasukan Kelambit mengharapkan bantuan dari Jambi. Tetapi bantuan yang diharapkan tidak kunjung datang (karena sudah dicegat oleh pasukan marsose). Akibatnya pasukan Kelambit harus bertempur sendiri melawan Belanda.

Pertempuran berlangsung cukup seru ada semangat membara pada pasukan itu, mereka ingin mengusir Belanda dari bumi Palembang.

Penyerangan yang dilakukan oleh pasukan Kelambit dipimpin Depati Abdul Hamid terjadi dalam waktu singkat, namun kerugian yang diderita tidak sedikit.

Lebih dari seratus orang pasukan rakyat mati tertembak, beberapa orang luka berat dan ringan serta ratusan orang tertangkap oleh Belanda.

Kegagalan itu antara lain disebabkan oleh bocornya rencana penyerbuan serta karena siasat Belanda yang lebih baik dan berencana.

Abdul Hamid kemudian memerintahkan kepada pasukannya agar mengundurkan diri ke hutan. Korban meninggal diperkirakan sebanyak + 120 orang dan beberapa ratus orang ditawan dimasukkan ke dalam benteng yang merupakan sebuah tanah lapang terbuka dikelilingi kawat berduri, sehingga para tawanan tersebut tertimpa hujan dan juga kepanasan oleh sinar matahari.

Sisa-sisa pasukan dan pada pemimpin yang masih selamat segera mengundurkan diri ke hutan, walau pun mereka terus di buru oleh pasukan Marsose.

Pemerintah kolonial Belanda selanjutnya melakukan pembersihan terhadap para pemberontak yang berada di dusun-dusun (perkampungan), ketika ditemukan orang yang dicurigai mereka langsung ditangkap dan ditahan. Sementara itu Depati Abdul Hamid Bin Setipal bersama pasukannya mengundurkan diri ke daerah Sungai Tingkip, dan dari sana mereka berusaha mengatur siasat untuk mengadakan penyerangan berikutnya.

Sementara itu pasukan marsose terus melakukan pengejaran, dan akhirnya berhasil menangkap Depati Abdul Hamid beserta pasukannya di hutan seberang Biaro Rawas.

Depati Abdul Hamid beserta pasukannya kemudian dibawa dengan kapal Seng Hong Bie menuju ke Surolangun dan mereka ditahan dalam kandang kawat yang bagian atasnya terbuka. Setelah kurang lebih tiga bulan di Surolangon Abdul Hamid Bin Setipal, Abdullah Bin Setipal serta Kelambit alias Moh Amin, dipindahkan penjara Palembang.

Mereka diinterogasi selama beberapa bulan sebelum diajukan ke pengadilan. Akhirnya ketiga serangkai pimpinan pemberontakan itu harus menjalani hukuman mati. Sesuai putusan pengadilan kolonial Belanda di Palembang mereka mendapat hukuman gantung di depan umum, yang dilaksanakan di benteng Palembang pada hari Sabtu tanggal 21 April 1917 pukul 07.00 pagi.

Sebelum hukuman mati dilaksanakan, si terhukum diberi kesempatan untuk dapat menyampaikan pesan-pesan kepada sanak keluarganya.

Kesempatan itu dipergunakan oleh Abdul Hamid yang sudah berada dibawah tiang gantungan untuk berpesan kepada anaknya yang bemama Abdul Harun.

Isi pesan Abdul Hamid antara lain; bahwa semua pekerjaan harus dilakukan dengan jujur; terus mengaji Al Qur’an; tanamlah pohon karet; dan lanjutkan terus perjuangan. Demikianlah antara lain pesan terakhir Abdul Hamid kepada anaknya.

Pelaksanaan hukuman gantung yang mengerikan itu disaksikan oleh sebagian besar penduduk Palembang waktu itu.

Jenazah ketiga pahlawan itu kemudian diserahkan kepada keluarganya, dan selanjutnya dikebumikan di pekuburan Tanah Miskin (pekuburan Kamboja sekarang) Palembang.

BACA JUGA:   Sejarah Sarekat Islam, Embrio Komunisme Pertama di Indonesia

Setelah pelaksanaan hukuman gantung tersebut, pemerintah kolonial Belanda terus melakukan tindakan kepada para pemberontak dan kepada mereka yang bersalah akan dipenjara atau dihukum buang.

Beberapa pemberontak antara lain; Penggawa Serawang, Umar Gunawan, Mayatin, Masaratin, H. Abdulah dan lain-lain, dihukum penjara di buang ke Pulau Seram selama 20 tahun.

Sedangkan H. Zakarta dan H. Hakim juga dibuang ke Pulau Seram selama 15 tahun.

Selain itu masih banyak rakyat yang dianggap pemberontak yang dihukum antara satu sampai sepuluh tahun. Setelah Pemberontakan Kelambit, tindakan pemerintah kolonial Belanda terhadap rakyat semakin kejam.

Dengan berbagai siasat dan taktik Pemerintah Hindia Belanda terus membebani rakyat dengan kerja paksa (rodi) dan berbagai pajak yang harus dibayar.

Pada tahun 1920 Sarekat Islam di daerah Musi Rawas telah dilarang oleh pemerintah Belanda, tetapi secara diam-diam mereka tetap menyampaikan ajaran-ajaran Islam yang bercita-cita membebaskan diri dari penjajahan kolonial Belanda.

Sementara itu Sarekat Islam di Muara Rupit di bawah pimpinan Daud Wijaya selalu berhubungan dengan Sarekat Abang dengan perantaraan Adi Akup.

Seperti diketahui bahwa Sarekat Abang tersebut telah ada di daerah itu sejak meletusnya perang Kelambit di daerah Surolangun Rawas. Masyarakat umum sering menghubungkan pemberontakan Kelambit dengan “Sarekat Abang” yang sering menimbulkan kesalahpahaman Sarekat Abang sering diasosiasikan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Karena itulah perlu dijelaskan bahwa Sarekat Abang yang dimaksud bukanlah PKI, melainkan suatu bagian dari organisasi Sarekat Islam yang mendapat pengaruh dari Turki Muda yang para pengikutnya selalu memakai ikat kepala kain merah.

Pengaruh Turki di Keresidenan Palembang dapat dilihat antara lain dengan banyaknya orang memakai “Kupiah Turki” dalam bentuk yang lucu berwarna merah serta berjambul yang biasa disebut Kupiah Stambul. Pada tahun 1916 Kupiah Stambul ini banyak terlihat di wilayah Keresidenan Palembang sampai ke daerah Uluan.

Walaupun pemberontakan Kelambit gagal, pada tahun 1918 di Muara Rupit yang termasuk Onderafdeling Rawas telah kembali berdiri Cabang Sarekat Islam dibawah pimpinan Dauh sebagai presiden lokal, Akip sebagai propagandis dibantu oleh Djabar.

Dalam pertengahan tahun 1918 Sarekat Islam dibawah pimpinan Dauh mengadakan rapat gelap yang dihadiri 60 orang anggota.

Rapat ini bertujuan untuk mengatur langkah dalam usaha pemboikotan terhadap peraturan pembayaran pajak yang tinggi.

Ketika rapat sedang berjalan tiba-tiba mereka digrebeg oleh polisi kolonial, sehingga rapat harus dibubarkan. Banyak di antara mereka yang ditangkap dan selanjutnya dimasukkan ke penjara Musi Rawas, untuk diajukan kepengadilan (Lanraad Musi Rawas).

Di antaranya Djabar, menerima hukuman 6 bulan penjara, karena dianggap melanggar larangan rapat. ***

Sumber :

  1. Kepialangan Politik dan Revolusi ; Palembang 1900-1950, Mestika Zed, LP3ES, Jakarta , April 2003
  2. Sarekat Islam dan Pergerakan Politik di Palembang, Dra. Triana Wulandari, Muchtaruddin Ibrahim, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta , 2001
  3. Republik Indonesia, Propinsi Sumatera Selatan, Kementrian Penerangan, Siliwangi-Jakarta, Agustus 1954

sumber: palpres.com

News Feed