by

SI dalam Sejarah Politik Bangkalan

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

AWAL tahun 1917, Budi Utomo pernah rapat politik bulan Juni di Bangkalan. Tujuannya membentuk Politieke Ekonimische Bond, yang mulai mendapat perhatian masyarakat Bangkalan, meski konsep ekonomi politik ini katanya gagal.

Berdiri pula madoerezen Bond dan Sarekat Madura, awal Januari 1920. Pendirinya orang Madura, yang ada di Surabaya, yaitu Raden Mayangkusumo dan Raden Ruslan Wongsokusumo. Pemerintah mengesahkan dua organisasi ini tahun 1923.

Di Surabaya, berdiri Comite Madura Bekerja, Oktober 1921 dengan jaringan perwakilan di Madura Madoerazen, bergerak di bidang sosial dan kemudian ke arah nasionalis, dan politik praktis. Kongresnya di Bangkalan, 1921, mengangkat koodinator bernama Notoyudo, seorang instruktur pertanian.

Benturan ideologis dan politis semakin semarak, sehingga gerakan politik nasionalis orang-orang Madura di Surabaya, pecah sehingga berdiri Kongres Nasional Madura. Kota Bangkalan jadi arena tarung politik. Sarekat Madura mengadakan kongres besar, 12-15 Februari 1926. Presiden Serikat Madura Zainal, dikenal aktivis, ekstremis, radikalis, akhirnya pindah ke Jogjakarta, dan mendirikan surat kabar berhaluan keras “Kemadjoean Hindia.”

Dari gerakan sosial dan politik menuju keagamaan. Serikat Islam berubah menjadi PSI dan 1920-an, muncul Murwatul Ikhwan, Al Irsyad, Nahdatul Wathan, Cahaya Islam, Tasywirul Afkar, dan Muhammadiyah.

BACA JUGA:   Uu Ruzhanul Ulum Ajak Ulama Jaga Kondusivitas Jabar

Organisasi NU berdiri di Surabaya tahun 1926, dan akhirnya NU di Bangkalan mendominasi organisasi keagamaan dengan dipimpin Kiai Doromuntaha. Pemerintah waktu itu, mengharap NU mencegah gerakan revolusioner di Madura. Tahun 1927, tokoh NU menekankan, agama jangan menjadi tujuan politik.

Tahun 1934-1935 di Bangkalan berdiri Al-Islaah. Organisasi kontroversial ini membolehkan kotbah Jumat dengan bahasa Madura. Pimpinannya, S Moh Saleh Suaidy terus mengembangkan keyakinannya dan mendirikan masjid dengan kotbah bahasa Madura dan Melayu, dan membuat marah ulama waktu itu. Majalah Al-Aslaah secara politis, terus menurunkan artikel antikolonialisme, dan Belanda sempat membreidelnya.

Tahun 1922, muncul kebangkitan kaum bangsawan guna mendirikan kerajaan pribumi, khususnya di Bangkalan. Gerakan ini sudah berembrio pada Serikat Islam tahun 1918 di Bangkalan. Akhirnya, abad IX, terjadi tarik menarik perhatian dan pengaruh di masyarakat antara SI, Gerakan Bangsawan, elite lokal keagamaan (kiai NU). (Prof Dr Koentowijoyo, 2002, Madura 1850-1940).

BACA JUGA:   17 September 2020 Program Salam Lentera Kebajikan Jelang Majelis Tahkim 41 Syarikat Islam Bersama Ir. H. Achmad Farial

Penghormatan tinggi masyarakat Madura kepada ulama, kiai, dapat dipelajari dari ajaran bappa-bhabuh, guruh, rato (hormat kepada bapak-ibu, guru dan ratu). Guru dianalogikan kepada kiai, yang dekat dengan kesucian agama, mengajarkan ilmu. Pengaruh kiai, khususnya di pedesaan, melampaui batas pengaruh pejabat, atau institusi kepemimpinan lain.

Oleh Janudir Rahman Staf ahli lingkungan hidup HMI Cabang Malang 2009-2010, studi di Universitas Muhammadiyah Malang je2n_03@yahoo.com

Sementara itu Tokoh SI sendiri di masa lampau pernah berguru pada Syeikhona Cholil di Bangkalan, Syeikhona menjadi guru bagi Tokoh SI, NU, Muhammadiyah bahkan juga Soekarno yang diantar Tjokroaminoto

Kini SI di Bangkalan di bangkitkan melalui sayap-sayap gerakannya yaitu SEMMI (Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia), Pemuda Muslimin Indonesia, PERISAI (Pertahanan Ideologi Sarekat Islam)

Dan Perwakilan kaum SI Bangkalan, Abdullah Amas, menduduki posisi di DPW SI Jatim sebagai Wakil Ketua dan di SI Pusat menjabat Salah satu Ketua Bidang di Sayap SI Pusat yaitu PB SEMMI

sumber: jurnalpubliksi.blogspot.com

News Feed