by

Wakil Ketua SI Jatim Bicara Kekuatan Politik Islam Dulu dan Masa Depan

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

Pasca Pemilu 2019,Dua Partai Islam muncul, yaitu Partai Gelora dimotori Eks PKS, Sedang Partai Islam Ideologis dimotori eks PBB seperti MS. KABAN dan Masri Sitanggang dan beberapa kader DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia) seperti
Abdullah Amas, Ketua Umum Pengurus Wilayah SEMMI (Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia) Jatim  yang juga Wakil Ketua SI/Syarikat Islam Jatim menilai bahwa potensi dua Partai itu dapat menggerus basis massa PAN dan PKS
“kalau ceruk massa dari nasionalis sulit yah, saya kira berkutat ke basis massa Partai Islam saja”ujar Abdullah Amas yang juga Mantan Fungsionaris PB HMI ini
Menurut Amas, pemilih Islam ada yang berbasis pemilih dari kalangan Islam Modernis, ormas Islam dari kelompok Islam modernis di Indonesia sebetulnya banyak dari kalangan kader binaan dari Masyumi, kalaupun ada kelompok baru, yaitu seperti Tarbiyah yang melahirkan KAMMI, Partai Gelora, GARBIdan PKS, lalu ada lagi yaitu Ormas Hidayatullah, FPI, Majelis Mujahidin, Jemaah Anshoru Syariah, Jemaah Anshoru Tauhid pimpinan Abu Bakar Baasyir.
Basis Pemilih Islam
MASYUMI tadinya juga mengikut sertakan NU tapi NU memilih keluar dan kini pemilih Islam tradisional dari NU banyak memilih PKB
MASYUMI sendiri pasca keluarnya NU, ia juga dalam perjalanan ikut keluar juga SI (Syarikat Islam) yang menjadi PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia), namun MASYUMI pasca bubar di masa Orde lama, muncul dengan nama PARMUSI (Partai muslimin Indonesia) di orde Baru, lalu bersama PSII, Parmusi, NU dan Perti melebur dalam PPP, pasca reformasi masing-masing keluar, PARMUSI dan SI berubah jadi ormas, muncul dari keluarga besar MASYUMI partai seperti Partai Islam MASYUMI pimpinan Abdullah Hemahua, PBB, PAS abdul qadir, Partai Islam Indonesia, Partai Masyumi Baru pimpinan Ridwan Saidi, sementara M. Natsir sebagai mantan pimpinan MASYUMI sudah fokus pada lembaganya yaitu Dewan Dakwah
Tokoh Islam di Partai Nasionalis
Sementara itu pemilih NU ke PKB dan PPP namun kini unsur Pimpinan PPP di pucuk adalah ketua umumnya Suharso Manoarfa adalah Wakil Ketua Dewan Pusat SI (Syarikat Islam) dan Sekjennya Asrul Sani adalah kader HMI
Kini basis pemilih Islam modernis banyak di PKS, Partai Gelora, Partai Islam Ideologis, PAN, PBB
Beberapa Tokoh Islam menjadi pimpinan di Partai Nasionalis, Aburizal Bakrie (ICMI/Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia) adalah Ketua Dewan Pembina Partai Golkar, begitu juga Akbar Tandjung, lalu Hamka Haq mantan Ketua Umum PW SEMMI Sulsel adalah Ketua bidang DPP PDIP merangkap anggota DPR dari PDIP, sekaligus ketua ormas Islam sayap PDIP Bamusi (Baitul Muslimin Indonesia), Fadli Zon mantan Wakil Ketua umum Partai Bulan Bintang kini jadi pimpinan di Gerindra, Ahmad Muzani mantan Wasekjen PBR kini jadi Sekjen Gerindra, Alumni HMI dan juga tokoh ICMI Priyo Budi Santoso jadi Sekjen Partai Berkarya, sementara unsur muhammadiyah muda banyak di sktruktur Sekjen sampai ke beberapa bidang-bidang di PSI dan Perindo. Selain itu Amas membeberkan soal Pilpres pun Umat Islam pasang surut. Saat 1998, Umat dekat dengan BJ Habibie dan 1999 mereka galang Poros Tengah yang antarkan Gus Dur jadi Presiden dengan kekuatan Akbar Tanjung, Amien Rais, Nurmahmudi, Anis matta lalu di 2004,mereka terbagi pada figur Wiranto – Wahid dan Amien Rais juga Hasyim Muzadi yang memilih jadi wakil megawati, di putaran kedua pasca kekalahan amien dan wiranto, PAN, PKB, PKS berhasil menangkan SBY JK meski PBR pimpinan zainudin MZ dukung Megawati, lalu di 2009 mereka dari unsur pimpinan ormas Islam banyak mendukung JK Wiranto namun partai islam banyak mendukung SBY boediono, menanglah SBY lagi. Di 2014 dan 2019 Prabowo yang didukung banyak kelompok Islam kalah, kini umat jelang 2024 mencari figur baru. Sejumlah nama bermunculan seperti Sandiaga Uno (Wakil Ketua Syarikat Islam), Mantan Ketua MK Hamdan Zoelva, Anies Baswedan, Anis Matta
Namun Abdullah Amas menyebut ada peran ormas Islam bagi Karakter para pemimpin Bangsa, Soekarno misalkan adalah editor media Milik Syarikat Islam(SI) dan Pengajar di Sekolah Muhammadiyah Sumatra, Soeharto pun mengaku seorang Muhammadiyah dan mendorong terbentuknya ICMI yang dipimpin BJ Habibie dengan Ketua Dewan Pakar Prof Amien Rais
sumber: jurnalpubliksi.blogspot.com
BACA JUGA:   Turut berduka cita atas wafatnya Ir. H. Adi Darma, M.Si Ketua Dewan Wilayah Syarikat Islam Kalimantan Timur

News Feed