by

Kebhinekaan Untuk Patnership Global

oleh : Abdullah Amas
(Wakil Ketua DPW SI/Syarikat Islam) Jatim

Indonesia kini mengalami pertarungan menghadapi berbagai dinamika global, tentu jangan disibukkan oleh perang saudara yang diantaranya dipicu oleh radikalisme.

Membangun Harmoni Kebangsaan kini menjadi kolaborasi dari berbagai elemen ormas. Syarikat Islam misalnya melalui organisasi sayapnya yaitu SEMMI (Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia) menggagas dibentuknya HOS Tjokroaminoto Institute yang berfokus pada penangkalan terhadap faham-faham yang menabrak pakem agama yang benar, termasuk radikalisme. Mahfud MD, Hamdan Zoelva, Syafii Maarif dan lain-lain telah menggagas suluh kebangsaan jauh hari sebelum isu radikal.

Komunitas Gereja juga gencar berkomunikasi dengan ormas Islam misal dengan Perjalanan damai kereta dari Madura ke Jakarta, Partai-partai di Indonesia mulai yang paling sekuler maupun yang paling agamis mulai PSI sampai PKS pun sepaham bahwa kebhinekaan tak bisa ditawar-tawar lagi. Arah ke situasi ekstrim tentu saja perlu dihadang dengan nilai nilai wasathat, moderat, tengah, sederhana, seperti nilai – nilai yang dianut oleh organisasi Islam mayoritas seperti NU, Muhammadiyah, Syarikat Islam, Persis, Dewan Dakwah, Parmusi, Persatuan Tarbiyah Indonesia, Al washilah. Banser dari GP Anshor misalkan sampai turun langsung amankan gereja hingga ada anggotanya yang tewas, Muhammadiyah misalkan tak pernah pilah pilih dalam memberi pertolongan sosial termasuk kepada umat Kristiani.

Isu Meruntuhkan Harmoni Bangsa harus kita hajar dengan isu Populisme seperti kedamaian, kebhinekaan, toleransi, contoh damai masyarakat Madinah dimasa lalu. Pemerintah perlu merangkul sebanyak mungkin elemen masyarakat, untuk ikut menyebarkan dan mengabarkan bahwa inilah jalan agama yang lurus dan tidak ekstrim, inilah jalan pancasila sebagai tempat kita duduk bersila ditengah hujan dan badai perbedaan, inilah kebhinekaan sebagai warisan masa lalu yang membuat Nusantara bertahan dan bersatu hingga kini, rangkullah mahasiswa di HMI, PMII, KAMMI, SEMMI, GMNI, IMM, GMKI, PMKRI, rangkullah pemudanya di GP anshor, Pemuda Muhammadiyah,GPII, rangkullah pelajarnya di PII, IPNU, IPM, SEPMI, rangkullah lembaga-lembaga dai seperti Daina (Dapur Dai Nusantara), IKADI (Ikatan Dai Indonesia),lalu turut sertalah ajak berembut kelompok Islam yang masih nampak terlalu ke kanan seperti Majelis Mujahidin indonesia, Jemaah anshoru syariah, Hizbut Dakwah Indonesia, Jemaah anshorut Tauhid dan lain-lain.

BACA JUGA:   SEMMI Jatim Bakal Undang Ketua Partai Gelora Jatim Diksusi Visi Anis Matta

Gemakanlah bahwa ada satu hal yang lebih diperlukan kebersamaan daripada isu-isu ekstrim, misalkan Menjadikan indonesia sebagai kekuatan ke empat dunia, Indonesia sebagai tempat bagi Blok manapun untuk bersama berkawan dalam meja indonesia yang tidak memihak blok manapun di dunia ini dan justru bersama menciptakan perdamaian dunia. Indonesia yang menjadi Rute wisata yang menarik karena menawarkan kebhinekaan dan semua bebas disini mengekspresikan agamanya, Indonesia yang menjadi pelopor bagi damainya perang sunni syiah di Timteng, perang saudara di Korea serta kita masuk pada lompatan baru sebagai lokomotif bagi terbitnya demokrasi di negara-negara itu.                                                                         Hamparan horizon kebangsaan yang luas ini sendiri adalah buah dari situasi bangsa yang memilih tidak untuk emosi dalam beragama, hamparan horizon kebangsaan kita ini adalah hamparan bagi seluruh anak bangsa yang tak kan pernah memberi tempat bagi radikalisme untuk berkuasa memperberat laju kebangsaan yang sudah baik,  kita akan hidupkan gelombang persatuan dan menjadikan Indonesia sebagai negara yang mempertahankan kemajemukan, radikalisme itu harus dihentikan lajunya diantaranya melalui sekolah kebangsaan para Guru Bangsa, menghadirkan pemikiran para Guru bangsa yang telah bersusah payah menjaga NKRI mulai HOS Tjokroaminoto, H. Samanhudi, Soekarno, Hatta, Gus Dur, Nurchalis madjid, Syafii Maarif, BJ Habibie, Megawati Soekarno Putri, Surya Paloh dan lain-lain. Kedua melalui Wisata Alam kebangsaan agar ditanamkan rasa cinta tanah air dan perdamaian, alam pun suka pada nilai-nilai harmoni maka ia terjaga.

Ketiga perlunya melawan situs-situs internet yang menyeleweng dari tema-tema persatuan.

Keempat perlunya pemimpin terus menerus menampilkan di depan publik pada nilai-nilai kekompakan, rekonsiliasi, kerja keras pada hal-hal produktif.

Kelima, perlunya peran orang tua menerangkan kepada generasi muda tentang nilai-nilai perdamaian dimulai dari tetangga,

BACA JUGA:   Wakil Ketua SI Jatim Puji SBY dan Anis Dua Ketum Parpol yang Rajin Menulis

keenam perlunya nilai nilai ketuhanan yang dikenal penuh kasih sayang dijabarkan di sekolah sekolah, di mesjid mesjid,

Ketujuh perlunya berbagai elemen masyarakat memberikan penghargaan kepada instansi yang telah konsisten mengawal perlawanan terhadap radikalisme,

kedelapan perlunya pemanfaatan tekhnologi informasi maupun industri film dan sinetron untuk turut menjabarkan bahaya radikalisme yang membuat negara negara lain bergolak, kesembilan perlunya pengawasan lingkungan dari orang- orang yang dinilai radikal atau mulai aneh aneh dalam menjalankan agama secara ekslusif, memaksakan kehendak,

kesepuluh, perlunya semacam kopi kebangsaan, kopi darat atau kampanye di care free day oleh berbagai komunitas muda maupun agama bahkan lintas agama untuk menggelar acara acara santai misal sepeda lintas agama dan lainnya

kesebelas, perlunya agar penjara penjara diawasi dari upaya pengembangan nilai nilai radikalisme yang bisa saja menyusup ke penjara dengan memanfaatkan pikiran pendek mereka yang larut dalam kesedihan di penjara, kedua belas perlunya kerjasama dengan seniman dan artis untuk menggagas konser perdamaian dan persatuan lintas agama.

12 Hal inilah yang perlu ditawarkan ditengah bangsa ini. Perlunya energi, militansi adalah bagus jika disalurkan pada hal hal yang tepat dan tegas. INDONESIA Memerlukan gotong royong untuk menjadi wajah demokrasi di dunia internasional yang sejuk sebagai negara muslim terbesar di dunia, Indonesia memerlukan sebanyak mungkin cerita tentang  orang mesjid dan  orang gereja bisa bersatu padu  dalam ruangan bernama Indonesia Maju. Indonesia Maju dan Memiliki kekompakan antara pemimpin dan elitenya yang membawa armada besar rakyat Indonesia menjadi mercusuar peradaban dunia. Indonesia adalah Cerita tentang kekompakan, bukan deferensiasi, Indonesia adalah cerita tentang orang orang melepas warna bajunya masing masing untuk maju dalam gelanggang masa depan indonesia, Ide ide the next Indonesia adalah ide tentang mengubah wajah dunia dalam secangkir kopi perdamaian yang digelar oleh manusia Indonesia, siapkan Indonesia melawan radikalisme dengan menawarkan Kopi perdamaian yang sudah diracik dan dihidangkan dalam bangsa ini ke dunia luar? Insya Allah.

Abdullah Amas
Seketaris The Future Institute

sumber: jurnalpubliksi.blogspot.com

News Feed