by

Tjokroaminoto dan PSII

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

Suaramuslim.net – Tak lengkap rasanya jika berbicara tentang kemerdekaan Indonesia tanpa menghadirkan Hadji Oemar Said Tjokroaminoto di dalamnya. Tjokroaminoto dengan segala perjuangannya layak untuk kita refleksikan kembali. Jejak perjuangan Tjokroaminoto yang luar biasa menjadi langkah awal dalam pergerakan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Beberapa pemuda yang pernah tinggal dan belajar bersamanya di Gang VII No. 29-31 Peneleh Surabaya patut menjadikannya sebagai guru para pendiri bangsa. Beberapa pemuda yang dimaksud adalah Sukarno, Musso, Alimin, dan pemuda lainnya yang indekos di rumah Tjokroaminoto. Mereka adalah tokoh pergerakan selanjutnya yang berjuang memerdekakan Indonesia.

Para tokoh pergerakan seperti Ahmad Dahlan dan Mas Mansyur juga sering berkunjung ke rumah H.O.S. Tjokroaminoto, yang pada saat itu menjabat sebagai Ketua Umum Sarekat Islam. Tak hanya menjalin silaturahim dengan para tokoh pergerakan lainnya, Tjokroaminoto juga melakukan kerja sama dengan mereka untuk mencerdaskan bangsa ini. Contohnya, bersama Mas Mansyur, Tjokroaminoto mendirikan forum dakwah Ta’mirul Ghofilin. Bertempat di rumahnya, Ahmad Dahlan pernah diminta Tjokroaminoto untuk berceramah di forum tersebut.

Untuk mengenang perjuangan Tjokroaminoto, rumahnya di Gang VII No. 29-31 Peneleh Surabaya ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh Walikota Surabaya pada September 1996.

BACA JUGA:   Kebangkitan Nasional versi Sarekat Islam

Di masa penjajahan Belanda, banyak pemuda Indonesia merasa terpanggil untuk bergabung dengan Tjokroaminoto, melalui Partai Sarekat Islam Indonesia. Di antaranya adalah Ahmad Bahalwan dan Abdul Qadir Bahalwan yang merupakan kakak beradik. Terdapat beberapa teman seperjuangan di Partai Sarekat Islam yang lebih senior adalah Haji Agus Salim, Sangaji dan Wondoamiseno.

Abdul Qadir Bahalwan (kiri) dalam acara menghadiri undangan dari Presiden RI pertama, Ir. Soekarno, tahun 1955.

Perjuangan Partai Sarekat Islam Indonesia untuk menuju kemerdekaan bangsa Indonesia salah satunya dengan bersama-sama membuat wadah kekuatan yang bernama GAPI (Gabungan Politik Indonesia). Tujuan berdirinya GAPI untuk menuntut adanya parlemen Indonesia yang independen, bukan Volksraad yang merupakan bentukan pemerintah Belanda. GAPI didirikan pada tahun 1939 menjelang perang dunia ke-2.

Selain Gabungan Politik Indonesia (GAPI), juga terdapat wadah pergerakan lainnya yang bernama Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI). Majelis ini terdiri dari utusan partai dan organisasi-organisasi Islam di seluruh Indonesia. MIAI pernah mengadakan konferensi di Kota Surabaya pada tanggal 14-15 September 1940 yang dihadiri oleh utusan-utusan dari berbagai partai dan organisasi Islam di seluruh Indonesia.

Pada konferensi ini diambil beberapa keputusan penting, salah satunya perubahan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga MIAI. Serta dilakukan perubahan susunan pimpinan. KH. Abdul Wahid Hasyim yang merupakan wakil dari organisasi Nahdlatul Ulama (NU) dipilih menjadi Ketua Dewan MIAI, dan posisi Wakil Ketua diisi oleh Wondoamiseno dari PSII. Beberapa anggota Dewan MIAI adalah Umar Hubeis dari Al Irsyad, KH. Mas Mansyur dari Muhammadiyah, Dr. Sukiman dari PSII-PII. Di bagian struktur sekretariat, posisi ketua diisi oleh KH. Fakih Usman dari Muhammadiyah, Sekretaris diisi oleh Abdul Qadir Bahalwan dari PSII, dan Sastradiwirya dari Persis mengisi posisi Bendahara.

BACA JUGA:   Sigap Nasional mengucapkan Selamat & Sukses atas dikukuhkannya kepengurusan YPI Cokroaminoto

Atas jasa-jasa H.O.S Tjokroaminoto dalam mendidik dan mencerdaskan para tokoh pergerakan Indonesia berhasil menggerakkan mereka dan seluruh rakyat Indonesia untuk melawan penjajahan. Perjuangan seluruh rakyat Indonesia dalam meraih kemerdekaan tidak luput dari rahmat dan karunia Allah Subhanhu Wa Ta’ala.

Dari ulasan diatas dapat menjadi pembelajaran kepada generasi muda agar semakin bertanggung jawab dalam menjaga dan mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia yang sudah diperjuangkan oleh para pahlawan. Semoga Allah Subhanhu Wa Ta’ala menerima segala amal kebaikan para pahlawan Indonesia yang telah menjadikan Indonesia sebagai negara yang berdaulat, adil, dan makmur.

Referensi:
Seri Buku Saku Tempo (2017). Tjokroaminoto: Guru Para Pendiri Bangsa. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Cheng Ho, Muhammad (2016). MIAI: Wadah Ukhuwah Islamiyah, hidayatullah.com

Washil Bahalwan
Penulis adalah pemerhati sosial

sumber: suaramuslim.net

News Feed