by

Tjokroaminoto: Pemimpin Hebat yang Pantang Membebani Rakyat

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

Ada banyak hal yang bisa diteladani dari sosok Pahlawan Nasional HOS Tjokroaminoto (1882-1934) dalam bidang kepemimpinan. Salah satunya, komitmen untuk tidak menjadi beban bagi rakyat.

Dalam catatan sejarah, dia adalah tipikal pemimpin yang tak mau membuat orang susah. Selama dirinya mampu untuk melayani diri sendiri, maka tidak akan merepotkan orang lain.

Alkisah, Mohammad Natsir bercerita pernah terharu oleh Haji Oemar Said Tjokroaminoto, yang merupakan tokoh nomor wahid Sarekat Islam kala itu. Pertemuan dengan pria yang dikenal dengan kumis tebalnya itu berlangsung di Stasiun Bandung saat Tjokro mengunjungi cabang-cabang Sarekat Islam.

Satu momen yang menarik perhatian Natsir adalah “veldbed” (tempat tidur bisa dilipat) yang dibawa pria berjuluk “De Ongekroonde van Java” (Raja Jawa Tanpa Mahkota) itu. Selepas berkenalan, Natsir mencoba memberanikan diri bertanya alasan di balik kebiasaan Pak Tjokro yang membawa “veldbed”.

Mendengat pertanyaan demikian, Tjokro menjawab, “Saya tidak mau jadi beban orang yang saya datangi. Saya bisa menginap di mana pun dengan ini. Di masjid atau di mana pun,” sebagaimana diceritakan Natsir (Tim Buku Tempo, Natsir Politik Santun di Antara Dua Rezim, 2016: 72, 73)

Perhatikan diksi menarik dari Pak Tjokro yang dikenal dengan sebutan “Jang Oetama” itu. Sebagai pemimpin, dirinya sama sekali tak mau merepotkan orang lain. Baginya, sebagai pemimpin semestinya minimal tidak menjadi beban bagi rakyat, jika tak mampu berbuat baik untuk mereka.

Apa yang dilakukannya mengingatkan pembaca kepada sosok Umar bin Khattab Ra. Saat menjadi orang nomor satu dalam pemerintahan Islam, beliau masih menyempatkan diri untuk mempedulikan rakyat.

Walau berbagai fasilitas bisa saja diperolehnya. Namun dia bukanlah tipe pemimpin yang suka dilayani. Pernah di suatu malam keliling mencari rakyatnya yang kelaparan.

Ketika ditemukan, beliau sendiri yang mengangkat pasokan makanan dari gudang pangan untuk diberikan kepada rakyatnya.

BACA JUGA:   Harapan dan Makna Kemerdekaan Para Pesohor di HUT RI ke-75

Jika dicermati, sebenarnya, dalam batas kewajaran, bisa saja Pak Tjokro menerima penyambutan istimewa dari masyarakat yang dikunjunginya, namun itu tidak terjadi. Jika itu menyangkut urusan pribadi yang bisa dikerjakan sendiri, maka sedapat mungkin beliau akan mengerjakannya agar tak menjadi beban.

Lain halnya ketika orang lain butuh bantuannya, maka dengan senang hati, tangannya akan selalu terbuka lebar untuk menolongnya. Maka tak mengherankan jika dalam sejarah, mentor para pejuang nasional itu dikenal sebagai sosok yang selalu membela rakyat yang tertindas.

Beliau berusaha membantu rakyat yang tanahnya dirampas oleh Belanda untuk dijadikan perkebunan. Selain itu, beliau juga menyampaikan aspirasi penyetaraan antara dokter Indonesia dan Belanda. (Mirnawati, 83)

Melalui SI (Sarekat Islam), beliau berjuang untuk menghapus diskriminasi usaha terhadap pedagang pribumi. Demikian juga penjajahan di Tanah Air. Dengan kemampuan orasi yang demikian ulung, beliau adalah orang pertama kali yang meneriakkan Indonesia merdeka. (Johan, 2014: 16)

Akibat dari keberanian dan kepeduliannya itu, beliau sampai pernah mendekam di penjara. Semua itu dilakukan sebagai wujud kepedulian beliau kepada orang tertindas. Demikianlah memang kapasitas seorang pemimpin.

Untuk diri sendiri mereka tak bermanja-manja, untuk orang lain beliau akan berjuang sedemikian rupa agar kebutuhan mereka terpenuhi. Dengan kepribadian yang sedemikian luhur itu, tak berlebihan jika Solichin Salam dalam bukunya “Hadji Agus Salim Pahlawan Nasional” (1964: 201) mencatat, “Tjokroaminoto adalah satu-satunja pemimpin Indonesia jang dihormati dan disegani oleh Hadji Agus Salim. Hanja kepada Tjokro-lah Agus Salim tunduk dan mau mengalah.

Dalam Sarekat Islam dahulu keduanja merupakan ‘Dwi-tunggal’ dalam pimpinan partai.” Bagaimana tidak, pemimpin sekelas Tjokro, di samping memiliki karisma tinggi, orator ulung, politisi andal, beliau juga terjun langsung kelapangan untuk memperjuangkan nasib rakyat yang tertindas.

BACA JUGA:   HOS Tjokroaminoto, Raja Tanpa Mahkota Penentang Feodalisme

Kalau hanya dunia dan kepentingan pribadi tujuan Pak Tjokro, kenapa dia susah-susah menjalani hidup yang bagi sementara orang tidak masuk lumrah di zamannya? Pasca lulus OSVIA (Opleidings Svhool Voor Inlandsche Ambtenaren), tahu 1902 di usianya yang 20 tahun, beliau berkesempatan bekerja menjadi Juru Tulis di Glodog, Purwodadi, Ngawi (A.D. Mulawarman, 2015: 16-18). Pekerjaan itu di masanya cukup bergengsi, namun jiwa kritisnya memberontak.

Apa yang dia alami di sekolah OSVIA dan pengalaman menjadi Juru Tulis selama 3 tahun, membuatnya tersadar bahwa ada diskriminasi di Tanah Air. Daripada asyik di zona nyaman tapi mengorbankan nasib pribumi yang tertindas, lebih baik keluar membawa idealisme kemerdekaan dan kesetaraan. Tak tanggung-tanggung, beliau tak gengsi menjadi kuli di pelabuhan untuk merealisasikan idealismenya itu.

Jejak langkah Pak Tjokro senantiasa relevan untuk diteladani utamanya bagi generasi yang tumbuh di era digital seperti saat ini. Untuk menjadi pemimpin, tak cukup hanya berbekal wacana, retorika, janji dan ijazah.

Lebih dari itu, dia harus peduli kepada yang dipimpin, merasakan penderitaan mereka, berjuang bersama serta yang terpenting adalah minimal tidak menjadi beban bagi rakyat.

Sebagai guru bangsa, Hadji Oemar Said Tjokroaminoto telah memberikan keteladanan yang baik itu. Pada dirinya tidak berlaku pibahasa “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari” yang berarti contoh yang jelek akan ditiru dengan yang lebih jelek lagi (Maskar, 1972: 33). Karena, sebagai pemimpin teladan baiklah yang diberikan kepada para muridnya.

Dalam belantika sejarah, beliau sebagai induk semang para pejuang. Para muridnya menjadi tokoh di negeri ini. Sebut saja: Soekarno, Semaun, Kartosuwijo, Hamka dan lain sebagainya. Kesemuanya pernah mereguk dan merasakan secara langsung pendidikan dan kepemimpinan dari putra R.M. Tjokroamiseno itu. (Aza)

sumber: indonesiainside.id

News Feed