by

SAREKAT ISLAM DI KALIMANTAN SELATAN

Sejarah SI Kalsel

AL-BANJARI, hlm. 123–138                                                                            Vol. 9, No.2, Juli 2010

ISSN 1412-9507

 

SAREKAT ISLAM DI KALIMANTAN SELATAN

Humaidy Abdussami*

 

ABSTRACT

 

Sarekat Islam (SI) merupakan organisasi Islam Indonesia pertama yang pada awalnya berkembang pesat dan sangat cepat, bahkan sekaligus terkesan sangat missal dan kolosal. Namun anehnya kemajuan itu tak bertahan lama, secara cepat juga kemudian mengalami kemerosotan bahkan kemunduran yang sangat panjang, tak tau entah kapan bisa bangkit kembali meraih masa kejayaannya dahulu. Rupanya pada waktu berdirinya SI, pada satu sisi tepat momentumnya, pada sisi yang lain tokoh pimpinannya yang muncul peka dalam menangkap momentum tersebut sehingga mampu mengolah dan mengaktualkannya dengan baik sebagai pergerakan yang dahsyat dan mengejutkan. Di samping didukung adanya sikap netralitas institusi dan pemimpinnya terhadap berbagai ideologi dan aliran keagamaan. Sebaliknya, ketika SI sudah tidak bersikap netral lagi dan para pimpinannya sudah kehilangan elan vital kepekaannya dalam menangkap tanda-tanda zaman, maka terjadilah krisis yang panjang dan tidak diketahui kapan berakhir. Fenomena seperti ini melanda juga SI di Kalimantan Selatan. Meskipun sempat besar dengan aktifitas berbagai macam bidang terutama bidang pendidikan, sosial, politik dan ekonomi, tapi hal itu tak berjalan lama, hanya beberapa tahun, sesudah itu terpuruk karena terlalu jauh memasuki wilayah politik. Begitulah keberadaan SI secara keseluruhan, termasuk SI di Kalimantan Selatan, kejayaannya hanyalah nostalgia yang menghanyutkan, sebab dalam kenyataannya SI sampai sekarang tak mampu untuk bangkit. Memang masih ada tapi hanya papan nama, kecil sekali yang dalam ungkapan Arab “wujuduhu kaadamihi”, adanya seperti tidak adanya.

 

Kata kunci: Kemajuan, Kemunduran, Kebangkitan Pendahuluan

 

Sarekat Dagang Islam yang didirikan H. Samanhudi tahun 1909, tampuk pimpinannya diserahkan pada bulan Mei 1912 kepada HOS Tjokroaminoto

 

 

 

*Penulis adalah Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari Banjarmasin dan Peneliti khazanah lokal di LK3 Banjarmasin.

 

 

124 AL-BANJARI                                                                                            Vol. 8, No.2, Juli 2010

 

yang mengubah nama dan sifat organisasi serta memperluas ruang geraknya.1 Sebagai organisasi politik pelopor nasionalisme Indonesia, Sarekat Islam (SI) yang merekrut anggotanya dari berbagai kelas dan aliran yang ada di Indonesia. Waktu itu, ideologi bangsa kemerdekaan. Tjokroaminoto dalam pidatonya pada Kongres Nasional Sarekat Islam yang berjudul “Zulfbestuur” tahun 1916 di Bandung mengatakan:

 

“Tidak pantas lagi Hindia (Indonesia, pen.) diperintah oleh negeri Belanda, bagaikan tuan tanah yang menguasai tanah-tanahnya. Tidak pada tempatnya menganggap Hindia sebagai seekor sapi perahan yang hanya diberi makan demi susunya. Tidaklah pantas untuk menganggap negeri ini sebagai tempat kemana orang berdatangan hanya untuk memperoleh keuntungan, dan sekarang sudah tidak pada tempatnya lagi, bahwa penduduknya, terutama anak negerinya sendiri, tidak mempunyai hak turut bicara dalam soal-soal pemerintahan yang mengatur nasib mereka.”2

 

Demikianlah SI memperjuangkan pemerintahan sendiri bagi pendudukan Indonesia, bebas dari pemerintahan Belanda. Hal ini seiring dengan pemerintahan Belanda sendiri sedang menjalankan politik etis, politik balas budi. Belanda mendirikan sekolah-sekolah formal bagi bumi putera, terutama dari kalangan priyayi dan kaum bangsawan. Pendidikan Belanda tersebut membuka mata kaum terpelajar termasuk anggota SI akan kondisi masyarakat Indonesia. Pengetahuan mereka akan kemiskinan, kebodohan dan ketertindasan masyarakat Indonesia,3 membuat mereka sadar pentingnya rasa persatuan. SI waktu itu mampu menjadi wadah dan titik-temu berbagai kelas dan aliran untuk berjuang dalam satu visi dan aspirasi menuju kemerdekaan dan mempunyai pemerintahan sendiri. Bisa dikatakan pada waktu itu, SI merupakan organisasi yang bisa dan peka menangkap tanda-tanda zaman, hadir pada ruang dan momentum yang tepat untuk menjadi penyambung nurani dan lidah rakyat. Wajar, jika kemudian ia cepat berkembang menjadi organisasi besar yang mempunyai banyak cabang di Indonesia, termasuk di Kalimantan Selatan.

 

Di Kalimantan Selatan, keberadaan SI sebenarnya termasuk yang sangat besar di luar Jawa dan sudah barang tentu cukup diperhitungkan, sampai-

 

 

1Amelz (ed.), HOS Tjokroaminoto, Hidup dan Perjuangan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1952),

 

  1. 94

 

2HOS Tjokroaminoto,”Zelfbestuur”, dalam P.Soeharto dan S.Zainul Ihsan (ed.), Aku Pemuda Kemarin di Hari Esok, (Jakarta: Gunung Agung, 1982), h. 11

 

3Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942, (Jakarta: LP3ES, 1980), h. 20

 

 

HUMAIDY ABDUSSAMI                                                                                    Sarekat Islam     125

 

sampai Tjokroaminoto sendiri beberapa kali berkunjung ke daerah ini dalam waktu yang berdekatan. Namun anehnya kajian SI di Kalimantan masih sangat minim, jika dibandingkan dengan kajian SI di wilayah-wilayah lain terutama SI di Jawa, Sumatera dan Sulawesi.

 

Hal ini mungkin lantaran data-data tentang SI di Kalimantan Selatan yang berupa dokumen dan tulisan tulisan awal tokoh-tokohnya banyak tersimpan di Belanda, yang tersisa hanya informasi sangat terbatas hasil wawancara dari tokoh-tokoh SI yang masih hidup, berupa skripsi dan artikel saja.

 

Berangkat dari masalah ini, tulisan ini diangkat walaupun dengan bahan yang sangat minim alias hanya menghimpun berbagai tulisan yang masih berserak.

 

Berdirinya SI di Kalimantan

 

Tak berselang lama dari tahun berdirinya SI di Jawa, tahun 1912 sudah muncul cabangnya di Kalimantan Selatan. Berdirinya cabang SI di bumi Antasari ini bagi Arsyad Manan sebagai terpancangnya pertama kali tonggak sejarah pergerakan Islam dalam masyarakat Banjar.4

 

Kemunculan cepat SI di suatu daerah yang disebut Zuider en Ooster Afdeling van Borneo dengan ibukotanya Banjarmasin, yang waktu itu terdiri dari Propinsi Kalimantan Selatan (luas 37.660 Km2) dan Propinsi Kalimantan Tengah (luas 152.600 Km2) ini, benar-benar sangat memusingkan penjajah Belanda. Mereka tidak menghitung cabang SI (organisasi yang sangat kritis terhadap kebijakan politik penjajah Belanda), bias secepat itu berdiri di tempat yang cukup jauh dari pusat kegiatannya. Suatu kejadian di luar dugaan mereka sama sekali.: ”Kami merasa kecolongan di hari siang bolong”, demikian kata Residen LPJ Rykmons dan Penguasa Militer Luitemant Colonel yang disebut “OSOS” JPA Wilhem.5 Apalagi setelah melihat kemajuan SI yang sedemikian pesat semakin membuat penjajah Belanda khawatir, was-was dan gentar. Padahal waktu itu SI belum betul-betul menjadi gerakan politik, masih sebagai gerakan sosial. Namun rupanya karena ada label Islamnya itu, benar-benar membuat penjajah Belanda sangat ketakutan, kalau-kalau akan terjadi pemberontakan-pemberontakan lagi, karena baru saja beberapa tahun berlalu

 

 

 

4Arsyad Manan, Sejarah Pergerakan di Kalimantan Selatan, buku catatan, h. 1

 

5Arsyad Manan,”Sejarah Gerakan Pembaharuan dan Kelanjutannya di Kalimantan”, Panji Masyarakat, No.191, 15 Januari 1976, h. 27

 

 

126 AL-BANJARI                                                                                            Vol. 8, No.2, Juli 2010

 

Perang Banjar yang amat panjang dan melelahkan. Apa mau bersambung lagi dengan pemberontakan baru yang mungkin lebih panjang lagi.

 

Adapun pendiri SI Cabang Kalimantan Selatan adalah H. Abdul Razak, seorang pemuda Banjarmasin yang lahir di kampong Seberang Masjid, yang saat itu sempat bermukim di Kalisasak, Jember (Jawa Timur), dan H.M. Arif seorang padagang kelahiran Marabahan yang sering mondar-mandir Banjarmasin-Surabaya membawa barang dagangan. Ketika berada di Surabaya H.M. Arif turut aktif dalam pergerakan dengan menjabat sebagai Komisaris SI di Surabaya. Atas saran Ketua, HOS. Tjokroaminoto, ia diminta pindah ke Banjarmasin, tetap sebagai Komisaris SI, tapi untuk wilayah Kalimantan Selatan.6 Selain itu, ada seorang tokoh dari Jawa Sostrokardono sahabat karib dari H.M. Arif7 yang bersedia membantu sebagai pengurus dan mau tinggal di Banjarmasin. Akhirnya terbentuklah pengurus SI Cabang Kalimantan Selatan yang diketuai oleh H.M. Arif dengan wakilnya H.A. Samad.

 

Setelah terbentuk pengurus SI Cabang Banjarmasin, tak berapa lama menyusul berdirinya cabang-cabang lain di beberapa kota di Kalimantan Selatan. Sebut saja misalnya, SI Cabang Martapura, Pelaihari, Kotabaru, Rantau, Kandangan, Margasari, Negara, Marabahan, Amuntai dan Barabai.

 

Perkembangan pesat SI di Kalimantan Selatan selain ia sebagai organisasi yang menjadi penyambung nurani dan lidah rakyat seperti telah disebutkan di atas, juga karena faktor kedekatan dalam aspek geografis dan ekonomi dengan Jawa, ditambah lagi dengan dukungan dari aspek agama. Mayoritas dari penduduk Kalimantan Selatan adalah penganut agama Islam yang taat bahkan cenderung fanatik sehingga sangat mudah tertarik dengan cita-cita dan perjuangan SI. Sebagaimana ditinjau dari anggaran dasarnya yakni mengembangkan jiwa berdagang; memberi bantuan kepada anggota-anggota yang menderita kesukaran; memajukan pengajaran dan semua yang mempercepat terangkatnya derajat bumi putera; menentang pendapat-pendapat yang keliru tentang agama Islam. Ini semua mampu menarik hati rakyat banyak yang beragama Islam untuk berkiprah, mulai dari golongan petani, buruh, pedagang sampai golongan terpelajar, aktifis dan ulama dengan berbagai motif dan kepentingannya masing-masing.

 

Meski SI telah didirikan dan sudah eksis di Kalimantan Selatan, tapi tidak mudah bagi pengurusnya untuk merealisasikan program kerjanya. Kenapa ini terjadi? Karena pengakuan berbadan hukum (rechtsperson) oleh pemerintah

 

6Arsyad Manan, op, cit, h. 2

 

7Suriansyah Ideham dkk (ed.), Sejarah Banjar, (Banjarmasin: Balitbangda, 2003), h. 276

 

 

HUMAIDY ABDUSSAMI                                                                                    Sarekat Islam     127

 

penjajah Belanda tidak terbit-terbit. Baru pada 30 September 1914 melalui Besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 33, izin (legalitas) itu diserahkan kepada SI Cabang Banjarmasin. Sebelum Besluit ini terbit, sempat pada 7 Juni 1914 pemimpin SI pusat, HOS.Tjokroaminoto datang berkunjung ke Banjarmasin, kemudian tahun 1915 dan selanjutnya tahun 1917. Tidak jelas, dalam rangka apa Tjokroaminoto sampai tiga kali berturut-turut berada di Banjarmasin dalam jangka waktu yang hampir berdekatan? Kemungkinan besar untuk mendesak pemerintah penjajah Belanda segera menerbitkan Besluit kepada SI Cabang Banjarmasin. Bisa jadi juga, untuk memberi semangat dan menghidupkan kembali gairah umat Islam terutama pengurus SI dan anggotanya agar lebih aktif berorganisasi menggalang kebersamaan demi perjuangan menggapai kemerdekaan, lepas dari belenggu penjajahan.

 

Sejak itu, mulailah SI Kalimantan Selatan dapat bergerak, lebih leluasa dalam mengambil langkah-langkah perjuangannya dalam berbagai bidang terutama dalam bidang pendidikan, sosial, ekonomi dan keagamaan.

 

Berbeda dengan perjuangan di bidang sosial, pendidikan dan keagamaan yang relative berhasil, maka perjuangan SI di bidang perekonomian pada awal-awal pergerakannya kurang menunjukkan hasil yang berarti. Setelah didirikan pada tahun 1912 SI telah mendirikan Syarikat Dagang dan Syarikat Pelayaran sebagai upaya untuk memperlancar arus transfortasi antara sungai-sungai yang merupakan jalur perniagaan penting di Kalimantan Selatan, tapi agaknya usaha-usaha itu tidak mampu melawan monopoli perdagangan yang telah lama dikuasai oleh orang Cina yang memang mendapat perlakuan istimewa dari pemerintah penjajah Belanda.

 

Kegagalan SI di bidang ekonomi membawa pengaruh buruk terhadap organisasi, di mana pengurusnya tidak lagi mempunyai kekompakan kerja dan dengan sendirinya inisiatif organisasi sangat menurun, sehingga tahun 1920 SI Banjarmasin beku tanpa kegiatan. Hal ini, karena dampak krisis SI di pusat. Pada waktu itu SI di tingkat pusat sudah mulai terjadi perbedaan taktik dan program; golongan revolusioner berhadapan dengan golongan moderat; dan politik koperasi tidak sejalan dengan politik non-koperasi yang dilakukan oleh golongan tertentu. Puncak perbedaan itu terjadi di dalam tubuh SI sendiri, antara SI putih yang berideologi Islam dan SI merah yang berideologi komunis. Nur Maksum menambahkan bahwa mundurnya SI karena para tokohnya dihinggapi penyakit perpecahan dan ambisi kedudukan, terutama kepemimpinan H.M. Arif sebagai president yang menjabat terlalu lama sejak berdirinya tahun 1912 sampai tahun 1919. Akhirnya memang H.M. Arif

 

 

128 AL-BANJARI                                                                                            Vol. 8, No.2, Juli 2010

BACA JUGA:   Ketua Umum Syarikat Islam Silaturahmi Ke DPW Syarikat Islam Sumatera Selatan

 

mengundurkan sebagai president dan digantikan H.M. Saleh. Namun hal ini rupanya tidak membuat perubahan berarti atau bias melakukan perbaikan, sebaliknya justru semakin tak mampu untuk mencegah perpecahan yang berakibat pada semakin melemahnya organisasi SI di daerah ini.8

 

Sesudah beberapa lama mengalami keretakan dan kemudian sempat lesu dalam tubuh SI di daerah ini, akibat krisis di tingkat pusat dan penyakit perpecahan di tingkat daerah serta wabah dari situasi perang dunia pertama, maka pada permulaan tahun 1920 SI di Kalimantan Selatan pada umumnya dan Banjarmasin pada khususnya bangkit kembali. H.M. Arif yang dulu sempat mengundurkan diri, terpilih kembali sebagai president SI Banjarmasin dengan wakilnya H.A. Karim Corong. Namun kebangkitan ini tidak sempat berjalan lama, hanya sebentar saja sempat memberi harapan, sesudah itu mengalami krisis kembali, hingga akhirnya kepengurusan dibekukan lagi dalam waktu yang tidak ditentukan.

 

Kedatangan kembali untuk keempat kalinya HOS. Tjokroaminoto ke Banjarmasin tahun 1919 kemungkinan sekali erat kaitannya dengan kemunduran SI di daerah ini. Sebab setelah kunjungannya itu, pengurus Central Sarekat Islam (CSI) mengirim seorang propagandis muda terpelajar, cakap, berani dan dinamis bernama Raja Sutan Maraja Suyuti Lubis asal Sumatera Timur. Dalam melaksanakan tugasnya di daerah ini, Suyuti telah memahami bahwa satu-satunya kemungkinan untuk menyelamatkan SI dari kehancuran adalah dengan melakukan reorganisasi di antaranya mengganti pengurus lama dengan pengurus baru. Dengan dibantu oleh Anjung M. Horman yang berasal dari Marabahan Suyuti pada tahun 1922 berhasil membentuk pengurus baru SI Banjarmasin sebagai berikut: 1. President: Mohammad Horman (Mantan Jaksa), 2. Wakil President: H. Abdul Karim Corong (Tukang Mas), 3. Sekretaris I : M. Zamzam (Mantan Guru HIS), 4. Sekretaris II : M. Pasi (Guru Sekolah Islam), 5. Bendahara: H. Abdul Gani (Pedagang), 6. Pembantu-pembantu: a. M. Nunci (Pedagang) b. HM. Arif (Pedagang-Petani) c. Jailani (Pedagang) d. M.Thaib (mantan Mantri Cacar). 7. Penasehat: a. Maraja Suyuti Lubis (Wartawan Harian Warta Deli), b. H. Akhmad Dasuki (Guru Agama Madrasah Wathaniyah).

 

Sebagai bagian dari program reorganisasi, maka dibentuklah beberapa departemen seperti Departemen Perburuhan, Pertanian, Urusan Nelayan dan sebagainya. SI Cabang Banjarmasin juga menerbitkan surat kabar dengan nama

 

8H.M. Nur Maksum, Gerakan Islam Moderen Di Kalimantan Selatan (1900-1942), (Banjarmasin: IAIN Antasari, 1998), h. 61

 

 

HUMAIDY ABDUSSAMI                                                                                    Sarekat Islam     129

 

“Keadaan Zaman” yang dicetak sendiri dan “Borneo Bergerak” yang dicetak di Surabaya.. Pada tahun 1923 SI Cabang Banjarmasin mendirikan organisasi kewanitaan dengan nama “SI Dunia Isteri” dengan ketuanya Siti Masinah.9

Untuk menghimpun SI lokal dan organisasi-organisasi di luar SI lainnya, maka pada tahun 1923 dilaksanakan National Borneo Congres I dan II yang diikuti oleh semua wakil-wakil SI yang ada di Karesidenan Afdeling Selatan dan Timur Borneo serta wakil-wakil persyarikatan Dayak, karena saat itu hanya ada dua golongan pergerakan yang dianggap mewakili rakyat Borneo. Meski pemimpin terkemuka SI yakni HOS. Tjokroaminoto dan H. Agus Salim dilarang penjajah Belanda hadir, tapi kongres ini berhasil menyusun mosi berisikan segala macam keberatan dan permohonan rakyat Borneo kepada pemerintah Hindia Belanda dalam bidang politik, ekonomi, pajak, rodi, pendidikan dan sebagainya.

 

Pemakaian kata “Nasional” dalam kongres merupakan cerminan dari upaya pemimpin pemimpin SI di Kalimantan untuk menyebarkan dan menegakkan cita-cita sebagai satu bangsa, dan cita-cita itu juga dimanifestasikan melalui keikutsertaan cabang-cabang SI di Kaliman tan Selatan dalam National Indische Congres (NIC). Sejak kongres NIC yang pertama tahun 1916 SI telah mengemukakan perasaan kebangsaan Indische yang mengikat seluruh suku bangsa yang ada di Kepulauan Hindia (Nusantara).10

 

Nampaknya SI di Kalimantan Selatan, meskipun sempat terpengaruh perpecahan SI di pusat, tapi itu. hanya sesaat, sesudah itu tetap bisa kondusif kembali. Hal ini dapat dilihat sewaktu HOS. Tjokroaminoto menghadapi musuh dalam selimut yaitu Semaun Cs yang membentuk SI Merah dan pada giliran berikutnya mendirikan Partai Komunis Indonesia (PKI), maka SI di Kalimantan Selatan khususnya dan Kalimantan umumnya berpendirian tetap berada dalam apa yang disebut sebagai SI Putih atau selalu setia mendukung HOS. Tjokroaminoto dan H. Agus Salim. Keberadaan SI di seluruh Kalimantan pada tahun-tahun 1920-an tetap utuh.11

 

SI dan Pendidikan

 

Di beberapa kota di Kalimantan Selatan yang ada Cabang SI biasanya terdapat gedung-gedung kegiatan yang dikenal dengan sebutan Gedung Kalap

 

 

9Suriansyah Ideham dkk (ed.), op., cit., h. 277

 

10Ibid.,

 

11H.M. Nur Maksum, op., cit., h. 63

 

 

130 AL-BANJARI                                                                                            Vol. 8, No.2, Juli 2010

 

(Club). Biasanya gedung ini dimanfaatkan pula sebagai tempat kegiatan madrasah yang dikelola oleh SI.

 

Di kota Martapura yang terkenal sebagai kota Serambi Makkah KH. Jamaluddin sebagai Ketua Cabang SI di sana, bersama-sama KH. Hasan Gampau, KH. Ibrahim Kadir, KH. Abdurrahman, KH. M. Tami dan KH. M. Nasir 14 Juli 1914, mendirikan lembaga pendidikan yang bernama Madrasatul Imad fi Ta’limil Awlad Darussalam (sekarang dikenal sebagai pondok pesantren Darussalam) yang mengajarkan agama masih dengan cara masih sederhana, ngaji duduk, belum memakai sistem klasikal dan menggunakan kitab kuning sebagai bahan atau materi pengajarannya. Sejak awal berdirinya langsung mendapat sambutan luas sehingga menjadi lembaga pendidikan Islam yang paling diminati terutama sekali oleh masyarakat Martapura pada khususnya dan masyarakat Kalimantan Selatan pada umumnya.12 Sampai sekarang Darussalam ini terus berkembang, menjadi pondok pesantren yang punya santri terbesar (menurut data terakhir mencapai 16.000 orang) di Kalimantan Selatan, tapi tidak ada lagi kaitannya dengan SI. Di Banjarmasin terdapat Gedung Kalap, tepatnya di Kampung Seberang Masjid. Di gedung inilah SI mendirikan Sekolah Islam 5 tahun yang diberi nama Hadzihil Madrasatul Wathaniyah. Mata pelajaran yang diberikan meliputi pengetahuan agama dan sedikit pengetahuan umum. Guru-guru yang mengajar waktu itu adalah H. Muhammad Said Gusti (Kepala Sekolah), Said Idrus (Wakil Kepala Sekolah), dengan guru-guru bantu Syekh Muhammad bin Amir, H. Mahmud, M. Ideham, H. Abdus Syukur, M. Pasi, H. Anang Ahmad Basuki dan H. Hamsyah.13

 

Pada tahun 1932 perguruan ini diasuh oleh tokoh-tokoh Islam yang tidak ada hubungan lagi dengan SI. Sekarang sudah diserahkan atau menjadi milik Muhammadiyah Cabang VII Banjarmasin, sedangkan gedung SI yang bersejarah yaitu “Cahaya Tatas” menjadi kompleks Perguruan Muhammadiyah Cabang VII Banjarmasin.14

 

Sekolah Islam SI lain yang sama tuanya adalah Arabische School, berdiri pada tahun 1915, yang kemudian diganti nama dengan Islamische School di Kampung Bugis (Sekarang, Jalan Sulawesi), Pasar Lama. Dibangun dan dibiayai oleh golongan Arab yang mengikuti paham keagamaan Muhammad Abduh (pengarang Tafsir Al-Manar dan Risalah Tauhid) dari Mesir. Sekolah ini di bawah

 

12Humaidy,”Punduk Darussalam dalam Lintasan Sejarah, Kandil Edisi 2, Tahun I, September 2003, h. 64

13Suriansyah Ideham dkk (ed.), op.,cit., h. 265-266

 

14Arsyad Manan, op.,cit., h. 24

 

 

HUMAIDY ABDUSSAMI                                                                                    Sarekat Islam     131

 

asuhan Syekh Ibrahim Al-Mulla (berasal dari Mesir) dan Saleh Bal’ala (aktivis SI). Pada mulanya sekolah ini khusus mendidik anak-anak keturunan Arab saja, tapi kemudian meluas dan terbuka untuk umum termasuk anak-anak bumiputera.

 

Dalam usaha meningkatkan kesejahteraan rakyat tahun 1922 di saat SI Cabang Banjarmasin diketuai oleh M. Horman, didirikanlah Partikuliere Hollands Inlandsche School atau HIS Swasta, bertempat di Pasar Lama, dipimpin oleh Abdul Gais dan dibantu oleh Mansyur Ali Hasan

 

Di Kota Marabahan atas dorongan HM. Arif telah berdiri HIS Swasta yang dikelola oleh SI dan dikemudian hari nantinya menjadi Perguruan Taman Siswa. Sementara di Kota Kandangan Madrasah SI didirikan di Luklua yang kemudian menjelma sebagai Madrasah Islam Pandai.15

 

SI dan Sosial-Politik

 

Di bidang Sosial SI tetap melanjutkan kegiatan gotong-royong dengan membentuk sinoman kematian, sinoman perkawinan, sinoman perayaan dan sebagainya. Upaya memperbaiki jalan-jalan yang rusak, membersihkan sungai-sungai yang kotor, pembukaan lahan-lahan pertanian, member bantuan kepada anggota yang ditimpa kemalangan, menolong fakir-miskin, merehabilitasi masjid, langgar dan sekolah Islam. 16 SI juga menuntut perlakuan yang sama sebagaimana diberikan pemerintah Hindia Belanda terhadap golongan Eropa dan Timur Asing. Tuntutan antara lain, meliputi:

 

  1. Menuntut pemerintah (Hindia Belanda) supaya tidak membedakan dalam perbaikan, baik jalanan maupun jembatan antara Kampung Eropa dan Kampung Bumiputera, sebab selama ini yang mendapat perbaikan hanyalah jalanan dan jembatan Kampung Eropa saja, sedangkan Kampung Bumiputera diabaikan.

 

  1. Menuntut pemerintah (Hindia Belanda) supaya member perlakuan yang adil di hadapan hukum antara penganjur-penganjur pergerakan rakyat dan kaum bangsawan atau kepada bangsa Eropa lainnya, baik dalam status hukum maupun macam-macam hukumannya.

 

  1. Menuntut pemerin tah (Hindia Belanda) supaya guru agama, guru sekolah Islam, khatib, bilal dan kaum dibebaskan dari kewajiban menjalankan Ordonnantie Heerendienst yang menyangkut gerakan atau

 

15Suriansyah Ideham dkk (ed.), loc.,cit.,.

 

16Arsyad Manan, op.,cit., h. 1

 

 

132 AL-BANJARI                                                                                            Vol. 8, No.2, Juli 2010

 

kerja rodi, sebagaimana berlaku bagi guru agama Kristen, Penginjil, Kepala Jemaat dan guru sekolah Zending.17

 

SI dan Perekonomian

 

Antara tahun 1922 sampai 1930 usaha SI di bidang ekonomi semakin meningkat dan diperluas bukan hanya untuk kepentingan anggota, tapi juga untuk kepentingan seluruh rakyat yang banyak menanggung beban penderitaan. Ini erat kaitannya dengan cita-cita nasionalisme SI dan hasil dari keputusan National Borneo Congres. Ini terlihat pada perbaikan ekonomi rakyat dengan melawan adanya economische uitbuiting (pengurasan ekonomi) antara lain dalam bentuk pungutan pajak yang besarnya tidak sebanding dengan penghasilan rakyat. Taksiran pajak dikenakan berlapis-lapis dan dipungut antara lain oleh Gemeenteraad Bandjermasin, oleh Desaraad di bagian afdeling Hulu Sungai serta pajak-pajak yang dipungut oleh Kas Negara di pasar-pasar. Dalam urusan ecomische uitbuiting itu, tuntutan SI berkaitan dengan perubahan sistem pajak sebagai berikut:

 

  1. Inkomstenblasting (pajak penghasilan) dalam hal ini SI meminta kepada pemerintah (Hindia Belanda) untuk menghapuskan atau meringankan pungutan yang 30% Opcenten yang terasa berat bagi rakyat bagi rakyat, juga terhadap 10% Opcenten Gemeenteraad. Selain itu juga memperjuangkan adanya Lid Commissie Aanslag yang dipilih dari orang-orang kampung yang lebih mengetahui perikehidupan masyarakat

 

bawah, sehingga besarnya pajak dapat ditentukan sesuai dengan kemampuan rakyat.

 

  1. Bea Invoerrechten (cukai impor) dan Slachtbelasting (pajak jagal); SI mengharapkan pemerintah (Hindia Belanda) agar cukai impor 8% dari rotan dihapuskan karena tanaman ini sudah dikenakan pajak pendapatan. SI juga menuntut dikembalikannya uang pajak jagal yang telah dipungut secara tidak sah. Permohonan ini terutama datang dari Tanah Dayak dan Kuala Kapuas.

 

  1. Landrente untuk hal ini SI memperjuangkan agar ladang-ladang yang memberi hasil saja yang dipungut pajaknya, sedangkan yang gagal, rusak atau menghasilkan sedikit, seharusnya tak usah dipungut.

 

 

17Syamsuddin,”Sejarah Pertumbuhan dan Perjuangan Sarekat Islam di Kalimantan Selatan sampai Tahun 1942”, Skripsi Sarjana Muda Pendidikan Jurusan Sejarah (Banjarmasin: Unlam, 1970), h. 67

 

 

HUMAIDY ABDUSSAMI                                                                                    Sarekat Islam     133

 

  1. Pungutan uang yang dibawa pergi Haji, SI menyampaikan aspirasi rakyat Hulu Sungai yang menentang adanya pungutan sebesar 2% dari

 

uang yang dibawa para jamaah Haji ke Haramain. Pungutan itu dianggap tidak sah, sebab tidak jelas digolongkan ke dalam pajak apa.

BACA JUGA:   Kenangan MT 40 Syarikat Islam: Desember 2015 - Desember 2019

 

Selain itu, SI Marabahan melalui kongres mengharapkan bantuan pemerintah (Hindia Belanda) untuk ikut serta memajukan pertanian rakyat. Selanjutnya juga, rakyat Muara Teweh dan Dusun Tengah merasa keberatan dengan dibukanya tambang batubara di daerah itu oleh perusahaan asing, karena dikuatirkan mematikan usaha pertamb angan rakyat dan merusak lingkungan terutama tanaman rakyat.18

 

SI Cepat Besar

 

Jika kita analisis sejak berdirinya, SI sangat cepat menjadi organisasi massa yang besar dan mempunyai anggota yang sangat massal dari berbagai kalangan serta menyebar hampir ke seluruh wilayah Nusantara bahkan pernah berdiri di Timur Tengah, terutama di Haramain (Makkah dan Madinah) dan Mesir.

 

Ada yang mengatakan SIcepat besar karena kemampuannya menangkap isu-isu actual dan strategis yang menjadi keprihatinan bersama sehingga setiap orang merasa visi dan aspirasinya terwakili oleh SI. Atau dalam ungkapan lain SI mempunyai kepekaan dalam merengkuh tanda-tanda zaman dan isyarat-isyarat Tuhan sehingga kemunculannya tepat ruang dan waktunya alias pas momentumnya.

 

Ada juga yang mengatakan SI besar karena sosok pemimpinnya Tjokroaminoto merupakan metamorfosa atau personifikasi Ratu Adil, pemimpin yang selama ini diangan-angankan dan dinantikan masyarakat khususnya masyarakat Jawa sebagai juru selamat yang akan mewujudkan banyak harapan. Sejak Tjokroaminoto memegang tampuk pimpinan SI menggantikan Samanhudi, mengalir deras masyarakat terutama masyarakat Jawa untuk menjadi anggotanya. Dalam waktu yang singkat anggotanya sudah meliputi seluruh tanah Jawa dan kemudian menyebar ke seluruh Nusantara.

 

Selain itu, ada lagi yang berpendapat bahwa SI cepat besar karena tidak mempunyai ideologi yang jelas, sehingga tidak menyinggung sama sekali permasalahan ideologi anggotanya. Anggotanya bebas untuk memilih ideologi apa saja asal tetap sebagai Muslim. Bisa dimaklumi, pada saat itu, jika di dalam

 

 

18Ibid., h. 63-64

 

 

134 AL-BANJARI                                                                                            Vol. 8, No.2, Juli 2010

 

SI antara kaum Muslim tradisional dan Kaum Muslim Modernis bisa duduk bersama, bersatu dan saling bekerjasama. Demikian juga, antara kaum Muslim Kanan dan kaum Muslim Kiri, bisa memelihara kebersamaan, sambil saling memahami perbedaan satu sama lain. Waktu itu, sosok Tjokroaminoto bisa diterima oleh berbagai pihak bahkan bisa menjadi guru bagi kaum nasionalis, kaum sekuler, kaum Muslim Modernis, kaum Muslim Tradisional, kaum Muslim Kanan dan kaum Muslim kiri.

 

Kemudian ada lagi yang berpendapat bahwa SI cepat besar karena programnya yang memprioritaskan bidang ekonomi sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat terutama masyarakat Muslim waktu itu yang sedang mengalami kemerosotan luar biasa dalam bidang ini, karena kalah bersaing dengan Cina dan kaum penjajah. Kemunculan SI, membangkitkan kembali semangat dagang para saudagar Muslim yang mengalami kelesuan.

Demikianlah beberapa analisis para sejarawan tentang SI mengapa cepat besar dengan masing-masing argument yang sulit terbantahkan bahkan analisis mereka ini sangat mendukung satu sama lain. Saya kira SI cepat besar, bisa jadi akumulasi kesemua faktor tersebut dan rasanya tidak mungkin karena salah satu faktor saja. Mungkin yang menjadi persoalan kadar dari masing-masing faktor tersebut yang berbeda antara wilayah yang satu dengan wilayah yang lainnya.

 

Untuk Kalimantan Selatan saya kira faktor yang dominan SI cepat besar adalah karena faktor agama yang kebetulan sama dengan masyarakatnya. Penduduk Kalimantan Selatan dikenal sebagai masyarakat Muslim yang taat bahkan cenderung fanatik sehingga ketika ada organisasi yang jelas-jelas memperjuangkan umat Islam mereka akan mengikuti dan bersedia menjadi anggotanya secara sukarela. Di samping itu, didukung factor ekonomi yang diprioritaskan SI menjadi daya tarik yang kuat bagi masyarakat Kalimantan selatan yang mempunyai budaya dagang sangat kental, ibarat ruas ketemu bukunya.

 

SI Cepat Merosot

 

Sebaliknya, jika pada awalnya cepat besar atau melesat, tapi juga tidak begitu lama cepat pula merosot, bak hujan deras beberapa waktu, tiba-tiba berhenti dan mengalami kemarau sangat panjang.

 

Ada yang mengatakan SI cepat merosot karena kemudian tidak cerdas lagi menangkap isu-isu actual dan strategis, tak peka lagi merengkuh tanda-tanda zaman dan isyarat-isyarat Tuhan sehingga visi dan aspirasinya tidak lagi

 

 

HUMAIDY ABDUSSAMI                                                                                    Sarekat Islam     135

 

bisa mewakili berbagai kalangan, tapi hanya memenuhi sebagian kepentingan orang atau golongan. Sudah barang tentu mereka yang merasa tidak tersalurkan visi dan aspirasinya secara perlahan-lahan tapi pasti akan meninggalkan SI.

 

Ada juga yang mengatakan SI cepat merosot karena tidak bisa mempertahankan netralitasnya terhadap ideologi. SI perlahan-lahan kemudian menampakkan wajah ideologisnya. SI lebih berpihak pada kaum Muslim Modernis daripada kaum Muslim Tradisional. Lebih mendukung kaum Muslim Kanan ketimbang kaum Muslim Kiri. Bisa dimaklumi kemudian, kaum Muslim Tradisional dan kaum Muslim Kiri tidak betah berada di dalam SI dan selanjutnya mereka memisahkan diri dan membentuk organisasi sendiri.

 

Selain itu, ada lagi yang berpendapat bahwa SI cepat merosot karena SI kemudian memasuki ranah politik yang biasanya akan bersentuhan dengan kepentingan masing-masing anggotanya sehingga mengundang rawan konflik. Andai SI bertahan dengan program ekonominya bisa jadi perjalanan sejarah SI akan menjadi lain. Sebab ketika SI mempunyai kebijakan non koperatif, ternyata berbeda dengan sebagian keinginan anggotanya yang lebih memilih koperatif. Apalagi ketika SI terlalu berkutat dengan politik membuat bidang-bidang lain terbengkalai termasuk bidang pendidikan. Wajar, jika anggota yang lebih punya konsen dan komitmen sosial atau lebih punya orientasi pendidikan kecewa dan memilih keluar membentuk organisasi baru.

 

Kemudian, ada lagi yang berpendapat SI cepat merosot karena munculnya organisasi-organisasi baru yang lebih menjanjikan. Seperti munculnya Muhammadiyah dan NU yang sangat jelas basis massanya masing-masing. Apalagi dua organisasi ini mereka lebih memprioritaskan program sosial dan pendidikan dengan tidak mengabaikan sama sekali bidang politik. Akhirnya, banyak anggota SI yang berpaham modernis masuk Muhammadiyah, sebaliknya anggota SI yang berpaham tradisional memilih menjadi anggota NU.

 

Demikianlah beberapa analisis para sejarawan, tentang SI mengapa cepat merosot dengan argumentasi masing-masing yang bernas dan sulit untuk digugurkan. Argumen mereka saya kira saling melengkapi satu sama lain sehingga dengan begini bisa terlihat sebab -musabab kemerosotan SI secara konperehensip dan holistik. Saya kira SI cepat merosot mungkin karena akumulasi seluruh faktor di atas, sekali lagi tidak mungkin hanya akibat satu faktor saja. Mungkin yang menjadi persoalan kadar dari masing-masing faktor saja antara wilayah yang satu dengan wilayah yang lain berbeda.

Untuk kasus Kalimantan Selatan saya kira karena SI terlalu terlibat dalam gerakan politik sehingga beberapa anggota dan tokoh pentingnya didakwa

 

 

136 AL-BANJARI                                                                                            Vol. 8, No.2, Juli 2010

 

pemerintah Belanda merongrong dan terpaksa harus ditangkap. H. Hasan Basuni seorang eksponen SI Cabang Amuntai pernah meringkuk selama delapan setengah bulan di penjara Amuntai. Kejadian semacam ini yang juga dialami oleh SI Cabang lainnya di Kalimantan Selatan. Mungkin gara-gara aktivitas politik SI yang sangat keras ini, membuat banyak ditinggalkan oleh anggotanya, terutama yang lebih peduli pada bidang sosial dan pendidikan. Di samping itu, karena munculnya Muhammadiyah dan NU yang memang secara kultural sudah mempunyai basis kuat di Kalimantan Selatan sehingga SI tidak mampu lagi bersaing dan wajar jika banyak dari anggota SI keluar dan migrasi ke kedua organisasi tersebut. Lebih dari itu, bebarapa fasilitas milik SI dalam bidang pendidikan telah berpindah tangan kepada kedua organisasi ini, entah karena dihibahkan secara sukarela atau diwariskan secara alami sesuai dengan kesamaan orientasi antara tokoh SI yang mendirikan dan tokoh lain yang melanjutkannya. Seperti Gedung Kalap yang ada di Seberang Masjid pada tahun 1932 sudah diasuh oleh tokoh-tokoh Islam yang tidak ada hubungan lagi dengan SI. Sekarang perguruan itu telah menjadi milik Muhammadiyah Cabang VII Banjarmasin. Sedangkan gedung SI “Cahaya Tatas” menjadi kompleks Perguruan Muhammadiyah Cabang VII Banjarmasin.19 Kemudian pondok Darussalam Martapura yang dulu didirikan oleh tokoh-tokoh SI, kini sudah berpindah tangan menjadi milik tokoh-tokoh NU.

 

Kesimpulan

 

Jika ditengok kembali, perjalanan sejarah SI yang telah diuraikan di atas dapat disimpulkan:

  1. SI dahulu merupakan organisasi Islam Indonesia yang sangat besar yang anggotanya berada hampir di seluruh Nusantara bahkan sempat mempunyai cabang di Timur Tengah. Bukan itu saja, yang menjadi anggotanya juga sangat beragam terdiri dari berbagai aliran keagamaan dan politik, dari ideologi paling kiri sampai paling kanan, dari muslim puritan sampai muslim moderat bahkan muslim sekuler dan muslim liberal.

 

  1. Bisa dimaklumi, bila dalam waktu yang tidak begitu lama dari mulai berdirinya, SI sudah merambah ke Kalimantan Selatan dan cepat berkembang dengan berdirinya cabang-cabang hampir di seluruh

 

 

 

  • Arsyad Manan, Sejarah Pergerakan…., op.,cit., h. 24

 

 

HUMAIDY ABDUSSAMI                                                                                    Sarekat Islam     137

 

Borneo (sebutan Kalimantan Tempo Doeloe) waktu itu, yang anggotanya terdiri dari berbagai kalangan.

 

  1. SI di Kalimantan Selatan sempat meninggalkan bekas yang sangat dalam di bidang pendidikan, sosial, politik dan ekonomi yang tak bisa dipungkiri oleh masyarakat Kalimantan mempunyai andil besar dalam perjalanan sejarah perjuangan mereka.

 

  1. Kemajuan SI di Kalimantan Selatan waktu itu karena adanya kesamaan SI yang memperjuangkan Islam dengan masyarakat Banjar yang dikenal sebagai masyarakat religius Islam, bahkan cenderung fanatik sehingga ibarat pucuk dicinta ulam tiba.

 

  1. Namun, sayang dalam perjalanan waktu SI di Kalimantan Selatan mengalami kemunduran sangat parah karena terlalu terlibat jauh dalam aktivitas-aktivitas politik sehingga program-program pendidikan, sosial dan ekonominya terbengkalai, tidak tertangani sehingga banyak anggotanya kecewa dan kemudian keluar dari SI.

 

  1. Hal ini terjadi seiring dengan munculnya organisasi Islam baru di Kalimantan Selatan yakni Muhammadiyah dan NU yang lebih menjanjikan karena lebih bergerak di dalam bidang pendidikan dan

 

sosial -keagamaan, yang keduanya secara kultural sudah mempunyai basis yang kuat di tanah Banjar.

 

Dari sini, bisa dipetik pelajaran bahwa yang namanya organisasi keagamaan sebaiknya jangan terlalu jauh masuk ranah politik, apalagi sampai terlibat politik praktis akan membuat program –program penting organisasi lain akan terbengkalai. Namun bukan berarti anti politik atau menghindari dunia politik, melainkan bagaimana bisa bermain politik tanpa panggung yang canggih, elegan, cantik dan sejuk sehingga terasa seolah-olah tidak bermain politik, padahal berpolitik juga.

 

 

138 AL-BANJARI                                                                                            Vol. 8, No.2, Juli 2010

 

Daftar Pustaka

 

 

Amelz (ed.), HOS Tjokroaminoto, Hidup dan Perjuangan, Jakarta, Bulan Bintang, 1952.

 

Humaidy, ”Punduk Darussalam dalam Lintasan Sejarah”, Kandil Edisi 2, Tahun I, September 2003.

 

Ideham, Suriansyah, dkk (ed.), Sejarah Banjar, Banjarmasin, Balitbangda, 2003.

 

Maksum, H.M. Nur., Gerakan Islam Moderen Di Kalimantan Selatan (1900-1942), Banjarmasin, IAIN Antasari, 1998.

 

Manan, Arsyad, ”Sejarah Gerakan Pembaharuan dan Kelanjutannya di Kalimantan”, Panji Masyarakat, No.191, 15 Januari 1976.

 

————-, Sejarah Pergerakan di Kalimantan Selatan, buku catatan.

 

Noer, Deliar, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942, Jakarta, LP3ES, 1980.

 

Syamsuddin, ”Sejarah Pertumbuhan dan Perjuangan Sarekat Islam di Kalimantan Selatan sampai Tahun 1942”, Skripsi Sarjana Muda Pendidikan Jurusan Sejarah, Banjarmasin, Unlam, 1970.

 

Tjokroaminoto, HOS, ”Zelfbestuur”, dalam P.Soeharto dan S.Zainul Ihsan (ed.), Aku Pemuda Kemarin di Hari Esok, Jakarta, Gunung Agung, 1982.

News Feed