by

PB SEMMI Kecam Perum Bulog Minta Penggantian Kerugian 20 Ribu Ton Beras Kepada Kemenkeu

Print Friendly, PDF & Email

Jakarta, suarasi.com – Ketua Umum Pengurus Besar Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PB SEMMI), Bintang Wahyu Saputra mengecam Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) yang melakukan pemusnahan 20.000 ton beras yang disimpan di gudang penyimpanan Bulog.

“Saya meminta Budi Waseso selaku direktur utama Perum Bulog untuk bertanggung jawab atas kesalahan dalam mengelola dan berakibat perum Bulog rugi 20.000 ton dengan uang senilai 167 miliar,” tegasnya di Jakarta, Sabtu (7/12).

Bintang meminta menteri keuangan menolak ganti kerugian atas kesalahan perum Bulog dalam mengelola beras yang mengakibatkan 20.000 ton beras akan membusuk.

BACA JUGA:   Kapolda Metro Jaya Menerima Audiensi Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Wilayah Jakarta Raya

“Tidak hanya meminta menteri keuangan untuk tidak memberikan uang ganti rugi, kami pun mendesak KPK, BPK dan kejaksaan memeriksa dan mengadili secara detail kerugian 20.000 ton beras akibat salah pengelolaan atau terdapat unsur kesengajaan yang dilakukan oknum oknum rente ekonomi atau mafia pangan,” jelasnya.

Perihal kerugian, lanjut Bintang, Budi Waseso adalah pihak yang paling bertanggungjawab untum mengganti kerugian yang dialami perum Bulog yang mengakibatkan 20 ribu ton beras dibuang sia-sia ditengah kondisi rakyat banyak yang masih kelaparan dan mempertanggung jawabkannya Dimata hukum.

“Sebagai bentuk pertanggungjawaban akibat tidak becusnya Perum Bulog mengelola beras, kami meminta presiden mengganti seluruh pejabat di perum Bulog, khususnya Dirut utama Budi waseso sebagai sanksi kesalahan fatal dalam pengelolaan yang mengakibatkan perum Bulog merugi ratusan miliar dan terancam bangkrut,” ujarnya.

BACA JUGA:   Logo resmi milad 115 Tahun Syarikat Islam

Selain itu, tambah Bintang, Perum Bulog untuk tidak menjual kembali ataupun memberikan secara gratis beras 20.00 ton yang ditengarai sudah busuk dan tak layak konsumsi kepada masyarakat.

“Jika masih saja di perjual belikan atau dibagi-bagikan kepada masyarakat, kami akan melaporkan Perum Bulog kepada Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia dan Kementerian Kesehatan karena telah merugikan konsumen, yakni masyarakat Indonesia,” tutup Bintang.

sumber: suarasi.com

News Feed