by

Tugu Digulis, Simbol Perjuangan 11 Tokoh Sarekat Islam di Kalbar

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

Relief 11 tokoh Sarekat Islam yang diabadikan menjadi Tugu Digulis. Foto: Daddy Cavalero/Hi!Pontianak
Hi!Pontianak – Tahukah kamu beberapa nama jalan di sudut Kota Pontianak diambil dari nama-nama pahlawan asal Kalimantan Barat? Nama-nama tersebut bahkan tak asing lagi di telinga masyarakat Kota Pontianak.
Tak hanya itu, Tugu Sebelas Digulis Kalimantan Barat yang berada di tengah Kota Pontianak, Jalan Ahmad Yani tersebut juga menjadi jejak rekam sejarah dan perjuangan yang membuat tugu ini ada.
Tugu tersebut kerap kali dilewati oleh masyarakat Pontianak dan pendatang karena tempatnya berada di lokasi yang strategis. Tahukah kamu sejarah dan makna dari 11 bambu digulis tersebut?
Pengamat sejarah, Khamsyahurrahman menuturkan sejarah mencatat tugu tersebut sebagai peringatan perjuangan oleh 11 tokoh Sarekat Islam di awal abad ke-20. “Masyarakat Pontianak, Kalimantan Barat biasa menyebutnya Tugu Digulis, Tugu Bambu Runcing, Tugu Bundaran Untan, dan pada tahun 90-an disebut Tugu Gincu (Tugu berwarna merah putih selang seling),” jelasnya kepada Hi!Pontianak, Minggu (10/11).
WhatsApp Image 2019-11-02 at 15.29.15.jpeg
Tugu Digulis yang terletak di Kota Pontianak, Kalbar. Foto: Daddy Cavalero/Hi!Pontianak
Tugu yang diresmikan oleh Gubernur Soedjiman pada 10 November 1987 tersebut mempunyai arti sejarah sebagai peringatan perjuangan sebelas tokoh Sarekat Islam, yakni Achmad Sood, Achmad Marzuki, Gusti Djohan Idruz, Gusti Hamzah, Gusti Situt Machmud, Gusti sulung Lelanang, Djeranding Abdurrachman, H. Rais A. Rachman, M. Hambal, M. Sohor, dan Ya’ M. Sabran.
“Yang kemudian nama-nama tersebut juga didedikasikan sebagai nama-nama jalan di Pontianak,” papar Khamsyah.
Dalam buku Pontianak Heritage oleh Ahmad Asma DZ, sejarah mencatat terbentuknya Sarekat Islam tahun 1914 di Ngabang, kemudian pembentukan Partai Sarekat Islam 1923 menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah pergerakan perjuangan rakyat di Kalimantan Barat.
Karena khawatir pergerakan kesebelas tokoh tersebut akan memicu pemberontakan terhadap Pemerintah Hindia Belanda di Kalimantan, Pemerintah Hindia Belanda kemudian menangkap 11 orang tokohnya kemudian dibuang ke Boven Digoel, di Papua. Dari nama tempat pembuangan penjara alam itulah, kemudian tugu ini disebut dengan Tugu Digulis.
WhatsApp Image 2019-11-10 at 11.20.22.jpeg
Tugu Digulis, simbol perjuangan 11 tokoh Sarekat Islam. Foto: Instagram @baka.neko.baka
“Mereka diasingkan ke daerah Boven Digoel Papua oleh Belanda karena terindikasi berpaham Sosialis Komunis,” kata Khamsyah.
Tiga dari mereka meninggal saat menjalani pembuangan di Boven Digoel, lima dari para tokoh tersebut wafat dalam Peristiwa Mandor, dan tiga orang lainnya meninggal karena sakit.
Tugu Digulis diresmikan oleh Gubernur Kalbar H. Soedjiman, pada 10 November 1987. Awalnya tugu tersebut berbentuk sebelas tonggal menyerupai bambu runcing berukuran tinggi tertentu, dan berwarna kuning polos. Pada tahun 1995, tugu ini dicat ulang dengan warna merah putih.
Kemudian pada tahun 2006 dilakukan renovasi dan pengecatan ulang hingga bentuknya seperti saat ini. Berada di areal kurang lebih seluas 1779 meter persegi (dengan diameter 47,4 meter). Di sekitar sebelas bambu runcing ini juga terdapat taman yang memberi nuansa sejuk.

sumber: kumparan.com

BACA JUGA:   Batik sebagai Alat Pemersatu Bangsa pada Masa Penjajahan Belanda

News Feed