by

Tak Banyak yang Tahu Jejak HOS Tjokroaminoto di Banjarnegara

TRIBUNJATENG.COM, BANJARNEGARA – Nama Raden Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto tak pernah lepas dari sejarah pergerakan Indonesia.

Ia adalah pahlawan nasional yang juga pemimpin organisasi Sarekat Islam (SI) yang sebelumnya dikenal Sarekat Dagang Islam (SDI).

Di bawah kepemimpinannya, SI pernah menjadi organisasi massa terbesar dalam sejarah pergerakan Indonesia.

Tjokroaminoto adalah guru dari tokoh-tokoh berpengaruh semisal Soekarno, Semaoen, Musso hingga Maridjan Kartosoewirjo.

Siapa sangka, dalam sejarah perjuangannya, Tjokroaminoto juga meninggalkan jejak di Kabupaten Banjarnegara.

Tulisan tentang sejarah jejak raja tanpa mahkota di Banjarnegara itu lah yang mengantarkan siswa SMAN 1 Sigaluh Banjarnegara, Agung Dwi Laksono lolos 10 besar lomba esay sejarah tingkat nasional yang diselenggarakan Jurusan Sejarah Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Menurut Agung, jejak Tjokroaminoto di Kota Dawet Ayu ini cukup banyak, namun tidak banyak orang yang mengetahuinya.

BACA JUGA:   Gelar Mukernas ke-3, Syarikat Islam Fokus Pada Khitah Awal Perjuangan dan Perekonomian

Bagi Tjokroaminoto, Banjarnegara sepertinya merupakan tempat istimewa sehingga ia sering berkunjung ke daerah itu.

Dalam dokumen Bataviasche Neusblad, misalnya; Tjokroaminoto pada 28 Desember tahun 1913, dijadwalkan ke Banjarnegara untuk menghadiri pendirian afdeling atau cabang Syarikat Islam (SI).

Kemudian pada tahun 1920, Tjokroaminito datang ke Banjarnegara lagi untuk membantu anggota SI yang terkena masalah hukum.

Aktivitas siswa di SMK Cokroaminoto 2 Banjarnegara. Ada seratusan sekolah di bawah yayasan Cokroaminoto di Banjarnegara
Aktivitas siswa di SMK Cokroaminoto 2 Banjarnegara. Ada seratusan sekolah di bawah yayasan Cokroaminoto di Banjarnegara (TRIBUN JATENG/KHOIRUL MUZAKI)

 

“Dan yang paling monumental, tentu saja kehadiran Tjokro di Kongres SI tahun 1934. Itu kongres yang terakhir sebelum Tjokro wafat,” jelasnya, Jumat (25/10/2019).

Ketika berada di Banjarnegara, menurut Agung, Tjokro sering menginap atau singgah di rumah ketua afdeling SI tahun 1920-1930 an, Oten Pardikin Partoadiwidjojo.

Rumah itu berada di pojok perempatan sebelah barat laut alun-alun Banjarnegara. Di sana, terdapat jalan HOS Partoadiwijoyo.

BACA JUGA:   Gubernur Hadiri Acara Pelantikan Pengurus Syarikat Islam NTB

Nama jalan itu mungkin yang dimaksud adalah Oten Pardikin Partoadiwijoyo.

“Sehingga seharusnya kesalahan itu (nama jalan) diperbaiki. Agar masyarakat tidak salah kaprah, karena banyak yang menganggap kalau Partoadiwijoyo adalah nama anak HOS Tjokroaminoto”katanya

Sejarahwan Banjarnegara yang juga Pengurus Pusat Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Heni Purwono mengaku bangga terhadap animo siswa yang tertarik menpelajari sejarah lokal.

Menurut dia, sejarah lokal penting digali untuk menanamkan rasa cinta terhadap bangsa Indonesia.

“Ketika warga Banjarnegara tahu bahwa wilayahnya adalah basis pergerakan nasional, bahkan sampai kini masih terlihat dengan eksistensi SI, maka sudah sepantasnya kita bangga sebagai warga Banjarnegara,”katanya

Selain jejak Tjokroaminoto, Banjarnegara juga melahirkan tokoh nasional Sumitro Kolopaking Purbonegoro, Bupati Banjarnegarasekaligus anggota BPUPK yang ikut merumuskan Pancasila.(*)

sumber: jateng.tribunnews.com

News Feed