by

Santri SI Bukan Cuma Ngaji, Santri SI Siap Berbakti Pada Ilahi, Santri SI Pelopor Tegaknya NKRI

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

Santri SI Bukan Cuma Ngaji
Santri SI Siap Berbakti Pada Ilahi
Santri SI Pelopor Tegaknya NKRI
Penyebaran Islam di Indonesia memunculkan satu kelompok sosial yang disebut kaum santri. “Para santri adalah anak-anak rakyat, amat paham tentang arti kata rakyat, paham benar tentang kebudayaan rakyat, tentang keseniannya, agamanya, jalan pikirannya, cara hidupnya, semangat dan cita-citanya, suka dukanya, tentang nasibnya, dan segala lika-liku hidup rakyat,” tutur KH Saifuddin Zuhri dalam Guruku Orang-Orang dari Pesantren. Eksistensi kelompok ini memiliki dinamika yang memengaruhi sejarah panjang bangsa Indonesia.

Menurut Abdul Munir Mulkhan dalam Runtuhnya Mitos Politik Santri, kata “santri” mempunyai dua makna. Pertama, merujuk pada sekelompok orang di lembaga pendidikan pesantren. Kedua, merujuk pada kelompok pemeluk Muslim yang taat, baik dari pesantren maupun bukan. Mengacu pada definisi kedua, santri lebih mengacu pada perilaku atau penghayatan keagamaan, bukan komunitas sosial tertentu. Santri dalam pengertian ini mencakup spektrum yang luas.

Zamakhsyari Dhofier dalam Tradisi Pesantren menambahkan, santri di dunia pesantren terdiri atas santri mukim dan santri kalong. Santri mukim adalah murid-murid yang berasal dari daerah yang jauh dan menetap di pesantren. Semakin besar suatu pesantren biasanya akan semakin banyak santri mukim. Sementara, santri kalong adalah murid-murid yang berasal dari desa-desa di sekitar pesantren, biasanya tidak menetap di pesantren. Mereka bolak-balik (nglaju) dari rumah.

Santri-abangan
Berbicara tentang kaum santri, banyak orang terjebak pada trikotomi santri-abangan-priyayi. Trikotomi ini mengemuka setelah penelitian Clifford Geertz di Mojokuto, Jawa Timur, dalam The Religion of Java. Dalam penelitian tersebut, kalangan santri diidentikkan pada kelompok yang melaksanakan doktrin-doktrin Islam yang lebih murni, bukan saja pada tata cara pokok peribadatannya, melainkan juga dalam keseluruhan yang kompleks dari organisasi sosial.

Sementara, kaum abangan sebagai masyarakat yang menekankan aspek-aspek animisme atau kepercayaan terhadap adanya makhluk halus yang dapat memengaruhi hidup manusia. Tradisi selamatan merupakan ciri khas masyarakat ini. Adapun, priyayi adalah kalangan masyarakat aristokrat turun-temurun yang mengakar pada kraton Hindu-Jawa sebelum masa kolonial.

Hampir sama, MC Ricklefs mendefinisikan kaum santri, “yaitu kaum Muslim yang saleh dan mempraktikkan ajaran agama Islam secara sadar dan sukarela.” Secara mendasar, kelompok ini terbagi menjadi kaum tradisionalis yang direpresentasikan oleh Nahdlatul Ulama dan kaum modernis yang direpresentasikan Muhammadiyah.

Di sisi lain, terdapat kaum abangan, yaitu “umat Muslim nominal yang memandang Islam, terutama sebagai sumber praktik ritual di tahapan-tahapan tertentu dalam kehidupan.” Seorang Muslim abangan, tulis Ricklefs, jarang atau tidak pernah sembahyang, tidak bisa mengucapkan kalimat syahadat atau mendaraskan Alquran, jarang atau tak pernah berpuasa pada Ramadhan, dan nyaris tidak pernah berpikir untuk mengalokasikan uangnya untuk pergi naik haji ke Makkah.

Selama berpuluh tahun, pandangan ini menjadi dasar kebijakan pemerintah dan landasan penelitian para antropolog lain kendati banyak yang menyanggahnya. Terakhir, tesis Geertz ini dikritisi oleh Bambang Pranowo dalam disertasinya berjudul “Memahami Islam Jawa”. Hamka dalam salah satu artikel di Panji Masyarakat juga pernah menyanggah teori yang dinilainya memecah belah umat Islam tersebut.

Para peneliti lain menganggap, tiga varian yang dikemukakan Geertz tidak konsisten sebagai kategori-kategori dalam satu tipe klasifikasi. Santri-abangan dibedakan berdasar perilaku keagamaan sedangkan priyayi mengacu pada kelas sosial tertentu.

Lebih lanjut, Ahmad Baso dalam Pesantren Studies berpandangan, definisi ‘santri’ oleh para orientalis dipersempit dan diperluas sesuai dengan lawan tanding yang akan diperhadapkan. Sebutan santri, misalnya, memiliki definisi luas ketika dihadapkan dengan abangan oleh Geertz.

BACA JUGA:   SYARIKAT ISLAM Kecamatan MADUKARA kegiatan Baksos pembagian sayur mayur kepada masyarakat Dusun Krajan

Di sini, arti santri mencakup kelompok-kelompok modernis, orang-orang pesantren, dan NU. Namun, definisi yang sama mengerut di tangan Geertz ketika digunakan untuk melihat persaingan antara kaum puritan dengan orang-orang pesantren.

Baso memaknai santri dalam lingkup luas. “Menjadi santri tidak sekadar orang-orang yang mencari ilmu di pesantren atau yang mengamalkan dengan baik ajaran agama Islam. Lebih dari itu, menjadi santri adalah juga berarti belajar seumur hidup dalam proses pembelajaran dan pengajaran yang tidak pernah berhenti,” tulis dia.

Peran
Kaum santri lahir bersamaan dengan kemunculan pesantren di nusantara yang berarti sekitar abad ke-16. Awalnya, santri mukim di pondok pesantren hanya laki-laki. Lembaga-lembaga pengajian menyediakan pendidikan agama untuk kaum perempuan, tetapi biasanya terbatas pada pengajaran kitab-kitab klasik tingkat dasar.

Dhofier mencatat, perubahan tampak sejak akhir 1910-an ketika para kiai menyediakan kompleks pesantren untuk santri perempuan. Pesantren di Jombang yang pertama kali membuka pesantren wanita ialah Pesantren Denanyar, didirikan pada 1917.

Mondok atau tradisi rihlah ilmiah di tengah kaum santri membutuhkan biaya tidak sedikit. Karena itu, kebanyakan santri di Jawa pada zaman dulu berasal dari keluarga petani kaya. Memang banyak pesantren tidak memungut bayaran, tetapi biaya hidup yang harus dikeluarkan juga tidak sedikit. Sering kali, biaya pendidikan seorang santri di pesantren ditanggung beramai-ramai oleh keluarga besar. Di Pati, sampai 1930-an, seorang santri yang akan pergi dan menetap di pesantren biasanya dilepas dengan suatu upacara meriah yang dihadiri penduduk kampung.

Melawan penjajah
Seiring waktu, dunia kaum santri tidak hanya berkutat pada pesantren atau kitab kuning. Pada masa kolonialisme, kaum santri juga ikut mengangkat senjata membela kemerdekaan, menjadi motor pergerakan nasional, bahkan terlibat dalam merumuskan dasar negara.

Sejumlah perjuangan melawan penjajah dimotori oleh kaum santri. Pada 1821-1837, Tuanku Imam Bonjol memimpin pergerakan kaum Paderi, Minangkabau. Di Aceh, Islam menjadi ruh penggerak utama untuk melawan kolonial. Aceh baru berhasil ditaklukkan setelah Belanda menyusupkan Snouck Hurgronje.

Di Jawa, catatan perjuangan kaum santri tak ada henti-hentinya. Mulai dari pertempuran Fatahillah melawan Portugis, Perang Jawa (1925-1930) yang dipimpin Pangeran Diponegoro, pemberontakan petani Banten 1888, hingga Resolusi Jihad Oktober 1945.

Memasuki paruh pertama abad ke-20, Pemerintah Belanda menerapkan politik etis. Banyak kelompok elite pribumi muncul dari kalangan santri, seperti M Natsir, Haji Agus Salim, dan Ki Bagus Hadikusumo. Mereka mengalami pertumbuhan kesadaran politik sebagai hasil dari perubahan sosial-ekonomi, pendidikan Barat, dan gagasan pembaruan Islam.

Timbul kesadaran untuk bersatu dan mengatur kekuatan internal di tengah kaum santri sehingga bermunculan organisasi-organisasi Islam, seperti Sarekat Islam, Muhammadiyah, dan NU. Muhammadiyah (1912) didirikan sebagai wakil dari kaum santri pembaharu, kemudian Nahdlatul Ulama (1926) yang merupakan wadah bagi kaum santri tradisional. Setelah itu, berdiri pula partai-partai Islam lain, seperti Permi (Persatuan Muslimin Indonesia, 1930) dan PII (Partai Islam Indonesia, 1938).

Kaum santri membuka masa kebangkitan nasional dengan berdirinya Sarekat Islam, dulu bernama Sarekat Dagang Islam, pada 1905. Keanggotaan SI terbuka untuk semua golongan dan suku bangsa yang beragama Islam, berbeda dengan Budi Utomo yang terbatas bagi kalangan Jawa.

Asas keislaman menjadi daya tarik masyarakat terhadap organisasi ini. Dalam kurun waktu singkat, SI mampu menghimpun rakyat. Pasalnya, bagi rakyat Indonesia, Islam bukan saja sistem keyakinan, melainkan telah menjadi faktor pemersatu untuk melawan penjajah.

BACA JUGA:   115 Tahun Pergerakan SYARIKAT ISALAM menuju Masyarakat 5.0

Kuntowijoyo dalam Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi mengamati Sarekat Islam sebagai satu fenomena umat Islam secara menyeluruh. Sarekat Islam yang pada 1920-an menjelma menjadi organisasi politik, memperlihatkan diri sebagai organisasi umat dan wong cilik yang tidak ada duanya dalam sejarah umat Islam.

Sarekat Islam mencakup semua kelompok sosial di tengah masyarakat, termasuk para priyayi dan petani. Daya tarik organisasi tersebut bagi wong cilik ialah rasa kebersamaan sosial. “Belum pernah sebelumnya dan tidak akan pernah terjadi lagi, suatu organisasi sosial Indonesia mampu menggalang begitu banyak golongan dalam masyarakat,” kata Kuntowijoyo.

Mengamati sejarah kelompok menengah santri, Lance Castle dalam Tingkah Laku Agama, Politik, dan Ekonomi di Jawa mengemukakan, setelah terjadi kemunduran SI, para santri terpecah menjadi dua kelompok. Santri pengusaha di perkotaan bergabung ke Muhammadiyah sedangkan santri pedesaan masuk ke NU.

Pada masa pendudukan Jepang, umat Islam Indonesia sesaat mendapat angin segar. Mereka memiliki wadah bernama Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) yang didirikan oleh tokoh-tokoh Islam, baik dari Muhammadiyah maupun NU. Jepang juga mendirikan Shumubu (Kantor Urusan Agama) yang dipimpin oleh Hadratus Syekh Hasyim Asyar’i.

Jepang beranggapan, wadah ini bisa menjadi sarana mobilisasi kaum Muslim untuk membantu Jepang mengusir Belanda. Meski begitu, dalam perkembangannya, MIAI mulai menyentuh aktivitas politik yang dianggap membahayakan. Tahun 1943, MIAI dibubarkan, kemudian sebagai gantinya lahirlah Masyumi.

Peran itu berlanjut pada masa persiapan kemerdekaan. Kaum santri selalu melibatkan diri dalam BPUPKI, PPKI, dan Panitia Sembilan yang merumuskan pembukaan UUD 1945. Pada masa kemerdekaan, semakin banyak santri terjun ke dunia politik-birokrasi. Santri tidak lagi terbatas hanya menjadi guru agama di desa-desa, imam masjid, penghulu, atau berkutat di dunia pesantren. Spektrum pergerakan kaum santri semakin meluas. n c38ed: nashih nashrullah

***
Sarung Sebagai Identitas

Kaum santri juga sering disebut ‘kaum sarungan’. Penyebutan ini merujuk pada kebiasaan kaum santri dalam kesehariannya suka memakai kain sarung. Menurut catatan sejarah, sarung berasal dari Yaman. Ensiklopedia Britanica menyebutkan, sarung telah menjadi pakaian tradisonal masyarakat di sana. Di negeri itu, sarung biasa disebut futah. Sarung juga dikenal dengan nama izaar, wazaar, atau ma’awis. Sementara, masyarakat di Oman menyebut sarung dengan nama wizaar.

Penggunaan sarung telah meluas, tidak hanya di Semenanjung Arab, tetapi juga Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Afrika. Konon, sarung pertama kali masuk ke Indonesia pada abad ke-14 dibawa oleh para saudagar Arab, Yaman, dan Gujarat.

Dalam perkembangan berikutnya, sarung di Indonesia telah menjadi identitas tak terpisahkan dengan kaum santri. Hampir di semua pondok pesantren tradisional, para santri menggunakan sarung dalam keseharian. Kendati begitu, sarung di dunia Arab bukan pakaian resmi yang biasa digunakan untuk shalat, ke pasar, atau menghadiri acara-acara di luar rumah. Di Mesir, sarung hanya pantas dipakai di kamar tidur.

Pada masa kolonialisme, sarung berubah menjadi simbol perlawanan. Sebuah simbol untuk melawan kemapanan jas, dasi, dan celana panjang yang diperkenalkan oleh penjajah. Sikap itu terbawa sampai masa kemerdekaan dan menjadi identitas kaum santri. Sampai-sampai, dalam sebuah kisah yang telah beredar luas diceritakan, KH Abdul Wahab Chasbullah datang memakai sarung, alih-alih celana panjang dan jas, ketika memenuhi undangan Presiden Sukarno ke Istana Negara.

sumber: facebook.com/suhara.iskandar

News Feed