by

Ketua Umum Wanita Syarikat Islam dan Suami Dikukuhkan Sebagai Guru Besar Tetap UI

Jakarta, suarasi.com – “Sistem multipartai selama 21 tahun era Reformasi dinilai belum memberikan hasil yang signifikan terhadap iklim demokrasi Indonesia. Pelaksanaan Pemilu selama era Reformasi masih perlu disederhanakan dalam berbagai aspek. Rekayasa sistem kepemiluan, harus dilakukan untuk mendorong penyerhanaan kepartaian, penguatan sistem presidensiil,” ujar Ketua Umum Wanita Syarikat Islam, Valina Singka Subekti dalam pidato pengukuhan Guru Besar Tetap Universitas Indonesia (UI), di kampus UI Salemba, Jakarta Pusat, Minggu (13/10).

Dalam pidato pengukuhan Profesor Ilmu Politik tersebut, Valina mengatakan sehingga nantinya Presiden dan DPR tidak lagi terpenjara kepentingan multipolar satu sama lain yang dapat berakibat pada berlarutnya proses pengambilan keputusan.

Lalu, lanjut Valina, partai politik memiliki peranan yang penting dalam Pemilu lantaran Indonesia masih menggunakan sistem demokrasi tidak langsung atau perwakilan.

“Partai menjadi kurang ideologis dengan sistem pemilu langsung. Oleh karena itu sistem pemilu harus diperbaiki,” jelas Valina dalam pidato berjudul ‘Sistem Pemilu dan Penguatan Presidensialisme Pasca Pemilu Serentak 2019’.

BACA JUGA:   Jelang Pelantikan SI dan WSI wilayah NTB, Ketum LTSI beserta Rombongan dari SI dan WSI Pusat tiba di Mataram

Valina menyebut pelaksanaan Pemilu 2019 memberikan banyak pelajaran berharga agar tidak terulang pada masa yang akan datang. Ia menambahkan Pemilu di Indonesia perlu didesain ulang sistemnya untuk memperkuat presidensialisme dan kualitas demokrasi secara umum di tanah air.

Menurut Valina, ada tiga hal yang harus dipertimbangkan dalam mendesain ulang sistem Pemilu, yaitu derajat representasi dan akuntabilitas anggota DPR; sistem kepartaian yang sederhana; serta pengaplikasian Pemilu yang mudah dan berbiaya rendah.

“Sistem pemilu saat ini yang berpusat pada calon atau candidacy centered perlu direkayasa kembali menjadi sistem pemilu yang berpusat pada partai atau party centered. Sistem pemilu proporsional tertutup dapat dipertimbangkan kembali sebagai salah satu alternatif untuk digunakan dalam pemilu serentak 2024,” ujar mantan anggota Dewan Kehormatan Penyelanggara Pemilu (DKPP) tahun 2012-2017.

Namun demikian, ia menambahkan bahwa perubahan tersebut dapat efektif apabila disertai reformasi internal kepartaian dan pendidikan politik yang mencerahkan pada masyarakat.

BACA JUGA:   Bersama Ibu Prof Valina pada acara Seminar Nasional bertema Demokrasi Indonesia Setelah Dua Dekade

Demokrasi perwakilan dalam sistem pemerintahan presidensial selain memerlukan kehadiran sistem Pemilu yang kompatibel, juga anggota parlemen yang jujur dan amanah dan masyarakat sipil yang kuat,” tegas Valina.

Valina menjelaskan, sistem pemilu harus mampu meningkatkan derajat representasi  dan akuntabilitas anggota DPR. Selanjutnya sistem pemilu harus mampu menghasilkan sistem kepartaian dengan jumlah partai sederhana serta sistem  pemilu harus mudah diaplikasikan dan berbiaya rendah serta mampu memutus mata rantai praktik politik transaksional.

Selain Prof. Valina Singka Subekti, M.Si yang ditetapkan sebagai Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI dengan kepakaran Ilmu Politik, dalam pengukuhan Guru Besar Tetap UI tersebut juga dikukuhkan Prof. Imam Subekti sebagai Guru Besar Kedokteran UI dengan bidang keahlian Penyakit Dalam yang merupakan suami nya.

sumber: suarasi.com

News Feed