by

Kata HNW soal Kesetiaan Warga Sumbar pada Pancasila dan NKRI

Print Friendly, PDF & Email

Jakarta – Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) menyayangkan adanya pihak-pihak yang menyangsikan kesetiaan warga Minang terhadap Pancasila dan NKRI. Menurutnya, banyak tokoh asal Minang yang aktif terlibat dalam upaya-upaya kemerdekaan seperti Moh. Hatta, Moh. Yamin dan KH. Agus Salim, yang terlibat aktif melahirkan Dasar dan Ideologi Pancasila.

HNW menjelaskan pihak-pihak yang meragukan kecintaan warga Minang terhadap Pancasila perlu lebih banyak membaca sejarah. Oleh karena itu, agar tidak menimbulkan keresahan baru, HNW mengajak mereka untuk mempelajari peran dan kiprah orang Minang dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

“Moh. Yamin dan KH. Agus Salim merupakan anggota Kelompok Sembilan yang diketuai Bung Karno dan menghasilkan Pancasila 22 Juni. Pancasila 22 Juni adalah hasil kompromi antara kelompok agamis dan nasionalis dalam menentukan dasar dan ideologi negara,” ujar HNW dalam keterangannya, Selasa (6/10/2020).

Hal tersebut disampaikan saat dirinya menjadi narasumber Sosialisasi Empat Pilar yang digelar virtual bersama Yayasan Mutiara Quran Minangkabau (MQM). Acara tersebut berlangsung di Aula Hotel Pagaruyung Kota Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, Senin (5/10).

Lebih lanjut ia menjelaskan Moh. Hatta merupakan tokoh yang menerima keberatan masyarakat Indonesia Timur terkait bunyi sila pertama Pancasila 22 Juni atau yang lebih dikenal Piagam Jakarta. Bahkan, Moh. Hatta juga mengajak para tokoh Islam untuk membahas keberatan masyarakat Indonesia Timur. Hasil diskusi tersebut melahirkan Pancasila yang dipakai hingga saat ini.

Selain itu, lanjut HNW, ada juga tokoh Minang yang berjasa mengembalikan NKRI sesuai cita-cita Proklamasi 17 Agustus, yakni Ketua Fraksi Partai Masyumi DPR RIS M. Natsir. Berkat Mosi Integral M. Natsir di sidang paripurna DPR RIS, NKRI disepakati untuk kembali digunakan, menggantikan Republik Indonesia Serikat.

Jelang Pilkada serentak, HNW juga berpesan agar hak suara milik masyarakat jangan sampai ditukar dengan sembako atau iming-iming uang lainnya. Pasalnya, Indonesia merdeka bukan untuk menyengsarakan rakyatnya sehingga bangsa Indonesia tidak seharusnya menjual murah kedaulatan yang dimiliki.

“Pilihlah pemimpin terbaik, di antara calon-calon yang ada. Jangan menggadaikan kedaulatan kita, kepada pemimpin yang tidak amanah karena potensi kerugiannya sangat besar. Jadi jangan memubazirkan hak pilih yang dimiliki. Dan, jangan pula menimbulkan klaster COVID-19 di lingkungan kita,” pungkasnya.

(akn/ega)

sumber: news.detik.com

News Feed