by

Aksi Pelajar STM Turun ke Jalan Dianggap Tak Lazim

Print Friendly, PDF & Email

DEMOKRASI.CO.ID – Publik di Tanah Air baru saja dihebohkan oleh  aksi pelajar STM/SMA yang ikut turun ke jalanan membantu mahasiswa berunjuk rasa menolak sejumlah Rancangan Undang-Undang (RUU) di depan Gedung DPR, Rabu (24/9/2019) kemarin.

Video dan foto aksi tersebut bahkan sempat menjadi trending topic di sosial media Twitter. Netizen hingga kini terus memperbincangkan topik seputar “Anak STM” yang turut serta dalam aksi tersebut.

Meski sebagian besar dari netizen Indonesia mengungkapkan rasa bangganya terhadap kepedulian para siswa STM yang ikut turun ke jalan, namun ada juga yang mencurigai aksi itu ditunggangi oleh aktor-aktor politik tertentu.

“Siapapun yang menunggangi atau mengompori anak dibawah umur terlibat aktivitas politik, seperti unjuk rasa atau demonstrasi, jelas ini tidak dibenarkan secara kemanusiaan,” kata Ketua Umum Pengurus Besar Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PB SEMMI), Bintang Wahyu Saputra, di Jakarta, Kamis (26/9/2019).

Bintang mengatakan, aksi demonstrasi yang dilakukan para pelajar tersebut tidak lazim, alias diluar kewajaran. Berbeda dengan aksi mahasiswa yang dilakukan di DPR dan beberapa wilayah Indonesia lainnya.

BACA JUGA:   Ketua bidang ekonomi PB SEMMI mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1442 H

“Kami sangat mengecam jika terdapat pihak yang dengan sengaja melakukan provokasi kepada anak dibawah umur. Dalam hal ini adik-adik pelajar untuk ikut melakukan aksi seperti kami para mahasiswa. Hal ini tidak dibenarkan,” kesal Bintang.

Sebab, menurut Bintann, pelajar yang rata-rata masih dibawah umur mempunyai jiwa yang sangat labil dan rentan.

“Oleh karena itu, saya meminta siapapun yang memprovokasi dan menunggangi aksi para pelajar untuk segera menghentikannya atas nama kemanusiaan,” tegas dia.

“Para pelajar itu adalah generasi kami ke depan para mahasiswa. Kami mengecam jika memang terdapat pihak yang memanfaatkan keadaan, kami berikan mereka gelar penjahat kemanusiaan dan demokrasi,” sambungnya.

Tak hanya itu, Bintang juga berpesan, agar mahasiswa tidak terlibat terkait rencana kegiatan parade tauhid yang akan digelar Sabtu tanggal 28 September 2019, mendatang.

“Saya mengimbau agar teman-teman mahasiswa dan siswa yang ikut aksi penolakan sejumlah RUU untuk tidak hadir dalam acara parade tauhid Indonesia 2019. Kalau nanti teman-teman dan adik-adik ikut acara tersebut, maka sudah barang tentu nanti akan ada sinyalemen dari masyarakat kalau aksi kalian telah ditunggangi oleh pihak-pihak tertentu,” pesan Bintang.

BACA JUGA:   Keluarga besar SESMI turut duka cita atas atas wafatnya ulama kita KH. Tengku Zulkarnain

Ia menambahkan, seluruh mahasiswa  harus menahan diri. “Karena ada parade tauhid yang patut kita curigai dan bergeraknya pelajar jangan sampai gerakan murni ini di tunggangi pihak yang ingin memanfaatkan keadaan,” ujarnya.

Bintang juga meminta kepada pihak kepolisian untuk sangat berhati-hati dalam menangani aksi yang dilakukan pelajar yang rentan ditunggangi politik praktis atau pemanfaatan keadaan dan meminta polri untuk mengungkap dalang pergerakan pelajar ikut aksi demonstrasi.

“Adik-adik pelajar yang kami banggakan, terima kasih atas dukungan kalian terhadap kami para mahasiswa abang-abang kalian. Tapi kami tidak berharap kalian ikut dalam arus perjuangan mengatakan kebenaran untuk kepentingan rakyat karena kalian masih terlalu muda, yang kami butuhkan hanyalah dukungan doa dari kalian. Belajarlah dengan baik, karena takdir menjadi mahasiswa akan datang pada waktunta kelak,” tutup Bintang. [ts]

sumber: demokrasi.co.id

News Feed