by

Dua Sisi Penting Di Film HOS Tjokroaminoto

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

By Munif Chatib

Menonton film sejarah bangsa ini seperti menonton panggung sandiwara negeri saat ini. Sosok Pak TJOKRO adalah guru bangsa, yang akhirnya terbelah oleh dua sisi kenyataan. Dua sisi itulah yang saya bandingkan dengan kondisi bangsa ini sekarang.

Sisi pertama, bangsa ini adalah bangsa yang sangat mudah di pecah belah oleh kepentingan tertentu. Setiap ide hebat dari manusia hebat, ujungnya selalu dianggap kurang oleh pengikutnya dan akhirnya memisahkan diri untuk melakukan perpecahaan. Saling menghujat dan menyalahkan. Akhirnya musuh sebenarnya yang diuntungkan. HOS TJOKROAMINOTO bersama H. SAMANHUDI dan dibantu anak muda AGUS SALIM dan SUKARNO dengan kokoh mengibarkan bendara ormas SAREKAT ISLAM. Kala organisasi ini besar, terjadi perpecahan oleh anak buah COKRO sendiri, yaitu SEMAUN dan MUSO yang radikal. Mereka berdua dan kelompoknya akhirnya membentuk SAREKAT ISLAM MERAH, benih dari PARTAI KOMUNIS INDONESIA.

BACA JUGA:   Acara Dzikir dan Doa Kebangsaan Oleh DPW SI Sulsel berlangsung Sukses

Menonton sisi pertama film ini seperti menyaksikan kondisi sekarang negeri ini, umat Islam yang sangat mudah diprovokasi, diadu domba apalagi saling menyesatkan dan mengkafirkan. Ujung-ujungnya umat Islam yang dirugikan. Apalagi penyesatan dan pecah belah itu dimotori oleh orang-orang politik yang haus kekuasaan dan nafsu perut. Judul lain dari sisi pertama adalah ADU DOMBA – PECAH BELAH.

Sisi kedua film ini adalah NEGARAWAN. Ya zaman dulu orang politik itu adalah NEGARAWAN, tak peduli apapun pandangan politiknya. Mereka berjuang untuk orang banyak. Tokoh SEMAUN ingin menjadikan isu agraria nomor satu, sedangkan AGUS SALIM ingin isu pendidikan yang nomor satu. Mereka berdua berdebat, namun mereka semua NEGARAWAN. Semua isu itu untuk rakyat banyak. Lalu bagaimana dengan zaman kini. Banyak politikus merubah menjadi tikus, bukan NEGARAWAN lagi. Kepentingan pribadi, golongan dan partai adalah prioritas. Sudah jelas-jelas salah, tetap dibela ketika partai atau golongannya terancam. Sedangkan untuk kepentingan rakyat? Bye-bye.

BACA JUGA:   Kembangkan Budidaya Kelor, Ponpes Darul Hikmah Jadi Contoh di Lombok Tengah

Ya menonton film HOS TJOKROAMINOTO menjadi kerinduan yang dalam terhadap lahirnya negarawan-negarawan hebat zaman ini. Meskipun siap-siap saja, ide hebat selalu saja akan dirusak dengan orang-orang yang terancam kepentingan perutnya dan kekuasaannya dengan cara ADU DOMBA dan SALING MENYESATKAN. Pertanyaan Pak TJOKRO yang dulu sama dengan pertanyaanku sekarang:

“GUS, SAMPAI DI MANA HIJRAHMU SEKARANG?”

Jakarta, 16 April 2015

sumber: facebook.com/semmi.pwjatim.5

News Feed