by

Diskusi Jalan Pasti Sistem Politik dan Pemilu Indonesia

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

Jakarta detikNews – Diskusi bertema ‘Jalan Pasti Sistem Politik dan Pemilu di Indonesia’ digelar di Jakarta. Hamdan Zoelva hingga Agun Gunandjar Sudarsa menjadi pembicara.

Sejumlah pakar mengkritik adanya presidential threshold. Presidential threshold disebut bisa menyebabkan potensi kepemimpinan ke depan.

Eks Ketua MK Hamdan Zoelva juga mengkritik presidential threshold yang menurutnya tidak logis karena menggunakan patokan threshold hasil pemilu sebelumnya.

BACA JUGA:   Digugat Bulan Lalu, Apa Kabar Gugatan UU Minerba di MK?

Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun mengkritik sistem pemilu saat ini yang menurutnya rumit. Refly mengatakan diperlukan sistem pemilu yang lebih sederhana.

Pengamat politik Burhanudin Muhtadi menyebut presidential threshold di Indonesia terlalu tinggi. Selain itu, menurutnya itu tidak sesuai dengan sistem presidensial.

Para pembicara yang hadir dalam diskusi antara lain pakar hukum tata negara Refly Harun, anggota DPR Fraksi Golkar Agun Gunandjar Sudarsa, Ketua DPP Partai Golkar Andi Sinulingga, Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indikator Burhanudin Muhtadi, dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Hamdan Zoelva.

BACA JUGA:   Ketika Dua Mantan Prihatin terhadap Negeri Ini

sumber: news.detik.com

News Feed