by

Agus Salim Bicara Islam di Negeri Paman Sam

Print Friendly, PDF & Email

Di hadapan para mahasiswa Amerika Serikat, Haji Agus Salim berbicara tentang kewajiban ibadah dan pondasi keimanan dalam Islam.

header img
 Haji Agus Salim (paling kanan) bersama Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir (nationaalarchief.nl)
Pada 1953, Haji Agus Salim menerima undangan dari Cornell University, Ithaca, New York, Amerika Serikat. Dia diminta menjadi guru besar tamu selama semester perkuliahan musim semi (Januari-Juni). Di salah satu universitas bergensi negeri Paman Sam itu, Agus Salim banyak berbicara soal Islam, agama yang masih sangat asing di kalangan orang-orang AS kala itu.

Menurut Kambiz Ghanea Bassiri dalam A History of Islam in America: From the New World to the New World Order, keberadaan Islam sebenarnya sudah cukup lama di AS. Namun baru benar-benar mendapat perhatian dari pemerintah setelah Perang Duni II berakhir. Pada periode 1950-an AS tengah berusaha mendekati negara-negara Islam, baik secara politik maupun ekonomi. Pengetahuan dari Agus Salim inilah yang diharapkan dapat memberi gambaran tentang Islam secara jelas.

Berbagai hal diangkat oleh The Grand Old Man di dalam mengisi perkuliahannya. Mulai dari hal yang mendasar, seperti rukun iman dan rukun Islam; hingga soal perkembangan dunia Islam sejak zaman Nabi Muhammad SAW sampai muculnya negara-negara Islam.

“Dia menyatakan keyakinannya bahwa Islam berisi pesan ke seluruh alam semesta, tetapi bukan berarti bahwa Islam bermaksud menghapuskan agama lain. Faktanya, Islam memadukan mereka. Tidak hanya itu, bagi Salim agama dimaksudkan untuk berbuat baik,” tulis Purwanto Setiadi dalam Agus Salim: Truth and Nationalism.

Kewajiban Seorang Muslim

Bismillahirrahmanir Rahim. Saya mulai kuliah ini dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”

Kalimat inilah yang dilafalkan Agus Salim ketika membuka kuliahnya. Sebagaimana terangkum dalam Pesan-Pesan Islam: Rangkaian Kuliah Musim Semi 1953 di Cornell Uniersity, Agus Salim memilih tema “Rukun Iman dan Islam” pada kesempatan pertamanya menjadi dosen tamu di Negeri Paman Sam ini.

Sebagai permulaan, dia menerangkan tentang adanya lima kewajiban beribadah seorang muslim: Rukun Islam. Itu mencakup lima ibadah “fardu” yang harus dilakukan orang Islam selama hidupnya. Menurut Agus Salim, fardu di sini bukan wajib; makna yang lebih tepat adalah bagian atau jatah. Sehingga fardu dapat diartikan sebagai karunia dari Tuhan kepada manusia.

“Penunaian kewajiban itu bukanlah diperlukan bagi Tuhan, melainkan diperlukan bagi manusia. Jika kita ingin hidup beribadah, hidup secara saleh, maka kita mutlak perlu untuk mematuhi suatu ketertiban, suatu disiplin tertentu,” tutur Agus Salim.

BACA JUGA:   H.O.S. Tjokroaminoto Tidak Sempat Merasakan Kemerdekaan Bangsa Indonesia

Ibadah fardu ada lima jenis. Pertama adalah pemurnian atau menyucikan diri. Selain melafalkan kalimat syahadat –sebagai syarat sah menjadi Muslim– memurnikan tubuh lima kali sehari, melalui wudhu, menjadi kewajiban seorang Muslim. Pemurnian ini dilakukan guna menghilangkan semua benda asing yang melekat pada tubuh, seperti lumpur, kotoran, bau, dan sebagainya.

Kedua, mengerjakan ibadah shalat. Jumlah wajibnya lima kali dalam sehari. Agus Salim lalu menceritakan bagimana pembagian waktu shalat dari mulai fajar hingga malam tiba, sesuai dengan teladan Nabi Muhammad SAW. Mengenai ibadah yang kedua ini, Agus Salim menerangkan jika setiap tempat mempunyai waktu yang berbeda karena mengikuti pergerakan bumi.

Kepada para mahasiswa di Cornell, Agus Salim mengemukakan pandangan modern soal shalat yang disesuaikan dengan kegiatan sehari-hari. Menurutnya, setiap orang harus menyisihkan sejenak waktunya untuk beribadah. Meski kegiatan dari pagi hingga malam begitu padat, selalu ada waktu di sela-sela jadwal itu yang bisa digunakan untuk shalat.

“Setiap kali, kita kesampingkan segala pikiran, suka duka, kecemasan, dan harapan dari kehidupan keseharian, untuk menghadapkan wajah kita dan memusatkan jiwa raga kita kepada Tuhan,” kata Agus Salim.

Ketiga, menjalankan puasa selama bulan Ramdhan, yakni bulan kesembilan menurut tahun takwim Islam. Akhir dari kewajiban ibadah yang ketiga ini adalah Hari Raya pada 1 Syawwal, bulan kesepuluh dalam tahun takwim Islam. Lalu kapan puasa ini dijalankan jika melihat tahun masehi? Dikatakan oleh Agus Salim, di negara empat musim ibadah puasa bisa jatuh pada musim yang berbeda tiap tahunnya. Sementara di zone khatulistiwa, termasuk Indonesia, perbedaan ini tidak terlalu terlihat.

Keempat, kewajiban mengeluarkan zakat, sejenis pajak kekayaan. Besarannya 2,5% atas kekayaan pada suatu batas tertentu. Ada banyak jenis zakat. Tiap-tiap jenis memiliki besaran pengeluaran yang berbeda. “Bayaran ini tidak dipandang sebagai sedekah, pemberian amal, tapi dipandang sebagai pajak penyucian. Maka itu disebut zakat, artinya pemurnian, penyucian”. Kelima, menunaikan ibadah Haji bagi yang mampu memikul biayanya dan cukup sehat secara jasmani, dengan syarat bahwa situasi untuk menjalankan perjalanan itu sedang aman.

“Masing-masing kewajiban itu disebut rukun atau sendi agama Islam. Boleh pula kita menyebutnya sokoguru atau batu-alas agama Islam,” kata Agus Salim.

Pondasi Keimanan

Setelah menjabarkan tentang Rukun Islam sebagai kewajiban ibadah seorang Muslim, Agus Salim mulai berbicara tentang pondasi seorang muslim: Rukun Iman. Jumlahnya ada enam, yakni iman kepada Allah sebagai Tuhan tunggal, tiada yang lain; iman kepada Malaikat-Nya sebagai pesuruh Allah; iman kepada kitab-kitab, yang di dalamnya mengandung firman Allah dan disampaikan kepada para Nabi dan Rasul-Nya; iman kepada Rasul sebagai duta Allah di dunia; Iman kepada Hari Akhir; dan iman kepada Qada dan Qadar, yang secara harfiah berarti ukuran baik dan buruk ditentukan oleh Allah.

BACA JUGA:   Kiprah Haji Samanhudi, Pedagang Batik dan Perintis Sarekat Islam

Menurut Agus Salim, empat rukun permulaan masuk akal dan jelas. Pengetahuan tentang kehendak Tuhan dari para Nabi, serta tentang kitab berisi firman Allah dan kisah hidup Nabi, bahkan perjalanan hidup Nabi dan Rasul-Nya dari orang-orang yang pernah hidup sezaman merupakan suatu mata rantai yang jelas.

Sementara rukun kelima, iman kepada hari akhir (kiamat) sebagai hari diputuskannya amal manusia oleh Allah, menjadi sesuatu yang belum tampak. Banyak orang (ahli agama) mengartikan pesan Nabi Muhammad SAW seakan-akan hari kiamat itu sudah dekat sekali di depan mata. Mereka akhirnya menyangka bahwa kiamat akan melanda manusia pada masa hidup mereka.

“Namun itu bukan cara pandang yang tepat menurut saya. Pesan yang dibawa oleh Nabi ditujukan kepada setiap orang, kepada kita masing-masing. Dan, masing-masing dari kita hanya dapat bersiap-siap berusaha dan berikhtiar menjelang kiamat itu, hanya semasa hidup kita yang tidak seberapa lama ini. Setelah tiba ajal, habislah segala ikhtiar, habislah usaha dan kegiatan kita, kita tinggal menantikan kiamat saja,” tutur Agus Salim. “Oleh karena itu, Nabi Muhammad telah memberi peringatan, dan sungguh benar peringatannya bahwa bagi kita masing-masing saat perhitungan itu sudah dekat sekali”.

Mengenai rukun keenam, iman kepada Qada dan Qadar, Agus Salim menjelaskan jika Tuhan sebenarnya tidak pernah menciptakan suatu keburukan. Manusialah yang pada akhirnya menentukan ukuran kebaikan dan keburukan itu. Manusia bisa saja membawa kebaikan kepada keburukan, ataupun sebaliknya. Semua itu hanyalah tentang cara memanfaatkan ciptaan Tuhan dengan sebaik-baiknya.

“Anda tahu bahwa udara adalah suatu syarat kehidupan manusia. Udara itu terdiri atas suatu campuran senyawa. Jika anda mengatakan dari campuran itu hanya oksigenlah yang berkhasiat bagi kesehatan, maka anda pun tidak seluruhnya benar. Sebab, jika udara yang kita hirup hanya terdiri atas oksigen murni, maka segera tamatlah riwayat kita. Tiada sebagian kecil pun dari udara itu yang tidak berfaedah,” kata Agus Salim.

sumber: historia.id

News Feed