by

Hamdan Zulva Sebut Akar Ajaran Kebangsaan Soekarno dari Serekat Islam Cokroaminoto

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

Jakarta (DetakRiau.com) Tokoh Islam yang juga mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Hamdan Zulva menyatakan, jejak akar ajaran nasionalisme atau kebangsaan atau persatuan nasional yang di rumuskan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1927.

Bukan datang dengan tiba tiba pada saat Soekarno mendirikan Partai Nasional Indonesia, PNI, di Bandung. Yang kemudian melahirkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, PDI P pada tahun 1999 oleh anaknya Megawati Soekarnoputri

“Jauh sebelum itu, Soekarno justru lebih dahulu ber guru kepada Cokroaminoto saat Soekarno memilih indekos di rumah Cokroaminoto di Surabaya”, ungkap Hamdan Zulva saat digelar diskusi: Peradaban Bangsa yang digelar oleh alumni GMNI di Jakarta (21/6/2019) lalu.

Dikatakan, adalah orang tua Soekarno, Soekemi yang mempercayakan dan memutuskan agar supaya anak kandungnya, Soekarno, agar indekos di kediaman Ketua Serekat Islam Cokroaminoto di Jalan Penele, Kota Surabaya, Propinsi Jawa Timur.

Soekemi ayah Soekarno menitipkan anaknya, Soekarno kepada Cokroaminto saat pergerakan Islam di Solo menuntut keadilan secara ekonomi dibanding kemudahan yang dinikmati oleh investor asing,katanya.

Yang kemudian melahirkan pergerakan itu berubah menjadi pergerakan politik, yang membikin penjajah Belanda melihat gerakan Serekat Islam dan PNI malah semakin membesar.

Anak anak muda yang menjadi tokoh pergerakan kemerdekaan, yang indekos di rumah Cokroaminoto adalah yakni Semaun, Marijan Kartosoewirjo dan Soekarno, ujar Zulva.

Cuma saja Cokro lebih banyak menunjuk Soekarno, apabila Cokro sedang berhalangan pada saat menerima tamu tamunya di Jalan Penele dalam rangka kepentingan Serekat Islam, beber Zulva.

Jalan Penele terletak didekat Sungai Kalimas Pelabuhan Tanjung Perak yang juga berdekatan letaknya dengan kantor perusahaan besar besar milik Belanda di sekitar Jembatan Merah sekarang, yang dikenal hingga kini sebagai pusat ekonomi kota Surabaya.

Untuk diketahui pelabuhan kapal laut Tajung Perak saat itu adalah pelabuhan ekspor termodern yang terintegrasi dengan angkutan darat dan transportasi kereta api serta sudah menggunakan sistim mesin dalam bongkar muat.

“Tidak cuma hanya itu saja, Soekarno muda juga sangat mengidolakan Cokroaminoto. Di tanah Jawa Cokroaminoto ketika itu dikenal sebagai singa podium atau media barat sering menyebutnya sebagai raja tanpa mahkota.
Maka dari itulah pada saat saat tertentu, Soekarno muda acap tampak berlatih sendiri dihadapan cermin di suatu malam untuk bisa menirukan orasi ala pidato gaya Cokroaminoto”, kata Zulva.

BACA JUGA:   Perlunya Kesadaran Masyarakat untuk Menggunakan Bank Syariah di Indonesia

Sampai Soekarno mendapat perhatian kusus dimata Cokroaminto, ujar Zulva lagi. Dan bukti ini bisa dilihat dari putusan Cokroaminoto yang menjodohkan anak kandungnya Oetari anak baru gede, ABG. Yang kemudian menikah dengan Soekarno setelah lulus SMA di Surabaya atau sebelum diterima kuliah di Institut Tekonologi Bandung, ITB, Propinsi Jawa Barat, imbuhnya.

Tak disangka sangka tragedi pun kemudian terjadi secara mendadak dan memilukan. Pengkaderan oleh guru kepada muridnya yang heroik itu. Kemudian diganjar oleh musuhnya atau pemerintah Belanda, hingga mereka sampai di bui di era dan ditempat yang berbeda di penjara kota Surabaya dan Kota Bandung.

Pada saat Soekarno menjadi Presiden setelah kemerdekaan. Soekarno tidak melupakan jasa guru, teman dan sahabatnya. Cokroaminoto dihadiahi rumah di jalan Raya Darmo Surabaya yang kemudian dihuni atau ditempati oleh Oetari.
Samanhudi pendiri Serekat Dagang Islam tahun 1911 atau cikal bakal Serekat Islam di beri rumah di Kampung Laweyan, Solo. Sedang, Semaun mendapat hadiah rumah di Jalan Cikini Raya 10 Jakarta Pusat. Yang sampai sakarang masih berdiri kokoh tetapi belum ditetapkan sebagai rumah cagar budaya pergerakan.

Tak lama setelah menjadi murid Cokroaminoto. Soekarno melanjutkan berguru dan berdialog dengan Ahmad Dahlan pendiri ormas Islam modern Muhammadiyah yang menolak menyan dan mistis didalam praktek peribadatan Islam.

Soekarno lalu terlibat juga dialog agama lewat cara surat menyurat dengan tokoh Islam Persis di Bandung A. Hasan yang keturunan Pakistan dan M Natsir aktifis Islam asal Alahan Panjang, Minangkabau. Sebagai mitra dialog Islam yang kritis yang pada saat itu termasuk kejadian sangat langka.

Puncaknya adalah saat menyampaikan gagasan Pancasila, kata Ahmad Basarah, pada tanggal 1 Juni 1945. Soekarno yang merumuskan sila Ketuhanan pada sila ke 5 sebagai leid star bintang pembimbing yang harus mencerahkan.

Yang rumusan finalnya kemudian pada tanggal 22 Juni 1945 dikenal dengan Piagam Jakarta yang diputuskan oleh Soekarno pada saat menjadi Ketua Panitia Sembilan lengkap dengan 7 katanya, kata wakil Ketua MPR RI ini .

BACA JUGA:   Ketika Dua Mantan Prihatin terhadap Negeri Ini

Apabila jika kemudian terjadi perubahan atas Piagam Jakarta pada tanggal 18 Agustus 1945, imbuh Basarah. Hal tersebut dilakukan oleh tokoh pendiri negara yang menginginkan persatuan, paparnya.

“Semangat ini, malah sudah sejak dini disampaikan oleh Soekarno pada saat menyampaikan pidato tentang Pancasila tanggal 1 Juni 1945. Agar aspirasi yang belum tertampung dalam dalam perumusan undang undang dasar, agar disampaikan lewat perlemen hasil pemilu setelah merdeka”, jelas Basarah.

“Saya heran saja kalau masih ada yang mengatakan sekuler, ada komunis, dan malah 9 persen dari masarakat kita masih percaya Jokowi Komunis pada hal ketika meletus G30S/PKI, usia Jokowi masih empat tahun. Mana ada PKI yang berusia balita”, tegasnya.

Bukti lainnya, pada saat Presiden Soekarno akan memenuhi undangan Presiden Soviet Kruschev di tahun 1961. Soekarno mengajukan sarat permintaan kepada Presiden Soviet agar supaya diketemukan lebih dahulu makam Mujahid Islam Imam Bukhari. Sebelum dirinya akan memutuskan akan berkunjung ke Soviet.

“Semua itu untuk memuliakan Islam”, kata Basarah.
Dan sampai hingga sekarang Nahdlatul Ulama, NU, belum pernah mecabut gelar Soekarno sebagai pemimpinan Islam Waliyyul Amri Dharuri Bisy Syaukah.

Zulva tidak menampik jika Soekarno adalah sebagai tokoh Islam yang jauh dari kemenyan dan mistis, agar Islam bisa mengejar ketertingalanya dalam dunia modern dan ilmu pengetahuan yang bersandarkan pada rasionalitas.

“Setelah saya teliti pada saat Soekarno menerbitkan Dekrit 5 Juli 1959. Didalam pertimbangan hukumnya, Soekarno malah menegaskan bahwa Piagam Jakarta menjiwai UUD 1945 dan Pancasila yang kita kenal sekarang”, ungkap Zulva.

Mantan KSAD Jenderal Budiman ditempat yang sama memuji alumni GMNI yang berada di mana mana tidak hanya di PDI Perjuangan. “Sebaiknya juga berada di partai lainnya dan ormas Islam, agar supaya kehadiran alumni GMNI bisa menjadi perekat untuk memperkuat persatuan dan kesatuan NKRI.

“Untuk urusan NKRI ini, buat anggota TNI sudah ditanamkan sejak mulai masuk menjadi prajurit”, tegas Budiman mantan komandan pasukan penjaga perdamaian di Bosnia ini. Erwin Kurai.

sumber: detakriau.com

News Feed