by

Ex Direktur Mandiri dan BNI (Zulkifli Zaini), di duga money laundry, PERISAI Gruduk Kantor Mandiri dan BNI

Print Friendly, PDF & Email

Jakarta—PERISAI, Organisasi serumpun Syarikat Islam (SI) di wilayah DKI Jakarta mendesak apparat penegak hukum memeriksa dan menangkap Mafia Perbankan yang ada di bank Mandiri dan BNI.

Hal ini dibeberkan oleh pimpinan pengurus pusat PERISAI dan koordinator Aksi dalam acara konferensi pers di Rumah Kebangsaan HOS Tjokroaminoto, Menteng, Jakarta Pusat, senin (27/5/2019).

Yasser salah satu koordinator lapangan mengungkapkan bahwa sudah saatnya masyarakat jeli dan berhati-hati dalam memilih tempat untuk menabung.

“Kami menegaskan bahwa masyarakat saat ini harus lebih berhati-hati dalam menabung, sebab Bank mandiri serta BNI mempunyai track record yang kurang baik karena adanya dugaan praktek money laundry.

Jangan sampai dana masyarakat yang disimpan di bank ternyata digunakan untuk investasi yang tidak jelas dan haram” tambahnya.

Yasser menuturkan bahwa ada skandal besar dalam pengelolaan dana perbankan yang selama ini public tidak tahu.

“Kami mendapatkan bukti dugaan terjadinya akal-akalan dana siluman sebesar 13 Triliun yang dimasukan dalam rekening seseorang yang bernama Alimin itu terjadi pada era kepemimpinan Agus D.W. Martowardojo, namun Kompensasi yang diberikan oleh Bank mandiri kepada H alimin yaitu pada masa kepemimpinannya Zulkifli Zaini.

Hal ini tertuang dalam surat no 141.PP PPE/056/2011 tertanggal 22 september 2011. ujar Yasser, koordinator lapangan dalam konferensi pers “Selain itu kami bicara ini bukan hanya omongkosong, namun kami melihat nya melalui data, bahkan banyak senior-senior dan kalangan Aktivis pun tahu kebobrokan Bank Mandiri dan BNI terkait masalah pencucian uang ataupun dana siluman dan dana yang mengendap di Bank” ujar Yasser kesal.

Selain itu Awalludin menjelaskan bahwa dalam surat yang dikeluarkan bank mandiri tersebut isinya bank mandiri bersedia memberikan Kompensasi Sebesar Rp 4 Triliun kepada Bapak H.Alimin yang akan dibayarkan pada tanggal 14 Desember 2011.

BACA JUGA:   Ketua umum PP PERISAI mengucapkan Dirgahayu HUT Bhayangkara ke-75

“Sebenarnya informasi yang kami peroleh bahwa Bapak Alimin sendiri tidak mendapatkan haknya secara penuh, oleh karena itu kami menduga bahwa surat tersebut hanya merupakan legal formal dalam proses pencairan dana yang dilakukan zulkifli zaini berkat kongkalikong yang dilakukan bersama Agus Martowardojo” ungkap awaluddin Selain kasus pencucian uang, Ia mengungkapkan banyak terjadi masalah di bank mandiri selama ini yang tidak diketahui public.

Dalam Konferensi pers tersebut PERISAI mencatat banyak sekali permasalahan yang berpotensi merugikan Negara di Bank Mandiri, diantaranya adalah :

  1. Hasil pemeriksaan BPK terkait kasus kredit bermasalah yang mendera PT Bank Mandiri (Persero) Tbk tahun 2017. Hasil Pemeriksaan (IHPS) semester II/2017 disebutkan bahwa Bank Mandiri memiliki piutang yang berpotensi tidak tertagih senilai Rp2,94 triliun.
  2. kasus Kasus Kredit Macet dalam Pembiayaan fasilitas Kredit Modal Kerja (KMK) kepada PT GTS.
  3. Kredit Bermasalah Bank Mandiri Rp 1,1 Triliun, hal ini dikarenakan Pemberian Fasilitas Kredit pada NS Group dengan baki debit per 30 Juni 2017 sebesar Rp1.148.351.662.764,00 berpotensi over leverage.
  4. Bank Mandiri Lalai dalam memberikan Fasilitas kredit. Pada tahun anggaran 2017 PT Bank Mandiri Indonesia salah memberikan fasilitas kredit kepada PT PAP Nilainya sebesar Rp167.998.724.204. Namun, siapa sangka kalau pemberian fasilitas kredit tersebut menjadi macet dan malah berpotensi merugikan Bank Mandiri.
  5. Kasus Mafia Pajak, Mafia Pajak Ini di indikasikan pada penghapusan penerimaan pajak terhadap Bank Mandiri yang akan go public. Penerimaan pajak yang dihapuskan itu senilai Rp 2,2 triliun.
  6. Permasalahan Utang Pajak Mandiri Yang Besar diketahui dari laporan keuangan Bank Mandiri di tahun 2018, tercatat nilai utang pajak sebesar Rp1.009.832.000.000. Utang ini mengalami kenaikan cukup signifkan, sebesar Rp370.045.000 menjadi Rp1.379.877.000.000 per Maret 2018.
  7. Pencucian Uang Hal ini terungkap karena transferan RTGS dari Rekening Bank BTN, cek bilyet giro ke Rekening milik ST, selaku Direktur PT. GIU sebesar Rp 23 Milyar dari rekening atas nama PT. SANF. Dengan sistem itu, ada upaya penggelapan dan pencucian uang terkait aliran dana oleh oknum tertentu dengan menggunakan perangkat dua perbankan nasional dengan memainkan dana PT. SANF yang disimpan di Bank BTN dan dialirkan ke Bank Mandiri atas nama ST, direktur PT.GIU.
  8. Kasus Bank Mandiri salah menempatkan saldo rekening Milik Sofyan Basir. kesalahan menempatkan dana tersebut mencapai ratusan triliun rupiah, tepat nya sebesar Rp104.332.350.929.269,62.
  9. Kasus Salah Transfer Bank Mandiri (DANA SILUMAN) :
BACA JUGA:   Tulisan Ketua Umum Wanita PERISAI

• Firdaus, Nasabah Bank Mandiri di Bengkulu , dana di tabungannya mendadak berubah menjadi Rp100 triliun. Berawal dari 15 Juni 2015.
• Nanang Indra Kurniawan, Saat melakukan transaksi penarikan uang tunai dari kartu Commonwealth Bank di ATM Bank Mandiri Bandara International Ngurah Rai, Denpasar, Bali pada 9 November 2015. Saldo Nanang mencapai setara Rp1,5 miliar.
• Tomedy , warga Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau kebingungan dengan apa yang dialaminya pada 8 Maret 2016. Mendadak saldo rekeningnya di Bank Mandiri bertambah hingga mencapai Rp 100 triliun.
• H. Alimin, Petani warga Jalan Gunung Tolong No 21, Kecamatan Bacukiki Lumpue Parepare Sulawesi Selatan, yang tabungannya disinggahi dana misterius sebanyak Rp13 triliun di rekening Bank Mandiri.(R4TT0B)

Di olah dari beberapa sumber.

sumber: redaksijakarta.com

News Feed