by

Bercengkerama dengan Kekuatan Kenangan

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email


Iqbal Setyarso

Vice President ACT

Memiliki kenangan dalam beberapa hal, sungguh memberi kebahagiaan. Terutama kenangan tentang kesalehan. Syahdan, dari rentang kisah lama terjejaklah bangunan bekas gudang kopra di kawasan Timur Indonesia. Tepatnya Sulawesi Tengah. Satu-satunya yang bisa diungkap, bahwa di tanah ini di masa lalu pernah ada jejak gudang kopra, yang aktivitasnya kini tinggal kenangan. Usut punya usut, kekuatan yang masih dilacak tidak lain ahli waris. Secara hukum, Indonesia mengadopsi hak waris. Asal mau, proses kepemilikan itu bisa diurus dan bisa diaktifkan kembali. Itu yang saya sebut “kekuatan kenangan”, yakni yang saya sebut “kekuatan masa lalu” alias “kenangan”. Bukan kenangan saya, atau dari tokoh apapun yang terkait dengan kekinian. Sama sekali bukan. Ini tentang masa lalu, dan sebongkah kemauan. Yang membantu menghidupkan kenangan, ”jahitan” ikhwal masa lalu itu. Bahwa di masa lalu ada aset yang pernah berjaya, dan bisa direkonstruksi. Kekuatan gagasan, dari masa lalu sekalipun, masih bisa direkonstruksi terlebih bernama kesalehan. Kejuangan. Ekspektasi tentang umat. Dan tentang nasib bumiputera negeri ini. Energi cerdik-pandai, harus ditata-ulang demi kebermanfaatan anak-negeri. Saya hendak mengulik tentang masa-lalu seseorang yang pernah begitu hebat kekuatan berpikirnya, dan perbawanya tentang masa depan, dan membuat orang sepertinya melahirkan karya-intelektual yang terjejak. Makin lama, yang kami orang masa sekarang pikirkan, makin menemukan bentuk, dan cita-cita besar main terasa kemungkinannya. Yang saya maksud, regenerasi itu bukan khayal; pertautan sinergi bukan isapan jempol. Jauh sama-sekali dari khayalan “harta karun Soekarno. Ini bukan hal-hal khayali, tapi rekonstruksi yang menuntut kerja keras di satu sisi dan rancangan matang di sisi lain. Belum lama ini keturunan Almarhum Pak Cokroaminoto berkunjung ke ACT dan menyiapkan ikhtiar rekonstruksi itu, dikawal tim Global Wakaf Corporation, perusahaan wakaf dalam ACT, merintis ikhtiar merekonstruksi kejayaan umat. Cita-cita besar Pendiri Sarekat Islam, insyaAllah terwujud di tangan gererasi saat ini. Menjadi berlipat harapan saat berbincang dengan sosok-sosok yang memiliki kesamaan cita-cita. Mungkin sejumlah “orang lama” tak terlacak, tetapi hanya soal waktu. Kami meyakini, negeri ini terlalu luas, tetapi bukan tidak bisa ditelisik. Untuk sosok sefenomenal H.O.S. Cokroaminoto, terlalu besar tempat untuk raib. Waktu akan kerekonstruksi berbagai kemungkinan, termasuk mewujudkan kemaslahatan bagi umat. Dulu, ada Sarekat Dagang Islam, kini ada Global Wakaf Corporation dan sosok aktivis seperti Hamdan Zoelva yang sangat ingin mewujudkan cita-cita organisasi yang kini beliau ampu.

BACA JUGA:   28 Agustus 2020 Program Salam Indonesia Bisa Penyejuk Hati bersama Dr. H. Hamdan Zoelva, SH.MH

sumber: act.id
Syarikat Islam
Iqbal Setyarso
sumber: www.si.or.id

News Feed