by

Persiapan Muswil IX Syarikat Islam Sulut Rampung, Ketum dan Gubernur Hadir

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

Manado, SuaraSI.com – Kelahiran Syarikat Islam (SI) dilatarbelakangi oleh ketidakadilan sosial ekonomi pada masa kolonialisme Belanda pada tahun 1905, dimana kaum pribumi berada dalam status sosial nomor tiga. Hal ini disampaikan oleh Dr. Hamdan Zoelva, SH. MH selaku Ketua Umum Pimpinan Pusat/Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam saat menjadi Keynote Speaker dalam acara Musyawarah Wilayah IX Syarikat Islam Sulawesi Utara dan Seminar Kebangsaan dengan tema “Visi Baru Syarikat Islam dalam Menyambut Kebangkitan Kedua dalam Bingkai NKRI” di Hotel Aston, Manado, Jum’at (22/3).

Hamdan menambahkan jika pada masa kolonialisme Belanda, terutama pada saat tanam paksa atau Cultur Stelsel, ketidakadilan tersebut terjadi. Masyakarat pribumi dipaksa menanam rempah-rempah dan pertanian lalu dijual dengan harga murah ke Belanda dan Belanda menjual lagi dengan harga yang tinggi. “Melihat kondisi demikian, Cokroaminoto dan Soekarno menggambarkan jika kaum pribumi seperti dihisap darahnya, diambil susunya lalu hanya mendapatkan tulang belulang saja,” tutur Hamdan.

BACA JUGA:   Acara Dzikir dan Doa Kebangsaan Oleh DPW SI Sulsel berlangsung Sukses

Sekarang, lanjut Hamdan, ketidakadilan masih ada. “Bisa dilihat dari gini rasio yang memang sudah berkurang dari 0,44 persen menjadi 0,39 persen. Rasio kepemilikan tanah 0,65 persen dan berdasarkan data dari PBB 1 persen orang kaya di Indonesia menguasai 51 persen kekayaan Indonesia,” ujarnya.

Ia menambahkan dengan kondisi yang demikian, sudah seharusnya Syarikat Islam muncul kembali melalui cita-cita awalnya, yakni kemerdekaan sejati. “Kemerdekaan sejati yang hanya dapat dilakukan melalui kembali ke khittah perjuangan. SI jangan lagi menjadi organisasi politik, tapi harus kembali menjadi organisasi kemasyarakatan yang fokus kepada pemberdayaan ekonomi umat serta melawan ketimpangan dan ketidakadilan,” tegas Hamdan.

BACA JUGA:   PW Syarikat Islam Jawa Barat mengucapkan Selamat Tahun Islam 1442 H

Sejatinya, kata Hamdan, pada tahun 2015 telah disepakati bahwa Syarikat Islam ‘balik kanan’ dari organisasi politik kembali kepada cita-cita awal pendirinya yakni Samanhudi dan HOS Cokroaminoto. “Hal tersebut dikuatkan dalam program azas yakni kemerdekaan sejati, yakni Kemandirian ekonomi, kemerdekaan politik dan kepribadian dalam budaya seperti yang juga disampaikan oleh Soekarno disebut sebagai Trisakti. Soekarno mengatakan itu karena beliau juga merupakan anggota SI dimana dalam catatan sejarah, Soekarno adalah salah seorang yang banyak ‘digembleng’ oleh HOS Cokroaminoto di Surabaya,” tuturnya. Hamdan menjelaskan untuk merealisasikan visi tersebut, Syarikat Islam memiliki program kerja yang disebut Catur Program. “Catur Program adalah program yang berfokus kepada pemberdayaan ekonomi, pendidikan, siasah dan konsolidasi organisasi,” tutup Hamdan.

sumber: suarasi.com

News Feed