by

Hamdan Zoelva : Syarikat Islam Akan Selalu Hadir Melawan Ketidakadilan

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

Manado, SuaraSI.com – Sebagai bangsa yang pernah dijajah oleh negara asing, sudah barang tentu segenap komponen bangsa Indonesia menginginkan kemerdekaan sejati dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Keinginan tersebut dipertegas pada pembukaan atau preambule Undang-Undang Dasar 1945 memuat sebanyak lima buah kata ‘Adil’ maupun ‘Keadilan’.

Berawal dari sejarah kelam bangsa yang dijajah, maka kelahiran Syarikat Islam (SI) pada tahun 1905 dilatarbelakangi oleh ketidakadilan sosial ekonomi pada masa kolonialisme Belanda, dimana kaum pribumi berada dalam status sosial nomor tiga. Hal ini disampaikan oleh Dr. Hamdan Zoelva, SH. MH selaku Ketua Umum Pimpinan Pusat/Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam saat menjadi Keynote Speaker dalam acara Musyawarah Wilayah IX Syarikat Islam Sulawesi Utara dan Seminar Kebangsaan dengan tema “Visi Baru Syarikat Islam dalam Menyambut Kebangkitan Kedua dalam Bingkai NKRI” di Hotel Aston, Manado, Jum’at (22/3).

BACA JUGA:   Ketua Umum LT/SI menuju lokasi sekolah kader SEMMI mengisi Ideologi Syarikat Islam

Hamdan menambahkan jika pada masa kolonialisme Belanda, terutama pada saat tanam paksa atau Cultuurstelsel, ketidakadilan tersebut terjadi. Masyakarat pribumi dipaksa menanam berbagai macam tumbuhan pertanian lalu dijual dengan harga murah ke Belanda dan Belanda menjual lagi dengan harga yang tinggi. “Melihat kondisi demikian, Cokroaminoto dan Soekarno menggambarkan jika kaum pribumi seperti dihisap darahnya, diambil susunya lalu hanya mendapatkan tulang belulang saja,” tutur Hamdan.

Sekarang, lanjut Hamdan, ketidakadilan masih ada. “Bisa dilihat dari gini rasio yang memang sudah berkurang dari 0,44 persen menjadi 0,39 persen. Rasio kepemilikan tanah 0,65 persen dan berdasarkan data dari PBB 1 persen orang kaya di Indonesia menguasai 51 persen kekayaan Indonesia,” ujarnya.

Ia menambahkan dengan kondisi yang demikian, sudah seharusnya Syarikat Islam muncul kembali melalui cita-cita awalnya, yakni kemerdekaan sejati. “Kemerdekaan sejati yang hanya dapat dilakukan melalui kembali ke khittah perjuangan. SI jangan lagi menjadi organisasi politik, tapi harus kembali menjadi organisasi kemasyarakatan yang fokus kepada pemberdayaan ekonomi umat serta melawan ketimpangan dan ketidakadilan,” tegas Hamdan.

BACA JUGA:   HAMDAN ZOELVA: RELASI ISLAM, NEGARA, DAN PANCASILA DALAM PERSPEKTIF TATA HUKUM INDONESIA

Cara untuk melawan ketidakadilan, menurut Hamdan, dapat dilakukan dengan SI betul-betul ‘balik kanan’ dari organisasi politik dan kembali kepada cita-cita awal pendirinya yakni Samanhudi dan HOS Cokroaminoto yang berfokus kepada kemandirian ekonomi, melalui kegiatan pemberdayaan ekonomi ummat. “Melihat kondisi sekarang dimana sistem kapitalis yang sudah merajalela dalam sektor ekonomi, maka SI jangan sampai ikut terbawa arus kedalam sistem tersebut. SI harus memperkuat basis ekonomi rakyat untuk melawan ketimpangan dan ketidakadilan melalui pemberdayaan ekonomi,” tutup Hamdan.

sumber: suarasi.com

News Feed