by

Mencekam Ketika Taman Dipenuhi Pendemo HOS Tjokroaminoto

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

JANTUNG KOTA SURABAYA: Kondisi Stadstuin te Soerabaja yang tenang dan asri, namun pada tahun 1926 kawasan tersebut dijadikan lokasi demo besar-besaran yang membuat tentara militer harus melakukan penjagaan ketat. (ISTIMEWA)

Jalan Kebon Rojo yang steril bukan tanpa sebab. Pertimbangan keamanan menjadi salah satu alasan agar jalan tersebut menjadi spesial. Akses jalan hanya untuk kendaraan yang hendak menuju ke rumah Dinas Bupati Surabaya saja. Apalagi sempat tercatat dalam sejarah adanya demo besar-besaran di Stadstuin te Soerabaja ini.

Ribuan orang berkumpul di taman ini dan bisa memuat semuanya. Gazebo besar yang tadinya ada untuk warga Belanda saat itu seakan disulap menjadi mimbar pidato. “Diceritakan ribuan masyarakat pribumi membanjiri taman itu,” kata Sejarahwan Universitas Airlangga Purnawan Basundoro kepada Radar Surabaya.

Demo besar-besaran yang dilaksanakan Serikat Islam pada waktu itu membuat suasana di taman itu menjadi mencekam. Apalagi saat Tjokroaminoto berorasi menuntut pemerintah Belanda karena kasus pertanahan masa itu.

Bukan tanpa sebab melaksanakan demo di lokasi tersebut. Selain dekat dengan pusat pemerintahan, namun juga dekat dengan gedung pengadilan. “Sehingga bisa langsung didengar. Itu terjadi sekitar tahun 1926,” tutur dosen ilmu sejarah tersebut.

BACA JUGA:   Napak Tilas Pagar Betis DI/TII Benteng Kecamatan Ibun

Di sisi timur taman tersebut, tepatnya di depan gedung gubernuran sempat ada gedung pengadilan Belanda. Gedung ini melaksanakan sidang-sidang seperti halnya pengadilan pada masa kini. Namun, saat ini gedung tersebut sudah tidak ada. Gedung itu lenyap ketika zaman revolusi. Gedung ini dihancurkan pejuang pada saat itu.

“Gedung pengadilan ini ada di taman tersebut dan berhadapan dengan gedung gubernuran (saat ini lokasi Monumen Tugu Pahlawan, Red),” terangnya. (bersambung/nur)

(sb/gun/jay/JPR)

sumber: jawapos.com

News Feed