by

H Agus Salim, Kisah Awal Pengakuan Kedaulatan RI oleh Mesir

Print Friendly, PDF & Email

Melalui kecerdasan dan kefasihan Agus Salim memerjuangkan kemerdekaan RI
Oleh: Benny Orohella, penikmat sejarah

Kisah kefasihan H Agus Salim yang menguasi banyak sekali bahasa asing bukan cerita isapan jempol. Kali ini jejak cara Salim dalam berdiplomasi dam berbasa asing misalya terlacak dari tulisan AR Baswedan (kakek Gubernur DKI Anies Baswedan). Dalam buku untuk memperingat 100 tahun Agus Salim, dia menulis sepenggal kisah menarik yang seperti ini:

Empat lelaki dengan pakaian lusuh dan wajah lelah dari negara baru bernama Indonesia tiba di gerbang imigrasi Mesir, mereka hanya membawa barang seadanya karena harus menembus blokade Belanda.

Mereka juga diutus Presiden Soekarno untuk membalas kunjungan Muhammad Abdul Mun’im, Konsul Jendral Mesir di Mumbai, India yang langsung datang ke Yogyakarta bertaruh nyawa menembus blokade Belanda, untuk menyerahkan surat penugasan beliau selain sebagai Konjen Mesir di India juga sebagai Dubes Mesir untuk Indonesia.

Pengakuan resmi Mesir sadalah yang pertama atas sebuah negara atas kedaulatan Republik Indonesia. Dan ini bukan hanya dilakukan dalam bentuk lisan, tapi secara tertulis serta dengan cara mengutus seseorang sebagai duta besar.

BACA JUGA:   Batik sebagai Alat Pemersatu Bangsa pada Masa Penjajahan Belanda

Keempat lelaki ini lalu menyodorkan empat secarik kertas yang juga sama lusuhnya yang berisi keterangan siapa mereka dan cap Republik Indonesia. Indonesia kala itu sebagai negara yang baru berdiri memang belum sempat menerbitkan paspor.

Melihat kertas lusuh dengan bercap Indonesia itu, maka petugas imigrasi Mesir tentu saja mengernyitkan kening melihatnya. Dia malah terlihat melotot dan dengan ketus bertanya apa maksud mereka dan apa arti kertas itu.

Maka H Agus Salim dan AR Baswedan bergantian menyahut dengan bahasa Arab yang fasih, dan ini membuat para petugas imigrasi mengernyitkan kening. Setelah bicara begitu, kini tapi tatapannya yang tadinya terkesan marah dan melotot berubah. Sekarang berubah menjadi terpana.

Melihat itu, H Agus Salim pun segera meneruskan perkataannya, “Kami dari Indonesia, sebuah negara baru di Asia Tenggara”.

Nah, sepertinya karena mendengar H Agus Salim berbicara dalam bahasa Arab yang fasih, sang petugas kembali bertanya, “Kalian muslim?”,

BACA JUGA:   Kisah para Pemimpin Islam yang berasal dari Pengusaha Kretek di Kudus

‘Ya!”, jawab keempat lelaki ini serentak.

Setelah itu, ada pernyataan balik yang ditimpali H Agus Salim, “Anda tahu siapa yang memenuhi Makkah di musim haji?”

Petugas itu tertawa, “Ahlan wa sahlan, saudaraku, selamat datang di Mesir!”

Kini sikap dingin para petugas imigrasi Mesir langsung berubah. Bahkan, ada yang tertawa, menjabat tangan, bahkan memeluk keempat lelaki berpakian lusuh asal sebuah negara baru di Asia Tenggara yang bernama Indonesia.

Haji Agus Salim dan para tokoh pendiri bangsa memang melegenda.

photo
Sebagai hasil dari perjanjian ‘Renville’, banyak pejuang TNI yang ditangkap diserahkan kepada otoritas republik. Pada foto tersebut tampak delegasi Indonesia dengan Amir Sjarifuddin di sebelah kanan. Anggota lain dari deligasi Indonesia adalah: Haji Agus Salim (pria tua dengan janggut abu-abu) dan Ali Sastroamidjojo (dengan janggut hitam). Foto diambul pada 17 Jaunari 1948. (Gahetna.nl)

sumber: republika.co.id

News Feed