by

ALUMNUS RUMAH PENELEH: SATU GURU TIGA IDEOLOGI: Soekarno, Semaun, Kartosoewirjo

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

By : Giovani van Rega

Adalah Tjokroaminoto yang menginvestasikan sebuah Rumah khusus bagi anak-anak muda Indonesia yang berfikir cemerlang untuk sebuah revolusi di Indonesia. Rumahnya bercat putih, terdapat pintu kayu jati dan dua jendela hijau mengapitnya, lantainyapun hanya menggunakan semen belaka. Namun dari tempat ini lahirlah Tiga tokoh besar yang sangat berpengaruh dalam khazanah pergerakan di Indonesia.

Tjokroaminoto yang terkenal dengan trilogy politiknya yaitu, sebersih-bersih tauhid, setinggi-tingginya ilmu dan sepintar-pintarnya siyasah, inilah yang kemudian hari memengaruhi para muridnya.

Bagi Tjokroaminoto kalau ingin menjadi pemimpin harus menulis seperti wartawan dan berbicara seperti orator, inilah yang selalu dipegang oleh ketiga murid yang sangat kontroversial itu: Soekarno, Semaun dan Kartosoewirjo.

Dalam sejarah ketiga muridnya itu adalah sangat pandai dalam menulis, kemudian sangat pandai dalam melakukan pidato (orasi). Ketiganya adalah negarawan yang berfikir besar, namun berbeda dalam hal idiologi. Ideology yang dipegangnya itu bukan hanya sekedar ucapan atau kata-kata, tetapi menjadi semacam pegangan hidup, bahkan Kartosoewirjo rela mati demi apa yang dipegangnya itu.

=====
Soekarno yang terkenal dengan Nasionalisnya, Semaun yang terkenal dengan komunisnya dan Kartosoewirjo yang terkenal dengan Negara Islamnya, tiga orang itu menurut mang Geo benar-benar peletak dasar epistimologi pergerakan dan arah bangsa di Indonesia ini.

Soekarno mengakui bahwa Tjokroaminoto adalah idolanya. Pada Tjokroaminoto Soekarno belajar tentang politik untuk kesejahteraan rakyat, belajar metode-metode pergerakan, dan belajar tentang literasi media. Dalam hal public speaking soekarno memang mengakui bahwa ia terpengaruh oleh gaya public speaking Tjokroaminoto.

Dalam buku Biografi Seokarno karya Cindy Adams, Soekarno sering menulis tentang Tjokroaminoto di media Koran Oetoesan Hindia dengan nama samaran Bima. Soekarno memang tak bisa lepas dari ilmu-ilmu yang diberikan oleh Tjokroaminoto.

Kedekatan Soekarno dengan Tjokroaminoto sampai menjadi hubungan antara mertua dan mantu. Soekarno menyunting putri kesayangan Tjokroaminoto yaitu Siti Oetari. Sayangnya pernikahnnya tidak berlangsung lama hanya 2 tahun saja.
Soekarno memegang teguh bahwa Islam harus dipisahkan dari Negara, agar Islam aman:

BACA JUGA:   Diserahkan ke Pemkot Surabaya, Rumah Kelahiran Soekarno Akan Dijadikan Museum

“Saya merdekakan Islam dari ikatannya negara, agar supaya, agama Islam bukan tinggal agama memutarkan tasbih di dalam mesjid sahaja, tetapi menjadilah satu gerakan yang membawa kepada perjoangan,” tulis Soerkarno yang menyetir kata-kata Kemal Attaturk dalam tulisannya berjudul “Apa Sebab Turki Memisahkan antara Agama dan Negara” (Panji Islam, 1940).
Soekarno akhirna meninggal pada tanggal 21 Juni 1970 di Jakarta.

====
Semaoen adalah ketua PKI yang pertama. Iapun sama murid Tjokroaminoto. Semaoen melihat Tjokroaminoto dari pisau analisis sosialisme. Semaoen asalnya bergabung dengan SI tahun 1914 wilayah Surabaya. Kemudian ia bertemu Sneevliet, seorang tokoh komunis asal Belanda pada 1915, membuat Semaoen bergabung dengan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging, organisasi sosial demokrat Hindia Belanda (ISDV) cabang Surabaya.

Semaoen menjadi pimpinan redaktur surat kabar VSTP berbahasa Melayu, dan Sinar Djawa-Sinar Hindia, koran Sarekat Islam Semarang.

Pertemuannya dengan Henk Sneevliet tokoh komunis asal Belanda pada 1915, membuat Semaoen bergabung dengan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging, organisasi sosial demokrat Hindia Belanda (ISDV) cabang Surabaya.

Tahun 1918 Semaoen menjadi anggota dewan pimpinan di Sarekat Islam (SI). Sebagai Ketua SI Semarang, Semaoen banyak terlibat dengan pemogokan buruh. Bersama-sama dengan Alimin dan Darsono, Semaoen mewujudkan cita-cita Sneevliet untuk memperbesar dan memperkuat gerakan komunis di Hindia Belanda.

Ide-ide komunis yang bercampur dengan ide-ide Sarekat Islam yang sangat islami membuat SI menjadi terpecah, antara Kubu Merah dan Kubu Putih. SI menjadi acak-acakan karena Semaoen mempengaruhi pimpinan lainnya.

Pada 23 Mei 1920, agar ide-ide komunis lebih berkembang maka Semaoen mengganti ISDV menjadi Partai Komunis Hindia. Namun untuk lebih meraknya Semaoen 7 bulan kemudian mengubah menjadi Partai Komunis Indonesia dan Semaoen sebagai ketuanya. Semaoen dan PKI akhirnya dipisahkan dari SI pada bulan oktober 1921.
====
Kartosoewirjo merupakan murid Tjokroaminoto. Bagi Kartosoewirjo, Tjokroaminoto merupakan guru pergerakan maupun guru Islam. Kartosoewirjo begitu mengagumi dan terpesona dengan Tjokroaminoto yang sering berpidato dalam berbagai pertemuan.

BACA JUGA:   Tujuh film perjuangan membangkitkan jiwa nasionalisme

Kartosoewirjo melamar menjadi murid dan mulai mondok di rumah Ketua Sarekat Islam itu di Surabaya.
Untuk membayar uang pondokan, Kartosoewirjo bekerja di surat kabar Fadjar Asia milik Tjokroaminoto. Ketekunan dan kecerdasan membuatnya menjadi sekretaris pribadi Tjokroaminoto.

Disinilah sebenarnya Kartosewirjo menerima gagasan-gagasan segar dari Tjokroaminoto secara langsung.
Kartosoewirjo memang merupakan seorang penulis, sebagaimana Soekarno dan Semaoen. Tulisan tulisan Kartosoewirjo berisi penentangan terhadap bangsawan Jawa (termasuk Sultan Solo) yang bekerjasama dengan Belanda menjadi ciri khas Kartosoewirjo.

Kartosoewirjo sangat tidak senang dengan segala bentuk penjajahan, selain merugikan juga merasa bahwa para penjajah telah menghina umat Islam bangsa Indonesia. dalam tulisan-tulisan Kartosoewirjo tahun 1929 ia selalu menulis tentang ketidaksukaannya terhadap penjajah.

Ia menuliskan tentang pentingnya kesadaran keterjajahan. Ia juga tidak senang jika ada pihak bangsa Indonesia yang bekerjasama dengan belanda, karena bagi Kartosoewirjo tidak boleh memberikan sedikitpun peluang untuk penjajah dalam merugikan bangsa dan agama (islam).

Kartosoewijo berpendirian bahwa hanya dengan Negara Islamlah maka Indonesia akan menjadi mulia, baik dihadapan manusia terlebih dihadapan Allah swt. Islam akan berdiri tegak secara sempurna hanyalah dengan Negara Islam, tidak bisa dengan Negara lain.

Kartoesoewirjo akhirnya dieksekusi mati oleh pemerintahan Soekarno tahun 4 Juni 1962. Kartosoewirjo lebih memilih mati daripada harus melepaskan idealismenya itu.

Sahabat, Ketiga alumnus rumah peneleh itu merupakan murid Tjokroaminoto yang cerdas dan brilian.

Hanya saja dalam perkembangan sejarah hidup selanjutnya mereka memilih untuk memegang idealismenya masing-masing. Soekarno dengan mempertahankan nasionalismenya, Semaun dengan gagasan komunismenya, dan Kartosoewirjo dengan Negara Islamnya.

Luar biasa, satu guru, tiga ideologi!
Satu Rumah, tiga idealisme.
Salam. Trilogi SI

sumber: facebook.com/arozieleroy

News Feed