by

Cicit HOS Tjokroaminoto: Pendidikan Budi Pekerti Harus Ditekankan

Print Friendly, PDF & Email

TARUMAJAYA, AYOBEKASI.NET—Cicit pahlawan nasional Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, Aulia Tahkim, menilai pendidikan Indonesia abad ini kurang menekankan budi pekerti. Padahal budi pekerti sangat berharga untuk membuat karakter maupun perilaku seseorang semakin beradab.

Dia menyoroti sejumlah peristiwa pertikaian antara guru dengan murid yang terjadi beberapa waktu lalu. Hal itu, menurutnya, sangat miris karena secara terang-terangan murid berani menantang guru untuk berkelahi.

Menurutnya, pertikaian-pertikaian itu bisa saja terjadi karena pendidikan budi pekerti kurang diterapkan di sekolah. Budi pekerti tidak bisa dipahami secara utuh lewat penyampaian materi, namun setidaknya guru maupun orang tua bisa menjadi teladan agar anak-anak berperilaku lebih baik di lingkungan mana pun.

BACA JUGA:   Pertama Kali Secara Internasional, Netflix Resmi Tayangkan Film HOS Tjokroaminoto di Hari Pahlawan

“Masalahnya budi pekerti ini diteladani, tidak bisa hanya pengajaran seperti ilmu sains. Harus diteladani baik itu dari guru atau orang tua,” ujar Wili, di sela acara Milad ke-4 Rumah Baca HOS Tjokroaminoto di Desa Setia Asih, Kabupaten Bekasi, Minggu (24/2/2019).

Dia menerangkan, dahulu, HOS Tjokroaminoto meski lebih dikenal sebagai tokoh dunia politik, namun Tjokroaminoto menaruh perhatian juga di ranah pendidikan.

Setidaknya tiga hal coba ditawarkan Tjokroaminoto untuk menjadi sebuah konsep dasar pendidikan, yaitu pendidikan harus membuat orang mempunyai budi pekerti baik, menjadikan orang hidup lebih mandiri, juga membebaskan manusia dari belenggu kebodohan atau memberi kemerdekaan individu.

Menurut Wili, saat ini pendidikan Indonesia terlalu menekankan pada nalar atau logika serta bahasa. Memang sejumlah aspek yang termasuk ke dalam kecerdasan majemuk itu diperlukan. Hanya saja, melihat fenomena-fenomena di dunia kependidikan saat ini harus jadi bahan renungan bahkan evaluasi pemerintah maupun praktisi kependidikan.

BACA JUGA:   Saat Agus Salim Jadi Intelijen Belanda & Memata-matai Sarekat Islam

“Praktik pendidikan nasional menekankan pada kecerdasan logis, dan bahasa. Kecerdasan-kecerdasan lain, seperti kecerdasan kinestesis, natural, spasial, itu justru kurang diperhatikan. Padahal kecerdasan-kecerdasan itu tidak kalah berharga dari kecerdasan logis dan bahasa,” paparnya.

Dirinya melanjutkan, konsep pendidikan di tanah air mesti punya rujukan baru atau mengikuti konsep zaman dulu, ketika pendidikan budi pekerti lebih dititikberatkan sebelum anak-anak dibebankan materi-materi lanjutan.

sumber: ayobekasi.net

News Feed