by

Masa Kecil Haji Agus Salim, ‘the Grand Old Man’ (1)

Print Friendly, PDF & Email

Haji Agus Salim kecil begitu ‘tergila-gila’ pada belajar

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dia lahir dengan nama yang harfiah berarti ‘pembela kebenaran’, Mashudul Haq. Kelak, orang-orang lebih mengenalnya sebagai Haji Agus Salim, “The Grand Old Man.”

Anak keempat dari pasangan Sutan Muhammad Salim dan Siti Zaenab tersebut lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatra Barat, pada 8 Oktober 1884. Lika-liku kehidupannya ikut mewarnai perjuangan umat Islam dan bangsa Indonesia pada umumnya, terutama dalam mewujudkan Indonesia Merdeka.

Ayahnya menaruh perhatian besar terhadap pendidikan anak-anak. Baginya tidak menjadi soal apakah penyelenggara suatu sekolah pemerintah kolonial atau bukan.

Yang penting, bagaimana generasi penerus dapat mereguk lautan ilmu seluas-luasnya. Walaupun sempat ditentang sanak saudara, pria yang pernah menjadi jaksa-kepala Pengadilan Tinggi Riau itu memasukkan anaknya ke sekolah dasar untuk orang-orang Eropa (Europeesche Lagere School [ELS]).

 

Mulai Masuk Sekolah

Pada 1891, Mashudul Haq terdaftar di ELS Riau. Meskipun sekelas dengan anak-anak kulit putih, tidak pernah dia merasa inferior. Malahan, prestasi akademisnya terbilang amat memuaskan.

BACA JUGA:   Sandiaga Bakal Ngajar di Program Kartu Prakerja

Dia menaruh minat yang tinggi pada rupa-rupa pelajaran. Mengutip uraian Kustiniyati Mochtar dalam Seratus Tahun Haji Agus Salim, kecerdasan anak ini memukau salah seorang gurunya, Brouwer.

Orang Eropa itu bahkan sempat meminta Sutan Muhammad agar mengizinkan murid kesayangannya itu tinggal bersamanya. Izin yang akhirnya diperoleh hanya sebatas bahwa si anak boleh mengunjungi gurunya itu setiap usai makan malam. Setelah tuntas belajar, dia harus pulang dan tidur di rumah sendiri.

Tidak seperti anak-anak umumnya, Mashudul Haq sudah sampai taraf “tergila-gila” pada belajar. Pernah suatu ketika, tutur Mochtar, bocah lelaki ini kesal karena jam-jam belajarnya kerap diselingi instruksi untuk ikut membersihkan rumah.

Bukannya ikut dengan teman-temannya bermain di luar—suatu masalah lain menurut si genius cilik ini—dia malah dengan sembunyi-sembunyi naik ke atap setelah makan siang. Perlahan-lahan, beberapa genting digesernya supaya sinar matahari dan udara segar dapat masuk. Dengan begitu, dirinya dapat membaca buku-buku pelajaran dengan tenang sambil duduk bersila di atas plafon.

BACA JUGA:   Peristiwa 16 Oktober: Berdirinya Sarekat Islam

Kebiasaan ini dilakukannya terus selama berhari-hari. Sampai akhirnya, dia lupa menutup kembali genting ke posisi semula.

Suatu sore, hujan deras mengguyur. Air lalu merembes dari langit-langit dan membasahi seluruh kamar di bawahnya. Seisi rumah heboh mencari tersangka. Mashudul Haq tidak dapat mengelak lagi. Sambil tersenyum kecut dia berkata, “Makanya jangan suka menyuruh-nyuruh terus kalau saya lagi belajar.”

Ketekunannya tampak kuat saat mempelajari penguasaan bahasa-bahasa asing. Dia amat menyukai beragam bahasa luar, mulai dari Belanda, Inggris, Jerman, Prancis, Turki, Arab, hingga Jepang.

Rasa penasaran yang tinggi sejak dini akan bahasa-bahasa itu kelak memudahkannya untuk menjadi seorang poliglot. Apalagi, suratan takdir kelak menggariskan perjuangannya pada ranah yang memerlukan kepandaian berkomunikasi lintas bahasa, semisal pergerakan organisasi dan diplomasi.

sumber : Islam Digest Republika

sumber: republika.co.id

News Feed