by

Hamdan Zoelva: Indonesia Paling Berpengalaman dalam Berdemokrasi

Print Friendly, PDF & Email

KBRN,  Madiun:  Setiap jaman memiliki tantangan yang berbeda, sehingga cara berjuang dan mengatasi persoalan juga berbeda. Itulah sebabnya tujuan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) juga senantiasa mengalami modifikasi.  Koordinator Presidium Majelis Nasional KAHMI yang juga mantan ketua Mahkamah Konstitusi RI, Prof. Dr. Hamdan Zoelva, pada Dialog Kebangsaan di STISIP Muhammadiyah Madiun, Senin malam (18/2/2019) mengatakan, awalnya HMI dibentuk untuk ikut mempertahankan negara. Kemudian selanjutnya seiring perkembangan, tantangannya pun  berbeda sehingga membutuhkan insan-insan yang kuat secara akademik, kreatif dan berdedikasi. Selain itu, kata Hamdan Zoelva, juga diperlukan insan-insan yang berjiwa islami untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.

BACA JUGA:   Hamdan Zoelva: Salah Kalau Pelanggar PSBB Diancam UU Kekarantinaan

“Kemudian insan yang betul-betul dalam jiwanya melekat kuat nilai-nilai Islam sehingga itu mewarnai mereka mewujudkan masyarakat di wilayah Indonesia yang adil makmur,” katanya.

Berbicara mengenai demokrasi, Hamdan Zoelva mengatakan bahwa Indonesia sebenarnya paling berpengalaman dalam berdemokrasi.  Mengingat perjalanan bangsa, Indonesia telah beberapa kali menerapkan sistem demokrasi, mulai demokrasi yang sangat liberal tahun 1950-1959, kemudian sistem parlementer dan presidensial, dan akhirnya sistem demokrasi yang berakar pada budaya sendiri.

BACA JUGA:   Mantan Ketua MK: Mendagri Tak Bisa Berhentikan Kepala Daerah, Itu Sudah Diatur UU

Dialog kebangsaan serangkaian memperingati Dies Natalis HMI ini mengambil tema Peranan HMI dan KAHMI dalam Tantangan Dinamika Keumatan dan Kebangsaan.  Hadir pada acara tersebut antara lain utusan dari Forkompimda Kota Madiun, Kepolisian, Badan Kesatuan Bangsa  dan Politik, Badan Eksekutif Mahasiswa, beberapa organisasi massa serta Pimpinan Daerah Muhammadiyah  Madiun dan Ponorogo.  (Haryo/AKS)

sumber: rri.co.id

News Feed