by

Sosok Pahlawan Nasional HOS Tjokroaminoto dan Djuanda di Mata Cucu-cucunya

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

KedaiPena.Com – Djuanda adalah Perdana Menteri Indonesia ke-10 sekaligus yang terakhir. Ia menjabat dari 9 April 1957 hingga 9 Juli 1959. Setelah itu ia menjabat sebagai Menteri Keuangan dalam Kabinet Kerja I.

Sumbangannya yang terbesar dalam masa jabatannya adalah Deklarasi Djuanda tahun 1957. Deklarasi ini menyatakan bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI.

Deklarasi ini dikenal dengan sebutan sebagai negara kepulauan dalam konvensi hukum laut United Nations Convention on Law of the Sea (UNCLOS).

Birokrat di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Shahandra Hanitiyo, yang merupakan cucu dari pahlawan nasional Djuanda bercerita soal sosok kakeknya. Aki Djuanda, begitu Shahandra memanggil, merupakan panutan keluarga besar.

“Beliau seorang yang rajin, pintar dan berintegritas. Pada saat zaman sekolah dahulu beliau selalu “lompat kelas” dan tingkat S1 diselesaikan di ITB,” kata Caca, sapaannya, kepada KedaiPena.Com, Minggu (2/12/2018).

Saat itu seangkatan Djuanda, hanya 12 orang yang pribumi. Sementara, yang lain merupakan keturunan Belanda. Karier Djuanda dimulai sejak usia 37 tahun dan disebut sebagai menteri “marathon” karena berturut tutut menjadi menteri sebanyak 17 kali.

“Berbagai jabatan itu antara lain Menteri Keuangan, Menteri Perhubungan, Menteri Pertahanan dan lain-lain. Jabatan terakhir sebagai Perdana Menteri/Menteri Pertama sampai dengan usia 52 tahun dan satu-satunya pejabat RI setingkat RI 2 yang wafat masih menjabat. Aki Djuanda, disemayamkan di Istana Wapres, Jalan Merdeka Selatan,” lanjut Caca.

Ia paling terkenang terkait Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957, saat bertugas di Dewan Maritim Indonesia tahun 2001. Sebab ia yang mengurus dan membawa berkas draf Keppres terkait penetapan “Hari Nusantara” sebagai hari nasional setiap tanggal 13 Desember.

BACA JUGA:   Haji Agus Salim, Diplomat asal Sumbar yang Turut Merumuskan UUD 45

“Di mana akhirnya Keppres no. 126 tahun 2001 tersebut ditandatangani oleh Presiden Megawati,” kenang dia.

Sementara Maia Estianty adalah artis Indonesia yang memiliki darah pejuang bangsa H.O.S Tjokroaminoto. Maia bercerita sosok Tjokroaminoto yang merupakan salah satu pemimpin organisasi pertama di Indonesia, yaitu Sarekat Islam (SI), di mata dirinya dan keluarga.

“Dulu waktu Lebaran, waktu aku masih SD itu dikasih tahu ayah itu keturunan dari Tjokroaminoto. Dulu sih sebenarnya tidak terlalu paham ya, siapa itu Tjokroaminoto, enggak terlalu kenal juga siapa sosok Tjokroaminoto, pokoknya tahunya pahlawan negara saja,” kata Maia.

Saat beranjak dewasa, Maia mulai mempelajari sejarah Indonesia dan menemui di buku pelajaran bahwa kakek buyutnya merupakan seorang sosok pahlawan yang berjasa pada kemerdekaan bangsa Indonesia.

Tjokroaminoto sendiri adalah pimpinan organisasi pertama di Indonesia, yakni Serikat Islam (SI). Ia pun terkenal karena berhasil mendidik banyak tokoh-tokoh besar yang mencanangkan kemerdekaan Indonesia.

“Setelah SMP baru saya mulai tahu deh, siapa Tjokroaminoto dan apa pengaruhnya Beliau terhadap negara. Ya, baru merasa bangga itu pas SMP, ya,” ujarnya.

Tjokroaminoto yang lahir di Ponorogo, 16 Agustus 1882 itu punya peranan penting dalam hal pendidikan di keluarganya.

Biar pun tumbuh dan besar di dunia yang berbeda, ia banyak mempelajari cara kerja Tjokroaminoto saat menjalani profesinya sebagai seorang musisi dan produser musik.

BACA JUGA:   Guru SD Mengajar Daring dari Rumah HOS Tjokroaminoto

“Beliau itu tumbuh di dunia politik, mengajarkan apa itu nasionalisme kemudian juga ada paham komunis di masa itu dan juga saat itu, Beliau mendirikan Serikat Islam. Sebenarnya, hampir sama dengan saya saat saya menjadi produser,” kata Maia.

“Saat jadi produser juga kan saya harus bisa membuat bintang-bintang baru menjadi hebat, seperti murid-murid Eyang Tjokroaminoto itu pun banyak yang nge-top, seperti Karto Suwiryo, Ir. Soekarno, kemudian Muso. Mereka berhasil menjadi pendiri-pendiri bangsalah,” ujarnya.

Maia merasa leluhurnya dahulu tidak mementingkan kuantitas berapa banyak murid yang dididiknya dan lebih berpacu pada kualitas hasil pelajaran yang bisa nantinya diterapkan. Itu jadi kiat utama saat Maia menjalani profesinya.

“Tidak perlu banyak murid dari Eyang Tjokroaminoto tapi semua berpengaruh untuk berdirinya bangsa ini. Saya pun sama, saat menjadi produser harus mampu membentuk artis-artis baru hingga jadi hebat. Memang sebenarnya kami tumbuh di dunia yang berbeda, tapi esensi ilmunya sama, yaitu menciptakan orang-orang hebat,” tutupnya.

Tak hanya diberitahu bahwa dirinya memiliki darah keturunan Tjokroaminoto, Maia juga sempat diceritakan bagaimana sosoknya di mata keluarga. Dari sana, Maia semakin mendapat bayangan yang luas melihat Tjokroaminoto yang biasanya hanya bisa ia pelajari di sekolah.

“Tjokroaminoto itu, ya, sangat saleh, ya. Dia juga seorang guru politik, politikus-politikus di masa itu gitu. Ya, Beliau punya pengaruh besar dalam mendidik para tokoh-tokoh yang memerdekakan bangsa ini,” terangnya.

Laporan: Ranny Supusepa

sumber: kedaipena.com

News Feed