by

SERI SINGKAT TOKOH SYARIKAT ISLAM (I)

SERI SINGKAT TOKOH SYARIKAT ISLAM (I)

ABDOEL MOEIS Sang Multi Talenta
Oleh : Tavinur S. Ramadhani

NYARIS di setiap kota-kota besar di Indonesia, Abdoel Moeis menjadi penanda jalan-jalan protokol di kota tersebut. Bahkan, di kompleks perkantoran DPR RI, nama Abdoel Moeis disematkan sebagai salah satu ruangan utama persidangan. Tak ada kontroversi, silang pendapat atau penolakan ihwal pencantuman namanya tersebut. Pun, jauh dari dasar pertimbangan kesukuan, ras atau tipikal daerah; karena Abdoel Moeis dikenang memang berkat jasa dan perjuangannya dalam membentuk fondasi dan karakter bangsa ini. Nampaknya, semua boleh sepakat, ia disematkan dengan pentasbihan sebagai Pahlawan Nasional. Dan, memang demikian adanya.
Lantas, sejauhmana anda mengenal sosok salah satu punggawa bangsa ini? Selain dikenal sebagai Trilogi Syarikat Islam (SI) bersama HOS. Tjokroaminoto dan H. Agus Salim, Abdoel Moeis juga dikenal memiliki multitalenta keahlian. Ia orator ulung, demonstran, ahli berdebat dan cerdik dalam mendesain strategi perjuangan. Ia dikenal juga motor dalam menggelorakan semangat massa demonstran, dan tentu saja, ia seorang sastrawan, pujangga sekaligus penterjemah buku roman asing ke dalam bahasa Indonesia. Tentu kepiawaiannya dalam menerjemahkan naskah buku roman ini, mengartikan kuatnya penguasaan bahasa asingnya. Lebih istimewanya, Ia juga mampu menerjemahkan roman berbahasa daerah sunda ke dalam bahasa Indonesia. Selain Bahasa Inggris dan Belanda, relatif ia pun menguasai bahasa Jerman dan Perancis.
Dalam berpidato, Moeis memang jagonya. Suaranya berat dan sedikit parau, namun terdengar lantang. Berdiri kokoh, tegap dan penuh pesona. Khalayak dibuatnya hening seperti terhipnotis. Sesekali ditimbali massa dengan gemuruh tepukan dan yel-yel. Perawakannya, cukup tinggi untuk ukuran postur tubuh orang Melayu. Ia berpidato berapi-api membakar perasaan khalayak. Pemilihan bahasanya pas, tajam, terjalin runtut dan rapih. Termasuk dalam penggunaan bahasa Belanda. Sebagai seorang orator, ia demikian memukau. Sampai-sampai Muhammad Hatta (wakil Presiden Pertama Indonesia) mengidolakannya dalam cara dan langgam berpidato. “Aku kagum melihat cara Abdoel Moeis berpidato, aku asyik mendengarkan suaranya yang merdu setengah parau, terpesona oleh ayun katanya. Sampai saat itu aku belum pernah mendengarkan pidato yang begitu hebat menarik perhatian dan membakar semangat,” kata Hatta dalam buku Memoir. (Alfarizi 2016: 17).
Sebagai Pahlawan Nasional, Abdoel Mois dapat disejajarkan dengan HOS Cokroaminoto, Dr. Sutomo, H. agus Salim, Ki Hajar Dewantoro, Dr. Setia Budi, Dr. Ratulangi, dan lannya. Untuk itu pada tempatnya, tanda kehormatan bintang maha Putra kelas III diberikan Pemerintah kepadanya, 30 Agustus 1959. Disisi lain sebagai satrawan, ia sekelompok dengan Prof. Dr. Hamka, Nur Sutan Iskandar, Rustam Efendi dan Marah Rusli. Selain karya “Salah Asuhan” yang mengantarnya ke predikat “Sastrawan Indonesia Utama”, iapun menghasilkan serangkaian karya tulis lain, misalnya “Pertemuan Jodoh” (1930) dan Surapati (1950). Abdoel Moeis di bidang jurnalistik pun termasuk generasi pelopor di tanah air. Ia pernah menjabat redaktur surat kabar terkemuka di Jawa Barat, saat Budi Utomo berusia 7 tahun. Karir kewartawanan ini agaknya punya relevansi dengan sisi yang terkandung dalam roman “Salah Asuhan”, yaitu “Pembelaan terhadap martabat bangsa”. Harkat kebangsaan inilah kemudian menyuburkan tulisannya di koran.
Abdoel Moeis dilahirkan 3 Juli 1883 di Jorong Tanah Koto Nagari Sungai Puar, sebuah dataran tinggi di kaki Gunung Marapi, Luhak Agam (saat ini disebut kabupaten), Sumatera Barat. Dataran tinggi Sungai Puar tak jauh dari Bukit Tinggi, dimana Moeis kecil bersekolah rakyat. Ayah Moeis, Soelaiman bergelar Datuk Tumanggung Gadang dengan jabatan Tuanku Laras untuk kelarasan Sungai Puar yang mencakup empat nagari yaitu : Sariak, Sungai Puar, Batagak dan Batu Palano. Pemangku adat inipun konon pernah ditindak Belanda gara-gara menolak pemungutan pajak (belasting) di desanya. Karena Penolakannya itu ia diasingkan ke Pulau Bangka. Rakyat Sungai Puar, tidak pernah absen dalam Perang Kemerdekaan (1945-1950), termasuk Perang Paderi, Perang Kamang, atau Perang Mangopoh.
Jejak perjuangan panjang Abdoel Moeis jauh melintasi tiga zaman, “Penjajahan Belanda”, “Penjajahan Jepang”, dan “Kemerdekaan”, serta di awal-awal sub–zaman “Orde Lama”, sebelum meninggal dunia di Bandung, 17 Juni 1959. Jasadnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung. Ia meninggalkan 2 orang istri dan 13 orang anak.
Sifat dan tabiat perlawanan Moeis, sudah terlihat tatkala ia memasuki usia sekolah rakyat di Bukit Tinggi hingga Europesche Lagere School di kota Padang. Selain kerap berkelahi, Moeis kecil memiliki prinsip dan ketegasan dalam mengambil keputusan. Ia menolak keras perilaku mendahulukan anak Belanda atau indo di sekolahnya, dalam hal pelajaran sekolah. Seperti di tuturkan H. Nasir Syamsudin, tokoh tua di Bukit Tinggi, ia seringkali menyaksikan Moeis kecil berkelahi dengan anak-anak Belanda. Jika bajunya kotor dan penuh lumpur, itu menandakan ia baru saja berkelahi.
Masa kecil Abdoel Moeis dikenal sebagai pemberani seperti ayahnya, tetapi ia juga membandel, hingga tak jarang kena disiplin orang tua. Pernah suatu ketika ia harus menjalani hukuman tendang sang ayah dan kerja bakti membersihkan kotoran kerbau di jalan. Si terhukum tetap tenang tanpa mengeluh. Demikian tutur petani desa Kapalo Koto Sungai Puar, 8 km dari Bukit Tinggi, tempat kelahiran Abdoel Moeis.
Disamping tipikal kerasnya, Moeis dikenal sebagai penghapal kuat. Ia belajar dengan tekun hingga larut malam. Pernah suatu hari, gurunya meminjaminya buku, dan diminta untuk menceritakan esok harinya di depan kelas perihal isi buku yang dimaksud. Ternyata, Ia mampu mengurai dan menceritakan isi buku tersebut lewat bahasa yang memesona. Terhadap penguasaan bahasa Belanda, Moeis memang dikenal sangat fasih. Bahkan, tak sedikit orang Belanda yang menilai, penguasaan bahasa Belanda Moeis dianggap lebih fasih dari orang Belanda kebanyakan.
Sebagaimana tradisi Kaum Minang dalam merantau, Moeis pun mengalaminya. Sejak remaja Ia telah merantau meninggal kampungnya ke tanah Jawa. Di bulan Januari 1906, Ia diterima di Sekolah Kedokteran Stovia di Betawi (Jakarta). Namun, tak sempat berlanjut. Ia harus memupus cita-citanya menjadi dokter karena sesuatu penyakit. Kendati demikian, beberapa orang menilai Moeis terlalu memforsir dirinya dalam belajar hingga larut malam. Nyaris kehidupannya saat itu, dihabiskan untuk belajar. Hal ini membuat kesehatannya nge-drop, sehingga tak dapat lagi melanjutkan sekolahnya.
Kegagalannya di sekolah kedokteran Stovia Betawi, tidak menjadikan Moeis patah semangat. Ia kemudian merantau dan bermukim di Bandung (Jawa Barat). Diperantauan inilah karir perjuangan Abdoel Moeis terus menanjak, hingga mencapai puncaknya sekitar 1928. Puncak karirnya itu ditandai dengan lahirnya karya sastra dalam bentuk novel “Salah Asuhan”. Lebih separuh kehidupan Moeis menjadi orang Bandung atau Jawa Barat. Ia juga lama menetap di Malangbong Garut. Tepatnya, diungsikan atau dilokalisir di Garut oleh pemerintah penjajah Hindia Belanda. Tentu, itu dikarekan sepak terjang dan tulisan-tulisan Moeis yang banyak menggugat kebijakan pemerintah Hindia Belanda.
Masyarakat Bandung dan Jawa Barat umumnya, sangat mengenal Moeis sebagai Nasionalis Tulen. Ia hidup berbaur dengan masyarakat sekitarnya. Tak jarang Moeis menolong masyarakat Priangan yang bersitegang atau bertikai dengan pengusaha-pengusaha setempat atau pengusaha Belanda. Bahkan, Moeis kerap menjadi garda terdepan dalam unjuk rasa menuntut keadilan. Tak heran, jika masyarakat Periangan menyebut Moeis sebagai “Inohong Priangan”. Selain oleh sepak terjang perjuangannya, Moeis dikenal dengan tulisan yang sebagian ada yang berbahasa Sunda. Moeis mampu berinteraksi dan beradaptasi dengan masyarakat Priangan secara lugas. Ia menguasai dan mencerna Bahasa Sunda dengan baik. Tak heran, dari 13 orang putra-putrinya, lahir dari ibu mereka yang orang Sunda.
Dunia kewartawanan memberi ketabahan tersendiri bagi Moeis. Ia menyadari, betapa buruknya perlakuan orang Belanda terhadap pekerja pribumi. Keangkuhan yang dipertontonkan kaum indo dan Belanda, membuat Moeis begitu muak. Ini pula yang menyebabkan Ia hengkang dari tempat kerjanya di Departemen Pengajaran (Department van Onderwijs & Eredienst). Ia menuliskan kekesalannya di Majalah “Bintang Hindia”, tak lama setelah keluar bekerja dari departemen tersebut.
Di April 1910, dengan pertimbangan keluasan pembaca dan oplah surat kabar yang lebih lebar, Moeis pindah ke surat kabar berbahasa Belanda “Preanger Bode”. Kendati demikian, tipikal pendobraknya justru terlihat semakin kencang di tempat ini. Kecewa dengan perlakuan dan pandangan rendah dari lingkungan orang Belanda di tempat kerjanya terhadap orang pribumi, Moeis pun hengkang. Selanjutnya, di 1912, Ia pun hijrah mengelola dan menjadi pimpinan surat kabar “Kaoem Moeda”. Koran ini populer dengan “ruang pojok” nya yang berjudul “Keok” (artinya kalah). Melalui ruang pojok ini, Moeis dapat menuangkan kecaman tajam terhadap Pemerintah jajahan waktu itu. Keok nya Abdoel Moeis pun mati, karena “Kaoem Moeda” nya di breidel.
Lepas dari Koran Kaoem Moeda, 1913, Moeis diterima sebagai redaktur surat kabar “Neraca”, yang merupakan organ Sarekat Islam (SI), sekaligus menandakan kiprah Moeis di organisasi ini. Melalui dukungan segenap pengurus SI, Moeis didapuk memegang pimpinan surat kabar Neraca. Dengan keyakinan, bahwa SI akan mampu menjadi wadah bagi perjuangan menuju kemerdekaan bangsa, Moeis memosisikan dirinya dalam dedikasi dan loyalitasnya kepada SI dengan tanpa pamrih. Sejak tiga perempat abad silam, seorang Moeis telah menyadari perlunya pembinaan kesadaran nasional, terutama terhadap infiltrasi danpengaruh asing di Indonesia.***

BACA JUGA:   Anjasari Washed: Produk Kaum Syarikat Islam

sumber: facebook.com @syarikat.islam.125

News Feed