by

KH Agus Salim, Pembelajar yang Bersahaja

Print Friendly, PDF & Email

  • Penulis:
    • SuaraMerdeka.com

KH AGUS SALIM lahir pada 8 Oktober 1884 di Kota Gadang, Bukittinggi, Sumatera Barat. Beliau adalah pahlawan kemerdekaan Indonesia yang tidak berjuang dengan bambu runcing atau senjata api, tapi menggunakan intelektualitas dan kepandaiannya dalam berdiplomasi. Sejak kecil, Agus Salim merupakan petualang ilmu. Ia sosok pembelajar yang haus akan pengetahuan.

Ayahnya, Sutan Muhammad Salim, telah menanamkan pentingnya mencari ilmu bagi putranya. Pendidikan Agus Salim dimulai dari EuropeescheLagere School (ELS) pada 1898 atau sekolah khusus anak-anak Eropa, kemudian dilanjutkan ke Hoogere Burger school (HBS) pada 1903 di Batavia. Sejak kecil, Agus Salim sudah tampak kecerdasannya. Ia meraih nilai terbaik di HBS. Ia juga berhasil menguasai sedikitnya tujuh bahasa asing dalam usia relatif muda, yaitu Arab, Belanda, Inggris, Turki, Prancis, Jepang, dan Jerman. Ia pun sempat belajar di Makkah mendalami ilmu agama Islam dengan pamannya Syeikh Khatib al-Minangkabawi yang saat itu menjadi Imam di Masjidil Haram. Di samping ilmuilmu agama, Syeikh Khatib juga mengajarkan Salim ilmu diplomasi dalam hubungan internasional.

BACA JUGA:   *Program Salam Radio* JEJAK TJOKRO Selasa, 7 September 2021 Pukul 20.00 WIB Program Salam Lentera Kebajikan

Diplomat Ulung

Kecintaannya kepada ilmu membuat Agus Salim menjadi sosok pembelajar yang luar biasa. Bahasa asing yang dikuasai dan ilmu diplomasi yang dipelajari dari gurunya mengantarkannya menjadi seorang diplomat ulung.

Kariernya sebagai diplomat berawal ketika Belanda menawarkan kepadanya untuk menjadi penerjemah pada Konsulat Belanda di Jeddah pada 1906 sampai 1911. Puncaknya, pada 1946-1950 ketika ia mendapatkan peran penting dalam upaya mempertahankan Indonesia di meja-meja perundingan. Karena perannya, ia dijuluki “Orang Tua Besar” (The Grand Old Man) yang sangat dihormati di meja perundingan.

BACA JUGA:   Program Salam Radio Rabu, 18 Agustus 2021 Pukul 16.00 - 16.40 WIB Program Salam Satu Hati

Agus Salim merupakan ulama yang moderat sekaligus bapak bangsa yang cendekia. Ia pernah menjabat beberapa kali sebagai menteri luar negeri pada Kabinet Syahrir II 1946 dan Kabinet III 1947, Menteri Luar Negeri Kabinet Amir Syafrudin Menteri Luar Negeri Kabinet Hatta 1948-1949. Namun tak seperti dibayangkan oleh banyak orang, ulama diplomat yang besar jasanya terhadap kemerdekaan dan konsen pada pengembangan pendidikan di Indonesia ini adalah sosok yang bersahaja.

Kesederhanaan Agus Salim terlihat dari kebiasaan beliau mengenakan sarung pada acaraacara kenegaraan. Bahkan ia dan keluarganya tak memiliki rumah tetap melainkan hanya kontrak dan harus berpindah-pindah sepanjang hidupnya. (H Samsudin Salim MAg, Dosen FAI Unissula- 23).

sumber: suaramerdeka.com

News Feed