by

Fakta Mengagumkan Sosok Raja Tanpa Mahkota

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

Hari ini atau tanggal 16 Agustus mungkin tidak banyak yang tahu bahwa ada tokoh besar bangsa lahir di tanggal ini. Sosoknya dijuluki Raja Tanpa Mahkota dan ia juga disebut-sebut sebagai Guru dari tiga ideologi.

Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto atau yang lebih terkenal dengan sebutan HOS Tjokroaminoto, ia mengukir banyak jejak tak lepas dari perannya sebagai Guru Bangsa.

Ia lahir di Ponorogo 16 Agustus 1882 dan meninggal 17 Desember 1934 di Yogyakarta. Lewat beliau, lahir sosok nasionalis seperti Sukarno, tokoh Sosialis seperti Semaun dan tokoh Islamis seperti Kartosuwiryo.

Dengan nalar ini, wajar jika kemudian disebut bahwa dia menjadi guru dalam tri tunggal wajah ideologi yang hidup di Indonesia. Ideologi yang satu sama lain, tampak sangat diametral.

Bagaimana tidak disebut diametral. Sosok Tjokroaminoto ini, mampu melahirkan sosok nasionalis dengan bentuk wajah negara NKRI, dan bentuk Negara Islam Indonesia (NII), serta cita-cita Komunisme yang dibawa Semaun, Alimin dan Muso.

Banyak sumber menyebut bahwa dari ketiga santri ini, Tjokroaminoto lebih menyukai Sukarno. Karena itu, kemungkinan salah satu alasan yang dapat dimengerti ketika salah satu anaknya bernama Siti Oetari, dinikahkan dengan Sukarno.

Tjokroaminoto disebut ketiga tokoh tadi, sebagai guru dan pujaan bagi mereka. Mereka digembleng dengan cara yang sangat keras oleh sosok ini. Baik Sukarno, Semaun, maupun Kartosuwiryo, ketiganya sering membuntuti Tjokroaminoto berkeliling dari satu daerah ke daerah lain di Nusantara.

Tjokroaminoto bahkan dianggap Sukarno sebagai guru ngaji agama Islam yang membawa pesan perjuangan. Tjokroaminoto lah menurut Sukarno yang menebarkan semangat Indonesia merdeka. Ia mendorong seluruh santrinya untuk membebaskan diri dari penindasan Hindia Belanda.

Nah, selain pandangan istimewa dari murid-muridnya tentu Tjokroaminoto memiliki banyak kisah yang mengagumkan. Dirangkum dari berbagai sumber berikut faktanya.

1. Pelajar yang sangat andal

HOS Tjokroaminoto adalah seorang pelajar yang andal di masanya. Pria kelahiran 16 Agustus 1882 ini terus berprestasi ketika disekolahkan oleh ayahnya yang pejabat di OSVIA atau sering dikenal sebagai sekolah calon pegawai pemerintahan di Magelang. Setelah lulus dengan prestasi yang sangat tinggi, HOS Tjokroaminoto mulai bekerja sebagai juru tulis di Ngawi selama kurang lebih tiga tahun.

BACA JUGA:   MTs Cokroaminoto Madukara akan menyelenggarakan lomba-lomba bagi siswa siswi selama kegiatan belajar di rumah (KBM Daring)

Mengetahui dirinya kurang bisa berkembang dalam pekerjaan itu, HOS Tjokroaminoto akhirnya hijrah ke Surabaya yang saat itu mulai jadi pusat perdagangan. Dia bekerja di perusahaan dagang besar yang dinamai dengan SDI atau Sarekat Dagang Islam. Kepandaian yang dimiliki oleh HOS Tjokroaminoto membuatnya mudah belajar dan juga melakukan transformasi besar-besaran terhadap SDI hingga menjadi partai politik.

2. Masuk ke jalur politik dan mulai berjaya

Pandangan luas yang dimiliki oleh HOS Tjokroaminoto membuatnya mampu mengubah SDI menjadi sebuah partai politik yang resmi. Kelompok usaha perdagangan ini tak hanya melakukan perdagangan secara adil, namun juga melakukan protes terhadap banyaknya manipulasi yang dilakukan oleh Belanda. Mereka tidak ingin rakyat kecil menjadi korban dan terus dirugikan oleh Belanda.

Lambat laut SDI berubah menjadi Sarekat Islam atau SI dan memiliki banyak anggota di Indonesia. Pedagang-pedagang dari Jawa dan Madura bersatu padu untuk melakukan perlawanan dalam dunia perdagangan. Di bawah kepemimpinan dari HOS Tjokroaminoto, partai ini kian membesar dan membuat nyali Belanda kian ciut.

3. Bibit perjuangan untuk lepas dari belenggu Belanda

Barangkali sudah sejak ratusan tahun yang lalu pahlawan di Indonesia berjuang untuk bisa lepas dari belenggu Belanda. Namun, baru pada masa HOS Tjokroaminoto lah pemikiran pergerakan nasional secara politik dimunculkan. HOS Tjokroaminoto menyebarkan bibit pergerakan nasional hingga benar-benar mengakar kuat di Indonesia.

HOS Tjokroaminoto pernah memberikan mosi tidak percaya kepada Belanda yang ada di Indonesia. Sebagai partai politik resmi, HOS Tjokroaminoto dan rekannya menuntut adanya parlemen yang isinya orang Indonesia hingga segala kebijakan yang diambil bisa memberikan dampak baik bagi bangsa. Sayangnya tuntutan ini sama sekali tidak direspon oleh Belanda yang mulai merasa takut dengan adanya pergerakan masif di Indonesia.

BACA JUGA:   Penting untuk Generasi Muda, Kampung Kelahiran Bung Karno Akan Jadi Sentra Edukasi Nasionalisme

4. Guru para pemimpin besar di Indonesia

Selain sebagai pahlawan, HOS Tjokroaminoto adalah guru dari para guru bangsa kenamaan Indonesia yang membangun negeri ini hingga bisa sangat maju seperti sekarang.

HOS Tjokroaminoto memengaruhi pikiran-pikiran dari Sukarno, Muso, dan Kartosuwiryo. Dari tiga murid hebat itu, HOS Tjokroaminoto sangat menyukai Sukarno yang sangat cerdas. Beliau mengajarkan banyak hal hingga akhirnya Sukarno sangat ahli dalam hal-hal berbau nasionalis. Berkat bimbingan dari HOS Tjokroaminoto, Sukarno bisa melenggang menjadi pemimpin Indonesia yang hebat.

5. Salah satu bukti kekuatan politik Indonesia itu kuat

Selama Belanda berkuasa di Indonesia. Kekuatan politik yang ada di negeri ini terus ditekan. Belanda melakukan segala cara agar negeri ini tak berkembang dengan pesat dan melakukan pemberontakan yang lebih terstruktur. Akhirnya setiap ada partai politik atau kelompok pejuang pembebasan, Belanda selalu menangkap pentolannya atau membubarkan organisasi itu dengan ancaman-ancaman yang menakutkan.

Partai yang dimiliki oleh HOS Tjokroaminoto tentu berbeda dengan partai yang lain. Partai ini berdiri di atas sebuah bisnis perdagangan yang sangat kuat. Pondasi ini membuat partai SI sulit digulingkan meski sempat terjadi konflik internal dan harus pecah jadi dua kubu. Kemunculan HOS Tjokroaminoto membuat dunia politik negeri ini kian maju dan pemikiran baru mulai berdatangan.

Lima hal tersebut di atas membuktikan bahwa perjuangannya yang sangat hebat untuk Indonesia layak diapresiasi setinggi-tingginya. Dan melanjutkan cita-cita perjuangan beliau adalah salah satu bentuk apresiasi terbesar. [Eva De]

sumber: pedomanbengkulu.com

News Feed