by

Sukarno dan Islam Sontoloyo

Print Friendly, PDF & Email

Sukmawati Soekarnoputri disebut menistakan agama karena menyinggung soal syariat Islam, cadar, dan azan, dalam puisinya. Apa yang disampaikan Sukmawati itu terkesan bertolak belakang dengan pemahaman ayahnya, Sukarno, terhadap Islam.
Presiden pertama RI itu ialah seorang Muslim yang lahir dari pasangan Raden Sukemi Sosrodihardjo –penganut kepercayaan Jawa atau Kejawen– dan Ida Ayu Nyoman Rai, pemeluk agama Hindu Bali. Semasa kecil, Sukarno tidak banyak terpapar ajaran Islam, hingga pada 1915 ia dititipkan oleh ayahnya untuk tinggal di Surabaya bersama H.O.S Tjokroaminoto, seorang pemimpin Sarekat Islam.
Pandangan Sukarno terhadap Islam bisa dikatakan berubah selama tinggal bersama Tjokroaminoto. Ia banyak bertemu dengan para pemimpin Sarekat Islam lainnya seperti Alimin, Musso, Darsono, Abdul Muis, dan Agus Salim.
Namun begitu, wawasan Sukarno tentang Islam tidak terbatas hanya pada satu paradigma. Ia bahkan menyatakan kemerdekaan beragama sebagai tanda bahwa sejak muda Sukarno menghargai keberagaman. Hal ini tertuang dalam buku otobiografi karya Cindy Adams bertajuk Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat (1966).
“Tahun 1926 adalah tahun di mana aku memperoleh kematangan dalam kepercayaan. Aku beranjak berpikir dan berbicara tentang Tuhan. Sekalipun di negeri kami sebagian terbesar rakyatnya beragama Islam, namun konsepku tidak disandarkan semata-mata kepada Tuhannya orang Islam,” kata Sukarno dalam buku tersebut.
“Pada waktu aku melangkah ragu memulai permulaan jalan yang menuju kepada kepercayaan, aku tidak melihat Yang Maha Kuasa sebagai Tuhan kepunyaan perseorangan. Menurut jalan pikiranku, maka kemerdekaan seseorang meliputi juga kemerdekaan beragama,” lanjutnya.
Sukarno dan Islam Sontoloyo (1)
Sukarno cilik. (Foto: Wikipedia)
Islam Sontoloyo a la Sukarno
Pandangan Sukarno terhadap Islam kian menguat tatkala dibuang ke Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur pada 14 Februari 1934. Tak adanya sarana dan prasarana komunikasi di Ende, dinilai tepat oleh pemerintah Hindia Belanda agar Sukarno tak bisa berkomunikasi dengan rekan seperjuangannya di Pulau Jawa.
Meski demikian, pengasingan Sukarno di Ende justru berubah menjadi sebuah perjalanan spiritual baginya. Sebab, pada saat yang sama, Sukarno yang kala itu berusia 35 tahun, mulai menyatakan berbagai pemikirannya tentang Islam kepada sahabatnya melalui surat. Surat-surat tersebut kemudian dikenal dengan sebutan Surat-surat Islam dari Ende yang tertuang dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi (DBR) Jilid I (1964).
Selain surat-menyurat, Sukarno juga meminta dikirimi buku-buku yang berkaitan dengan Salat, Wahabi, al-Muchtar, Debat Talqin, al-Burhan, dan al-Jawahir, kepada Tuan Hasan, salah satu Guru Persatuan islam di Bandung. Berawal dari buku Tuan Hasan, Sukarno mulai meneliti tentang seluk-beluk Islam. Ia menelisik lebih jauh tentang agama yang dianut oleh masyarakat Indonesia tersebut. Dari sinilah Sukarno mulai mengkritisi hal-hal yang dilakukan umat Islam di Indonesia.
“Islam harus berani mengejar jaman, bukan seratus tahun, tetapi seribu tahun Islam ketinggalan jaman. Kalau Islam tidak cukup kemampuan buat mengejar seribu tahun itu, niscaya ia akan tetap hina dan mesum. Bukan kembali pada Islam glory yang dulu, bukan kembali pada ‘zaman chalifah’, tetapi lari ke muka, lari mengejar jaman,” kata Sukarno dalam salah satu bagian di buku tersebut.
“Itulah satu-satunya jalan buat menjadi gilang gemilang kembali. Kenapa toch kita selamanya dapat ajaran, bahwa kita harus mengkopi ‘zaman chalifah’ yang dulu-dulu? Sekarang toch tahun 1936 dan bukan tahun 700 atau 800 atau 900?” lanjutnya.
Baca Juga
Guntur Soekarnoputra: Puisi Sukmawati Pendapat Pribadi
Guruh Soekarnoputra Temui Jokowi Bahas Museum Bung Karno
Geger Puisi Sukmawati yang Singgung Azan Kalah Merdu dari Kidung
Sukarno dan Islam Sontoloyo (2)
Sukarno (Foto: abc.net.au)
Tak hanya itu, Sukarno juga menyuarakan pendapatnya soal Islam yang modern dan rasional. Dalam sebuah surat ia menganjurkan umat Islam untuk mengikuti perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, walaupun bukan produk peradaban Islam.
“Saya sendiri, sebagai seorang terpelajar, barulah mendapat lebih banyak penghargaan kepada Islam, sesudah saya mendapat membaca buku-buku Islam modern dan scientific.” ungkap Sukarno.
“Apa sebab umumnya kaum terpelajar Indonesia tak senang Islam? Sebagian besar, ialah oleh karena Islam tak mau membarengi jaman, karena salahnya orang-orang yang mempropagandakan Islam: mereka kolot, mereka orthodox, mereka anti-pengetahuan dan memang tidak berpengetahuan, takhayul, jumud, menyuruh orang bertaqlid saja, menyuruh orang percaya saja, mesum mbahnya mesum!,” imbuh Sukarno.
Bahkan, Sukarno berani mengungkapkan pendapatnya terkait pemakaian tabir yang berfungsi untuk pembatas antara laki-laki dan perempuan. Menurutnya, tabir adalah salah satu lambang perbudakan, khususnya terhadap kaum perempuan. Pemisahan antara laki-laki dan perempuan seakan menutup persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan.
Dalam tulisannya, Sukarno menganalogikan jika rumah tak ingin dicuri, maka tutuplah pintunya rapat-rapat. Contoh lain, untuk menghindar dari sikap berbohong, jahit saja mulutnya. Tapi, tindakan tersebut terlalu berlebihan. Alangkah baiknya menjaga saja mulut agar terhindar dari sikap berbohong. Sama halnya dengan tabir, Sukarno menyarankan agar jangan saling pandang antara laki-laki dan perempuan, tak perlu berlebihan menggunakan tabir.
Pendapat-pendapat yang dilontarkan Sukarno tersebut juga ia tuangkan dalam bukunya berjudul Islam Sontoloyo.
Sukarno sebagai Presiden RI
Paham Sukarno tentang Islam tak luntur hingga saat ia memimpin Indonesia. Menurut keterangan dari dosen Sejarah di Universitas Indonesia, Abdurrakhman, Sukarno tak memaksakan keislamannya dalam pemerintahan.
“Perkembangan politiknya, konsep-konsep Bung Karno tidak menyandarkan Islam sebagai ideologi. Tidak ingin Islam sebagai dasar negara,” katanya kepada kumparan (kumparan.com), Selasa (3/4).
Sebagai contoh yakni perubahan sila pertama dalam Pancasila. Pada rumusan pertama yang terdapat dalam Piagam Jakarta (Jakarta Charter) 22 Juni 1945, sila tersebut berbunyi “Ketoehanan, dengan kewadjiban mendjalankan sjariat Islam bagi pemeloek-pemeloeknja”.
Akan tetapi, kalimat itu menuai kontra karena dinilai hanya melihat berdasarkan demografis tanpa mempertimbangkan Indonesia sebagai gugusan kepulauan dari Sabang sampai Merauke. Oleh karenanya ketika sidang PPKI, tujuh kata tadi diubah dan berbunyi ‘Ketuhanan yang Maha Esa’.
“Bung Karno sebagai Bapak Bangsa mampu menaungi ideologi beragam walau kadang kala mendapat tantangan dari orang lain. Tapi bisa menghargai orang lain,” kata Abdurrakhman.
Sukarno dan Islam Sontoloyo (3)
Presiden Sukarno (Foto: belajar.kemendikbud.go.id)
Peninggalan keislaman Sukarno
Menurut Abdurrakhman, publik jugs harus mengetahui bahwa Sukarno merupakan orang pertama yang melakukan kegiatan keagamaan di Istana Negara. Tak hanya kegiatan keagamaan, Sukarno lah yang mencetuskan dibangunnya Masjid Baiturrahim, masjid pertama di Istana Negara, pada 1959.
Selain di Tanah Air, sumbangan Sukarno untuk umat Muslim juga terlihat di mancanegara. Salah satunya yakni Rusia.
Mengutip Antara, Sukarno berperan dalam membuka kembali fungsi Masjid Biru yang terletak di Saint Petersburg, Rusia. Kala itu, Masjid Biru dijadikan gudang. Sukarno meminta pada Nikita Khrushchev, Pemimpin Uni Soviet saat itu, untuk mengembalikan fungsi Masjid Biru. Dalam hitungan hari, masjid itu kembali menjadi tempat ibadah.
Begitu pula saat Sukarno melawat ke Mesir pada Juli 1955. Prof. Dr. Syeikh Aly Goumah, Sekretaris Jenderal Haiah Kibaril Ulama –badan khusus di Al Azhar beranggotakan para ulama senior– mengemukakan bahwa Sukarno menyelamatkan Al Azhar dari ancaman penutupan oleh Presiden Mesir kala itu, Gamal Abdel Nasser. Ancaman penutupan itu akibat Nasser melihat gelagat kalangan ulama Al Azhar bergabung dengan Ikhwanul Muslimin untuk merongrong kekuasaannya.
“Presiden Sukarno dari Indonesia mempertanyakan niat Nasser tesebut dan mengatakan, ‘Ya Gamal, kenapa Anda mau menutup Al Azhar? Ya Gamal, Al Azhar itu terlalu penting untuk dunia Islam. Kami mengenal Mesir itu justru karena ada Al Azhar’,” kutip Goumah, dilansir Antara.
“Nasser menjawab, ‘Ya, mau bagaimana lagi?’ Lantas, Sukarno menimpali, ‘Ya Gamal, tidak ada itu istilah penutupan, Anda wajib menata kembali Al Azhar, mendukungnya dan mengembangkannya, bukannya menutup’,” lanjut Goumah.
Akhirnya, Nasser mengamini pandangan Sukarno bahwa Al Azhar dan Mesir ibarat dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan.

sumber: kumparan.com

BACA JUGA:   Program Salam Radio Rabu, 4 Agustus 2021 Pukul 20.00 - 21.00 WIB Program Salam Lentera Kebajikan

News Feed