by

KH Agus Salim Jadi Tokoh Sentral dalam Film Moonrise Over Egypt

Print Friendly, PDF & Email

MENGANGKAT sepenggal sejarah Indonesia, film Moonrise Over Egypt mulai tayang Kamis, 22 Maret 2018. Pahlawan nasional KH Agus Salim menjadi tokoh sentral film yang dibesut Pandu Adiputra itu. Film yang diproduksi Tiga Visi Selara Films tersebut menghadirkan misi delegasi empat tokoh Indonesia agar kemerdekaan Indonesia diakui secara de jure oleh negara Mesir. Dalam durasi sekitar 120 menit, Film Moonrise Over Egypt dikemas penuh intrik karena terdapat pengkhianatan, bumbu drama percintaan, dan perjuangan yang tiada henti.

Film Moonrise Over Egypt mengisahkan tentang empat delegasi yang datang ke Kairo untuk misi diplomatik penting pada 1947. Mereka mencari pengakuan de jure dari pemerintah Mesir atas kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia. Delegasi ini terdiri atas Agus Salim (Pritt Timothy) sebagai pemimpin delegasi, Abdurrachman Baswedan (Vikri Rahmat), Mohammad Rasjidi (Satria Mulia), dan Nasir Sultan Pamuntjak (drh. Ganda).

Misi mereka tak semulus rencana yang diperkirakan. Duta Besar untuk Belanda di Mesir, Willem Van Recteren Limpurg membombardir serangkaian taktik untuk menggagalkan misi Indonesia. Willem didampingi ahli strategi Cornelis Adriaanse melakukan lobi politik terhadap Perdana Menteri Nokrashy. Mereka juga menyusupkan mata-mata ke dalam kelompok delegasi Indonesia. Strategi ini berhasil mempengaruhi Nokrashy sehingga menunda rencana kerjasama bilateral antara Indonesia dan Mesir. Pada kerja sama ini menjadi tanda legitimasi kedaulatan negara Indonesia di kancah internasional.

Penundaan penandatanganan nota kesepakatan tersebut membuat Agus Salim dkk berada dalam keadaan gamang dan tidak pasti di Kairo. Mereka bahkan sempat merasa kekurangan bahan pangan saat penundaan berlangsung.

Situasi semakin memburuk ketika muncul kabar dari Indonesia tentang invasi yang dilakukan tentara sekutu Netherlands-Indies Civil Administration (NICA). Mereka mengepung pulau Jawa dan Madura. Belanda, telah melukai perjanjian Linggarjati dan melancarkan aksinya menguasai wilayah yang tersisa di Republik Indonesia.

Sentimen Islam

Dalam situasi gamang itu, Agus Salim mencoba melakukan pendekatan sentimen Islam dalam diplomasinya kepada Nokrashy. Hal ini untuk meyakinkan tentang nota kesepakatan Indonesia dan Mesir.

Akhirnya Nokrashy melanjutkan proses perencanaan kerjasama Indonesia-Mesir. Tindakan Nokrashy membuat Willem dan Adriaanse geram hingga mengeluarkan strategi pamungkas untuk menggagalkan penandatangan kesepakatan tersebut.

Situasi ini membuat nasib Nokrashy dan Indonesia berada di tangan seorang pemuda Indonesia yang sebelumnya telah dicurigai sebagai pengkhianat. Siapakah dia? Bagaimana misi Agus Salim dkk?

Pada jumpa wartawan di Mercure City Center Jalan Lengkong Kota Bandung, Kamis 22 Maret 2018, Reza Anugerah pemeran Zein Hassan mengungkapkan, Film Moonrise Over Egypt bukan film biopic KH Agus Salim. Namun, tentang perjuangan Indonesia di meja perundingan untuk mendapatkan kedaulatan.

Dua cara Indonesia merdeka

Reza menyebutkan, proses shooting dilakukan di Jakarta dan sekitarnya serta di Mesir. Selama shooting, Reza mendapat pengalaman berkesan yaitu saat mendapat semangat dari keluarga Zain Hassan.

“Di sela reading, saya sempat merasa kurang cocok dengan karakter Hassan karena sulit dan berbeda dari saya sehari-hari. Saya memutuskan untuk istirahat, balik ke Bandung. Tiba-tiba anaknya Bapak Hassan kirim pesan, dia kasih support. Akhirnya saya percaya diri untuk memerankan karakter ini,” tutur Reza.

Sementara Hadil yang berperan sebagai Ahmad Syauket, salah satu putra Agus Salim mengatakan, film Moonrise Over Egypt menjadi bukti kalau kemerdekaan Indonesia diraih dengan dua cara. Cara itu adalah lewat pertempuran dan perundingan. Syauket merupakan putra Agus Salim yang meninggal di medan pertempuran pada 1946 atau satu tahun sebelum Agus Salim berangkat ke Mesir.

“Berjuang di meja diplomasi tidak mudah. Film ini terinspirasi dari kisah nyata yang diharapkan dapat membuka wawasan generasi sekarang. Jujur, bermain film sejarah ada beban moral yang harus dipertanggungjawabkan,” ungkap Hadil. ***

Editor: Windy Eka Pramudya

sumber: pikiran-rakyat.com

News Feed