by

Syarikat Islam Temui Kapolri, Klarifikasi Pidato soal NU-Muhammadiyah

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

Jakarta – DPP Syarikat Islam mendatangi rumah dinas Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Syarikat Islam bermaksud mengklarifikasi pernyataan Kapolri tentang perintah kepada polisi untuk bersinergi dengan NU dan Muhammadiyah ‘saja’. Syarikat Islam pun mendapatkan gambaran yang sebenarnya dari Tito.

Pidato yang disampaikan Tito itu jadi viral di media sosial. Tito menyampaikan hal tersebut saat menghadiri suatu acara dan terekam di salah satu stasiun TV swasta.

Video yang jadi viral itu mengambil salah satu penggalan pernyataan Tito dalam pidato mengenai perintah kepada polisi untuk bersinergi dengan ormas Muhammadiyah dan NU. Karena hanya dua ormas itu, kata Tito dalam video tersebut, yang merupakan pendiri negara.

Ketua DPP Syarikat Islam Hamdan Zoelva memimpin langsung pertemuan tersebut. Pertemuan dilakukan secara tertutup.

Dalam pertemuan itu, Hamdan menanyakan soal kronologi pernyataan Kapolri yang jadi viral. Kepada Hamdan, Tito menyebut pidato itu disampaikan pada Februari 2017 di pondok pesantren asuhan Kiai Maruf Amin.

BACA JUGA:   Pimpinan Wilayah Syarikat Islam Sulut mengucapkan Dirgahayu Indonesia ke-75 Tahun

“Tadi kami sudah minta klarifikasi dari Kapolri, tentang pernyataan itu dan menyampaikan kronologinya cerita yang cukup lengkap tentang bagaimana pernyataan itu sebenarnya. Pertama, pernyataan itu disampaikan di pondok pesantren KH Maruf Amin, dalam sebuah acara internal dari NU pada Februari 2017,” ujar Hamdan di Jalan Pattimura, Kebayoran Baru, Jaksel, Rabu (31/1/2018).

Selanjutnya, Hamdan mengatakan pernyataan mantan Kapolda Metro Jaya itu telah dipotong-potong. Alhasil, makna yang ingin disampaikan tak utuh.

“Kedua, sebenarnya pidato Kapolri berlangsung selama 26 menit dan yang menjadi viral itu adalah bagian pidato yang menurut keterangan Kapolri tidak sesuai dengan jiwa dan inti yang disampaikan dalam pidato itu. Karena itu, pidato itu adalah terpotong-potong sebagiannya sehingga menghilangkan seluruh rangkaian cerita pidato yang pada saat itu dihilangkan,” tuturnya.

BACA JUGA:   17 September 2020 Program Salam Lentera Kebajikan Jelang Majelis Tahkim 41 Syarikat Islam Bersama Ir. H. Achmad Farial

Mendengar penjelasan Tito, Hamdan merasa tercerahkan. Kata Hamdan, Tito tak bermaksud mendiskreditkan organisasi umat Islam yang lain.

“Kami dari Syarikat Islam dengan penjelasan yang lengkap dan dengan diskusi yang sangat hangat. Kami terus terang saja dengan melihat video tersebut, dengan protes yang sangat keras saat melihat video. Kami sampaikan. Ini adalah hal yang tidak benar tetapi dengan mendapat penjelasan itu. Kami bisa memahami tidak ada niat sama sekali seperti disampaikan oleh beliau,” imbuhnya.

“Untuk mengesampingkan ormas-ormas yang lain dan untuk menyatakan ormas lain itu merontokkan negara. Sama sekali tidak,” sambungnya.

Sebelumnya, pidato Tito ramai dibagikan di media sosial. Dalam video tersebut, Tito memerintahkan jajarannya untuk bersinergi dengan dua organisasi islam di Indonesia, yaitu NU dan Muhammadiyah. Alasannya, organisasi itu adalah pendiri negara.
(knv/fjp)

sumber: detik.com

News Feed