by

Ada yang Potong Video Kapolri soal Prioritaskan NU-Muhammadiyah

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

Pernyataan Kapolri Jenderal Tito Karnavian terkait prioritas untuk kedua ormas Islam, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, menuai reaksi banyak pihak. Tito dianggap hanya mementingkan dua ormas, sehingga menyudutkan ormas Islam lainnya.

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Kiai Ma’ruf Amin sudah meluruskan persoalan tersebut. Ma’ruf menjelaskan, saat itu, konteks ucapan Tito untuk menghadapi isu radikalisme dan khilafah yang sedang gencar di awal 2017.

Peristiwa ini terjadi saat Tito berpidato dalam acara ‘Silaturahmi dan Dialog Kebangsaan dan Ulama PBNU dengan Jajaran Polri’ di Serang, Banten, 8 Februari 2017. Namun, pidato tersebut baru beredar luas beberapa minggu ini.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Muhammad Iqbal menuturkan, Tito tidak berniat untuk menyudutkan kelompok Islam selain NU dan Muhammadiyah.

Hamdan Zoelva di rumah dinas Kapolri. (Foto: Aria Pradana/kumparan)

“Pak Kapolri, tenang saja. Bukan hanya Hamdan Zoelva, Kiai Ma’ruf Amin dan lain-lain, nanti akan bersilaturahmi untuk melakukan persiapan pengamanan pesta demokrasi. Jangan sampai hal ini menjadi senjata bagi kelompok-kelompok yang ingin mengacaukan,” ujar Iqbal di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (31/1).

Sebelumnya, ormas Syarikat Islam yang dipimpin oleh Hamdan Zoelva, telah mendatangi Tito untuk mengklarifikasi video tersebut. Dalam pertemuan itu, Tito sudah menjelaskan kepada Perwakilan Syarikat Islam.

“Saya sampaikan Pak Kapolri tenang-tenang, terus tidak ada reaksi yang reaktif, enggak ada. Beliau bahkan bersilahturahmi karena memang orang-orang benar, orang jujur, tidak akan ada apa-apa. Bersilahturahmi, menyampaikan hal yang baik, mengklarifikasi,” sambungnya.

Iqbal juga meyakini, video yang beredar luas itu, banyak yang durasinya terpotong. Padahal, kata Iqbal, saat itu Tito sedang memotivasi dan menyampaikan seluruh jajarannya, untuk memperkuat tali silaturahmi kepada semua ormas Islam.

BACA JUGA:   PAC Syarikat Islam Kecamatan Wanadadi mengucapkan Selamat Tahun Hijriyah 1 Muharram 1442 H
Brigjen Pol M. Iqbal (Foto: Aria Pradana/kumparan)

“Dipotong (videonya), didempetkan. itu adalah kontennya yang dipotong. Konteksnya pada waktu itu pada Februari 2017 itu kan lagi hangat-hangatnya situasi Pilkada DKI. Tidak ada satupun, kecuali ada kelompok-kelompok yang ingin merongrong NKRI. Kita semua sepakat itu, dan Alhamdulillah sudah disampaikan dan sudah rilis juga,” tuturnya.

Iqbal mengaku pihaknya belum memikirkan untuk menindaklanjuti kasus ini, dengan memburu orang-oang yang sengaja memotong video tersebut. Saat ini, Polri akan bersilaturahmi terlebih dahulu dengan seluruh ormas Islam.

“Contohnya dari Syarikat Islam yang dipimpin oleh ketua umumnya Pak Hamdan Zoelva siang hari ini untuk menyampaikan hal-hal benar. Bahwa silaturahmi ini kan positif,” ujar Iqbal.

Berikut potongan pernyataan Tito yang beredar:

“…boleh beda pendapat, tapi kalau bicara NKRI, Polri dan TNI harus jadi satu, kalau bicara NKRI harus jadi satu, enggak boleh tawar-menawar, kalau bicara NU-Muhammadiyah kadang-kadang mungkin beda pendapat, tapi kalau sudah bicara NKRI, NU dan Muhammadiyah harus jadi satu.

Demikian juga nasionalis, nasionalis boleh bertarung secara sehat untuk mendapatkan kekuasaan politik, tapi kalau bicara NKRI, mereka juga harus ikut dalam barisan kita, barisan Polri, TNI, ulama, mereka harus ikut juga.

Nah, untuk itulah, saya berhadap banyak kepada NU secara internal, saya mohon supaya jauh lebih solid, boleh ada perbedaan di manapun juga dalam satu organisasi, pasti ada klik itu biasa, klik sana, klik sini, itu biasa, di manapun juga, di kantor, di rumahpun ada klik kadang-kadang. Anak kita yang satu ikut ibunya, yang satu lagi maunya ke bapaknya biasa, tapi kalau sudah bicara rumah tangga ke dalam ke luar, semua harus jadi satu.

Nah, saya berharap NU makin solid, kalau NU solid, keluar, maka di bawahnya lagi tidak akan diambil orang, anak-anaknya.

Nah, dalam kaitan ini, saya pertama menawarkan kerja sama mungkin yang lebih sistematis, strategis, antara NU dan Polri. Kami siap untuk bekerja sama baik di tingkat strategis, kebijakan kita bikin MoU apa yang bisa kita kerjakan bersama, kami siap, di tingkat operasional sudah saya perintahkan.

Perintah saya melalui video conference minggu lalu, Rapim Polri, semua pimpinan Polri hadir, saya sampaikan tegas terhadap situasi saat ini, perkuat NU dan Muhammadiyah, dukung mereka maksimal. Semua kapolda saya wajibkan membangun hubungan NU dan Muhammadiyah tingkat provinsi, semua kapolres wajib membuat kegiatan untuk memperkuat para pengurus cabang di tingkat kabupaten/kota.

Para kapolsek wajib untuk di tingkat kecamatan bersinergi dengan NU dan Muhammadiyah, jangan dengan yang lain. Dengan yang lain tuh nomor sekian, mereka bukan pendiri negara. Mau merontokkan negara malah iya.

Tapi yang sudah konsisten dari awal sampai hari ini itu adalah NU dan Muhammadiyah, termasuk hubungan antara NU dan Muhammadiyah juga bisa saling kompak satu dengan lainnya.

sumber: kumparan.com

BACA JUGA:   Para Tokoh Pengkaji Islam Gelar Webinar Renungan HUT RI

News Feed