by

Arief Hidayat, Profesor Undip yang Disetujui DPR Jadi Hakim MK Lagi

Print Friendly, PDF & Email

Komisi III DPR akhirnya menyetujui Arief Hidayat sebagai hakim Mahkamah Konstitusi (MK) di periode kedua, setelah melalui uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di gedung DPR siang tadi.

Uji kelayakan itu dianggap janggal oleh Wakil Ketua Komisi III Desmond Junaidi Mahesa. Dia menilai fit and proper test ini digelar terlalu dini, sebab masa jabatan Arief baru akan habis pada 1 April 2018.

Desmond justru menduga, Arief melakukan lobi politik kepada anggota DPR agar kembali dicalonkan sebagai hakim MK. Ia juga menyebut uji kelayakan itu terkait judicial review UU MD3 yang sedang diuji MK soal keabsahan Pansus Hak Angket KPK.

Terlepas dari beragam perdebatan yang muncul soal fit and proper test yang dijalani Arief Hidayat, mari membaca lebih jauh soal profil Arief Hidayat dirangkum kumparan (kumparan.com), Rabu (6/12).

Arief Hidayat lahir di Semarang, 3 Februari 1956. Bapak dua anak yang mengenyam pendidikan dasar hingga perguruan tinggi di kota lumpia itu. Dia lulus dari Fakultas Hukum Universitas Diponegoro pada tahun 1983.

Arief mengawali kariernya di bidang hukum dengan menjadi staf pengajar di Fakultas Hukum Undip, tak lama setelah ia lulus sebagai sarjana. Ia lalu melanjutkan pendidikan pascasarjana dengan bidang studi yang sama di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya pada tahun 1984, dan kembali menempuh Program Doktor Ilmu Hukum Undip pada tahun 2006.

Karier Arief sebagai pengajar terus menanjak, hingga ia menjadi guru besar Falkultas Hukum Undip pada 2008. Bidang keahliannya meliputi hukum tata negara, hukum dan politik, hukum dan perundang-undangan, serta hukum lingkungan dan hukum perikanan.

BACA JUGA:   Politikus PKS hingga Eks Ketua MK Masuk Kepengurusan Baru MUI

Ketua MK Arief Hidayat. (Foto: Aprilandika Pratama/kumparan)
Tertarik dengan Kasus Hukum Sejak Muda

Kehidupan pribadi Arief rupanya tak jauh-jauh dari ‘nuansa’ Ilmu Hukum. Istrinya, Tundjung Herning Sitabuana, adalah Lektor Kepala Fakultas Hukum Universitas Semarang.

Anak pertamanya, Adya Paramita Prabandari, juga bekerja sebagai salah seorang dosen bagian Hukum Internasional di Fakultas Hukum Undip. Putra keduanya, Airlangga Surya Nagara, juga telah menamatkan pendidikan sarjana hukum dan master hukum.

Arief mengaku memang selalu tertarik dengan kasus-kasus penegakan hukum sejak masih berstatus pelajar. Hal itulah yang melatarbelakangi Arief konsisten menempuh pendidikan di bidang hukum.

“Saya selalu tertarik pada kasus-kasus penegakan hukum terutama karena saat itu masih ada rezim otoriter. Nama-nama seperti Yap Thiam Hien, Suardi Tasrif dan Adnan Buyung menginspirasi saya untuk kuliah fakultas hukum,” ujar Arief seperti dilansir website mahkamahkonstitusi.go.id.

Aktif Organisasi dan Menulis

Selain aktif mengajar, Arief juga terlibat aktif dalam sejumlah organisasi. Ia menjadi Ketua Asosiasi Pengajar HTN-HAN Jawa Tengah, Ketua Pusat Studi Hukum Demokrasi dan Konstitusi, Ketua Asosiasi Pengajar dan Peminat Hukum Berperspektif Gender Indonesia, serta Ketua Pusat Studi Hukum Lingkungan.

Kegemarannya berorganisasi tampak sejak ia masih berstatus mahasiswa. Arief muda merupakan salah seorang aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).

Tak hanya itu, Arief yang hobi menulis ini telah menelurkan lebih dari 25 karya ilmiah, dalam kurun waktu lima tahun terakhir, baik berupa buku maupun makalah.

BACA JUGA:   Hamdan Zoelva Siap Jadi Ketum

Puluhan tahun mengabdi sebagai pendidik di Undip, Arief terpilih sebagai hakim konstitusi menggantikan Mahfud MD pada 4 Maret 2013 melalui pemilihan di Komisi III DPR. Ia resmi dilantik menjadi Hakim Konstitusi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 1 April 2013.

Guru Besar Ilmu Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Undip itu mengaku, tak pernah sekalipun terlintas dalam pikirannya untuk duduk sebagai seorang hakim konstitusi. Sedari kecil, ia hanya memiliki satu cita-cita, yakni menjadi seorang pengajar.

Puncak kariernya di MK terjadi pada awal tahun 2015, Arief resmi menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi RI pada tanggal 14 Januari 2015, menggantikan Hamdan Zoelva yang sudah habis masa jabatannya.

“Hakim saja bonus, apalagi sekarang (menjadi ketua) yang tidak saya bayangkan sama sekali sekali. Saya dulunya bercita-cita menjadi dosen, satu pekerjaan yang sangat menarik, tetapi ternyata Allah SWT diberi amanah untuk di sini,” ucap Arief.

Arief memimpin MK pada 2015 hingga April 2018. Namun, sebelum dia masa baktinya berakhir, dia tiba-tiba menjalani fit and proper test hari ini untuk menjadi hakim MK pada periode berikutnya.

“Saya akan menjaga konstitusi NKRI sebaik-baiknya dan seluruhnya. Untuk itu saya mohon kritik dan saran dari rekan-rekan supaya saya bisa menjalankan amanah ini. Semoga Allah memberikan yang terbaik,” ujar Arief setelah disetujui menjadi hakim MK lagi.

sumber: kumparan.com

News Feed