by

Sarekat Islam dan Gagasan Pan Islamisme

Print Friendly, PDF & Email

Arti dari Pan Islamisme sesungguhnya
Sarikat Islam (SI) atau pada awalnya Serikat Dagang Islam (SDI) merupakan pelopor gerakan nasional Indonesia yang paling awal. Sebagai gerakan masif yang menentang kolonialisme, SI menghimpun kekuatan sosial yang bersifat transprimodial, multietnik, dan ideologis. Kepeloporan SI dalam gerAkan nasional dan kontribusinya yang signifikan membuktikan bahwa SI merupakan pelopor pergerakan nasional Indonesia yang paling awal, dan bukan organisasi lain, misalnya Budi Utomo yang sangat bersifat “Jawa Sentris” (Subekti, 2014:1)
Selama ini SI selalu lekat dengan sebutan organisasi pan islamisme pertama yang menentang kolonialisme di Hindia Belanda dengan pondasi berbasis islam. Lalu apakah sebenarnya semangat pan islamisme itu muncul? Dan dari mana asalnya?
Pengertian Pan Islamisme secara klasik adalah penyatuan seluruh dunia Islam di bawah satu kekuasaan politik dan agama yang di kepalai seorang kholifah. Secara modern dapat diartikan bahwa kepemipinan khalifah tersebut hanya meliputi bidang agama.
Pada masa Usmani muda, Turki berusaha menggunakan Pan-Islam untuk menyatukan seluruh umat Islam di bawah kesultanan Usmani. Usaha ini cepat menarik perhatian Asia Afrika yang pada waktu itu hampir seluruhnya sedang di jajah oleh Barat.
Ide Pan Islam ini akan memanfaatkan kemajuan Barat dan meyesuaikanya dengan ajaran Islam. Meskipun demikian, Pan Islam dalam pengertian ini tetap dianggap berbahaya oleh negara-negara penjajah, karena bisa membangkitkan perlawanan bangsa-bangsa Islam yang dikuasainya.
Berkembangnya Pan Islamisme pada awalnya berasal dari gagasan Jamaluddin al-Afghani (1839-1897). Jamaluddin al-Afghani adalah seorang pemimpin pembaharuan dalam Islam yang tempat tinggal dan aktivitasnya berpindah dari satu negara Islam ke negara Islam yang lain.
Pendidikannya sejak kecil sudah diajarkan mengkaji al-Qur’an dari ayahnya sendiri, setelah itu belajar bahasa Arab dan Sejarah. kemudian ia dikirim ke India untuk mempelajari ilmu pengetahuan modern (Barat).
Karena India masih juga dikuasai Inggris, perjalannya pun berpindah ke Mesir pada 1971. Selama di Mesir Ia memusatkan perhatiannya kepada kajian-kajian ilmiah, dengan meberikan kuliah umum, ceramah dan diskusi.
Murid-muridnya kebayakan dari kalangan mahasiswa, dosen, pejabat hukum dan pejabat pemerintahan. Di Mesir inilah ia mengembangkan teori-teori pembaharuan yang kemudian di kenal sebagai Pan Islamisme.
Gagasan pemikirannya ini secara cepat menyebar ke seluruh Mesir. Pengebaraannya kemesir berhasil menghimpun kekuatan politik dengan pendirikan Partai Nasional Mesir (Al-Hizb Al-Wathani), yang salah satu usahanya adalah menggulingkan Khedewi Isma’il dan digantikan Khedewi Taufiq.
Pada 1892 ia di undang oleh Sultan Abdul Hamid di Istambul Turki untuk ikut urun rembuk dalam menghadapi kekuatan barat yang semakin merajalela.
Perbedaan pendapat ketika al-Afghani yang dikenal sebagai tokoh demokrat, menganjurkan sistem suara dalam pemerintahan, sementara Sultan Abdul Hamid sejak dulu adalah pemimpin yang diktator yang lebih mementingkan kelenggan kekuasaan. Perselisihan ini membuat al-Afghani dibatasi pengaruhnya, tidak boleh meninggalkan Turki, hingga ia meninggal tahun 1897 di Istambul.
Semangat pan Islamisme yang terjadi tersebut akhirnya berhasil masuk melalui tokoh-tokoh islam progresif yang secara garis keras menentang adanya kolonialisme oleh Barat, maka muncullah Sarekat Islam yang menjadi pelopornya pada waktu itu adalah Haji Samanhoedi (1868-1956) yang resmi berdiri pada 16 Oktober 1905 di Surakarta.
Sarekat Islam dan Gagasan Pan Islamisme
sumber : Miftahul Jannah, Politik Hindia Belanda Terhadap Umat Islam Di Indonesia, Skripsi UIN Sunan Ampel Surabaya, 2014

sumber: kumparan.com

BACA JUGA:   Rekrutmen Guru YPI Cokroaminoto 2021

News Feed