by

Syarikat Islam Kecam Persekusi Terhadap Rohingya

Bagikan:
Print Friendly, PDF & Email

TEMPO.COJakarta – Pimpinan Pusat Syarikat Islam mengutuk keras persekusi negara Myanmar atas etnis Rohingya. Perbuatan tersebut dinilai telah melanggar komitmen internasional tentang perlindungan hak asasi manusia dan jaminan kehidupan yang damai dan berkeadilan bagi etnis Rohingya.

Ketua Umum PP Syarikat Islam Hamdan Zoelva mengatakan tragedi Rohingya ini patut dianggap sebagai tragedi kemanusiaan yang amat layak disayangkan. “Sesungguhnya Myanmar telah memperlihatkan tiga ironi besar dalam kasus Rohingnya sekaligus,” kata dia dalam keterangannya, Ahad 3 September 2017.

Ironi pertama, yakni penghargaan internasional berupa hadiah Nobel Perdamaian terhadap perjuangan HAM tokoh oposisi yang kini menjadi pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi. “Nobel perdamaian itu adalah hal yang bertentangan dengan semangat politik pemerintah Myanmar yang melakukan persekusi terhadap etnis Rohingnya,” kata Hamdan.

BACA JUGA:   20 Agustus 2020 Program Salam Indonesia Bisa Penyejuk Hati bersama Prof. Ahmad Thib Raya

Ironi kedua adalah komitmen internasional tentang pembangunan menyeluruh dan berkelanjutan yang berbeda secara diametral dengan sikap pemerintah Myanmar terhadap warga negaranya. “Penderitaan akibat persekusi di bawah simbol negara tersebut adalah ironi besar di tengah gencarnya gerakan internasional untuk mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs),” ujar Hamdan.

Yang terakhir, kata Hamdan, adalah ironi historis bahwa Myanmar adalah satu-satunya negara di Asia Tenggara yang tokohnya pernah menjadi Sekretaris Jenderal Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. “Seharusnya ini menjadi modal historis dan politis bagi Myanmar untuk tampil paling depan menjadi pelopor perdamaian dan keamanan dunia,” ujarnya.

BACA JUGA:   Paska Penetapan Hendra Cipta, Syarikat Islam Sumut Gelar Konsolidasi Perdana

Tragedi Rohingya kembali pecah sejak 25 Agustus 2017 lalu. Sejak saat itu, hampir 45.000 warga Rohingya melarikan diri dari kampung halamannya menuju perbatasan Bangladesh. Tak kurang dari 98 orang tewas dalam bentrok yang melibatkan pemberontak Rohingya dan militer Myanmar.

NINIS CHAIRUNNISA

sumber: tempo.co

News Feed