by

Wapres JK: Pendiri Nahdlatul Wathan Layak Dapat Gelar Pahlawan Nasional

Print Friendly, PDF & Email

Jakarta, GATRAnews – Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) menilai tokoh ulama kharismatik Tuan Guru Kyai Haji Muhammād Zainuddīn Abdul Madjīd pantas diberi gelar kepahlawanan karena semasa hidupnya menjadi teladan dan usaha-usahanya dapat dikenang hingga saat ini.

“Kita merasakan apa yang telah dilakukan Tuang Guru Maulana al-Syaikh tidak kurang seperti apa yang dilakukan oleh pahlawan-pahlawan sebelumnya,” kata Wapres Jusuf Kalla ketika membuka seminar nasional dari Nahdlatul Wathan untuk Indonesia: Jejak Perjuangan Tuan Guru K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid 1904-1997 di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu (5/4).

Wapres mengatakan pemberian gelar pahlawan nasional itu tentu ada syarat-syarat diantaranya bahwa tidak tercela, dan tentu Tuan Guru ini tidak pernah terdengar ada cela hingga akhir ayat hidupnya.

 

“Saya yakin beliau tidak pernah terdengar dalam sejarahnya melakukan perbuatan tercela dan syarat lainnya, termasuk mempunyai perjuangan menggerakkan masyarakat, dampak nasional dan konsistennya. Ini dapat dibahas dalam pembicaraan ini,” katanya.

Wapres menyebutkan bahwa sudah 169 pahlawan nasional yang ada dan tersebar di beberapa daerah misalnya di Bali ada 5 pahlawan nasional, NTT 1 orang, Sulawesi Selatan 12.

BACA JUGA:   Bukan Cuma Anies, Polisi Juga Bakal Panggil Ridwan Kamil Buntut Kerumunan Massa Habib Rizieq

 

“NTB minta maaf baru diusulkan. Padahal perjuangan NTB tidak kurang dengan daerah lainnya. Ini masalah adminitrasi yang dibutuhkan dan perlu lebih lengkap lagi,” kata Wapres.

Ada beragam tokoh ulama yang telah mendapatkan gelar pahlawan nasional seperti Buya Hamka, Hasbullah. Ahmad Dahlan dan istrinya Wahidah, Baharuddin, Hasyim Asyari, Natsir, Wahid Hasyim.

 

“Indonesia kaya akan ulama dengan beragam gelar di daerahnya, seperti Tuan Guru di NTB, di Jawa Kiyai Haji, di Jawa Barat Anjengan, Sumatera Barat Buya, Sulawesi Selatan Anre Gurutta. Semua itu satu makna yakni orang yang mempunyai ilmu yang patut diteladani. Apalagi yang ini lebih lengkap Maulana Syeikh yang diperoleh gelar dari Arab Saudi dan Kiyai Haji dari Jawa. Lengkaplah, patutlah dihargai sebagai pencapaian apa yang telah diberikan,” katanya.

Sementara itu, Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Tuan Guru H Muhammad Zainul Majdi mengatakan bahwa semasa hidup almarhum Maulana al-Syekh perjuangan keislaman dan ke-Indonesia merupakan satu kesatuan dalam satu tarikan nafas.

 

“Semua perjuangan dari awal mencerminkan kesatuan ke-Indonesian dan ke-Islaman untuk kita Indonesia. Maka sebelum mendirikan organisasi Nahdlatul Wathan ketika kembali dari Mekah, melakukan konsolidir semangat juang sebelum Indonesia diberikan kemerdekaan denagn membangun pusat perjuangan dengan nama Mushollah Al-Mujahidin menggembleng santri-santri beliau,” katanya.

BACA JUGA:   Lembaga Think Tank BS Center Siap Launching

Zainul Majdi menyebut dirinya merupakan salah satu dari ratusan ribu santri yang pernah belajar dari almarhum Maulana al-Syaikh . “Ada waktu di mana saya dapat langsung mengaji kepada beliau,” katanya.

Semasa hidup  almarhum Maulana al-Syaikh, kata Zainul Majdi, semangat kebangsaan terus menerus ditanamkan kepada semua murid-muridnya, masyarakat di Nusa Tengggara Barat. Sehingga, lanjutnya, bagi Nahdlatul Wathan antara ke-Islaman dan kebangsaan itu sudah selesai dan tidak ada diskusi setelahnya.

 

“Tidak pernah ada lagi perdebatan karena sejak awal ditanamkan bahwa ke-Islaman dan Ke-Indonesiaan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan,” katanya.

 

Dalam seminar ini hadir, wakil ketua DPR, Fahri Hamzah, wakil ketua DPD Farouk Muhammad, mantan ketua MK, Hamdan Zoelva, Rektor UNJ Prof Dr Jaali.


Reporter: Anthony Djafar

Editor: Dani Hamdani


Editor: Anthony Djafar
sumber: gatra.com

News Feed