by

Manfaatkan Media Massa, Cerdiknya HOS Tjokroaminoto Melawan Kolonial Belanda

Print Friendly, PDF & Email

DUNIA pers begitu akrab dengan HOS Tjokroaminoto. Melalui kecerdikannya, ia memanfaatkan media massa untuk melawan kolonial Belanda.

Kiprah pria kelahiran Bakur, Madiun, 16 Agustus 1882, itu dalam dunia pers tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia sukses menakhodai beberapa surat kabar yang sukses di masanya.

Dengan memanfaatkan media massa, Tjokroaminto membuat pemerintah kolonial Belanda tidak berkutik dalam melancarkan aksinya. Apalagi, ia juga dikenal jago berorasi, propaganda, dan membakar emosi massa. Tjokroaminto mampu menghipnotis massa dengan suara baritonya. Lengkap sudah kemampuannya untuk melawan kolonial.

Ya, kecerdikannya sudah ditampakkannya sejak ia bergabung dengan Oetoesan Hindia untuk kali pertama. Saat itu, 1912, Hasan Ali Soerati, pedagang keturunan Arab mendirikan Setia Usaha, sebuah perkumpulan pedagang di Surabaya.

Banyak anggota perkumpulan yang terdiri dari pedagang Arab di Bumiputera terlibat di Sarekat Islam Surabaya. Sebagaimana afdeling-afdeling lain di Jawa, Sarekat Islam Surabaya menerbitkan Oetoesan Hindia pada Desember 1912.

Untuk mendukung penerbitan Oetoesan Hindia, Hasan Ali Soerati meminta Tjipto Mangoenkoesoemo memimpin Oetoesan Hindia. Tjipto menolak tawaran Ali.

Tjipto harus ke Bandung. Di sana, Tjipto bersama Suwardi Suryaningrat menerbitkan De Expres. Maka diangkatlah Tjokroaminoto sebagai hoofdredacteur.

Guna mendampingi Tjokroaminoto yang belum berpengalaman dalam jurnalistik, Hasan Ali Soerati menunjuk Tirtodanudjo sebagai mede-redacteur (redaktur). Tirtodanudjo adalah mantan redaktur utama Sinar Djawa dan pegawai Volkslectuur (lembaga pemerintah kolonial yang bertugas menerbitkan buku-buku bagi pribumi dan mengawasi surat kabar pribumi, China, serta Melayu).

BACA JUGA:   Bakti Sosial Khitanan Masal Santunan Anak Yatim dan Dhuafa PAC SI Arjasari,YPI, Ponpes Darul Fallah dan Pemerintah Desa Pinggirsari Kecamatan Arjasari Kabupaten Bandung

Kekuasaan penuh Tjokroaminoto di SI Surabaya berdampak besar pada Oetoesan Hindia. Agustus 1913, Hasan Ali Soerati dan beberapa orang yang mendukungnya dipaksa mundur dari Setija Oesaha. Saham miliki Hasan Ali Soerati pun dibeli Tjokroaminoto.

Ia mendapat dukungan dan bantuan finansial dari anggota yang anti-Hasan Ali Soerati. Maka sejak itu, secara de facto Tjokroaminoto resmi menjadi direktur Setija Oesaha, induk Oetoesan Hindia.

Dalam kisah berbeda, ada yang menarik juga dari kejadian antara Tjokroaminoto dengan Marthodharsono, tepatnya pada 11 Januari 1918. Djawi Hiswara, asuhan Martodharsono, memuat tulisan Djojodikoro. Kalimat kontroversial muncul di tulisan Djojodikoro: “Sebab Goesti Kandjeng Nabi Rasoel itoe minoem tjioe A.V.H dan monoem madat, kadang kle’le’t djoega soeka…”

Sebulan setelah peristiwa itu, di Solo nyaris tidak ada protes, kecuali pada 30 Januari 1918, Abikoesno Tjokorosoejoso memprotes tulisan tersebut di Oetoesan Hindia. Koran terbitan Surabaya itu milik Tjokroaminoto. Sedangkan Abikoesno adalah adiknya.

Tjokroaminoto melalui Oetoesan Hindia menyebarkan isu keisengan Martodharsono tersebut. Oetosan Hindia meminta kepada seluruh koran di Hindia Belanda untuk memprotes Abikoesno itu, sekaligus mengecam Marthodharsono dan Djojodikoro.

Umat Islam di Jawa dan Sumatera tergerak. Geger pun dimulai. Di Surabaya, pada 6 Februari 1918, Tjokroaminoto membentuk Tentara Kandjeng Nabi Muhammad (TKNM). Dalam pembentukan TKNM tersebut, Tjokroaminoto berhasil mengumpulkan dana lebih dari 3 ribu gulden.

Tjokro sukses. Pada 24 Februari 1918, hampir seluruh Jawa dan sebagian Sumatera membentuk TKNM. Lebih dari 10 ribu gulden terkumpul. Umat Islam di Hindia siap melawan pelecehan yang dilakukan Martodharsono.

BACA JUGA:   Penyerahan Bantuan Pakaian Seragam dari DPP Syarikat Islam kepada SMA dan SMP Cokroaminoto Makassar, 14 September 2021

Matikah Martodharsono? Sampai Maret 1918, Djawi Hiswara tetap terbit. Martodharso kepalanya masih utuh. Justru Misbach, pemimpin redaksi Medan Moeslimin dan Islam Bergerak yang marah-marah. Tjokro dianggapnya tak serius. Sebab, sebulan penuh tak ada tindakan yang diambil Tjokro.

Apa yang sebenarnya diinginkan Tjokro? Tepat 6 Maret 1918 Tjokroaminoto, anggota Volksraad dan ketua CSI, melalui Oetoesan Hindia mengumumkan pencalonannya sebagai Lid Volksraad. Seluruh cabang SI diberi dua pilihan: mufakat atau tidak. Sejak itu, Oetoesan Hindia memberitakan reaksi dari pelbagai cabang-cabang SI di Jawa.

Tanggapan final pun diumumkan. Pengumuman tersebut langsung disampaikan oleh Tjokroaminoto di Oetoesan Hindia edisi 20 Maret 1918. Hasil finalnya dari 58 cabang SI yang diakui CSI, 28 cabang mufakat, 26 tidak mufakat, satu blanko kosong, dan tiga suara tidak berlaku.

“Soeara terbanyak moefakatlah adanja,” kata Tjokroaminoto.

Esok pagi, suratnya kepada Gubernur Jenderal Graaf van Limburg Stirum dimuat Oetoesan Hindia. Dalam surat tersebut, ia memaparkan sejumlah cabang Sarekat Islam di Hindia Belanda yang mendukung TKNM. Tjokroaminoto juga menjabarkan ratusan ribu orang yang menghadiri dan menyepakati berdirinya TNKM di bawah komandonya. Pendek kata, Tjokro mengumumkan kekuasaannya di depan Gubernur Jenderal di Buitenzorg. Demikian disarikan dari buku ‘Tanah Air Bahasa, Seratus Jejak Pers Indonesia’.

(tty)

sumber: okezone.com

News Feed